Dalam ruangan yang pencahayaannya kurang, sprei menggumpal di atas kasur yang digelar di atas lantai papan yang berlapiskan tikar plastik, sebuah kipas angin yang baling-balingnya berputar menyebarkan udara dalam ruangan itu. Bambang bersandar pada dinding tepat di sisi kiri jalan keluar loteng. Kedua telinganya mendengar suara langkah kaki dari arah bawah loteng, dan suara langkah itu terdengar menuju ke arah ruang dapur.
"Kayaknya si nenek sihir itu udah pergi deh," gumam Bambang sembari menggerakkan kepalanya naik turun pelan. Detik berikutnya, ia menengok ke kanan, mengintip melalui jalan keluar loteng dan menatap tepat ke arah bawah. Ia melihat Rudi sendirian duduk pada sofa di ruang depan rumah kediamannya dan tampak sedang mengutak-atik smartphone. Setelah mengetahui bahwa Nanda tidak bersama Rudi, Bambang segera melepas pakaian milik Rudi yang ia kenakan dan menggantinya dengan pakaian miliknya sendiri.
Bambang beranjak berdiri dan melangkah turun melalui tangga dengan membawa gumpalan sweater bercampur celana denim untuk mendatangi Rudi.
"Ini Rud, baju kamu," ucap Bambang sambil mengulurkan kedua tangannya yang memegang segumpal pakaian ke arah Rudi.
Rudi langsung mengangkat wajahnya dan menatap Bambang yang mengulurkan tangan dengan memegang gumpalan sweater bercampur celana denim miliknya. Rudi menggeleng pelan sambil memaksakan gerakan bibirnya untuk terkembang, "Nggak usah dikembalikan, Mbang, ..." ucap Rudi masih dengan senyum yang dipaksakan menatap ke arah Bambang, "... Sweater sama celana itu buat loe aja, simpan."
"Beneran?" tanya Bambang memastikan sambil mengembangkan bibirnya lebar.
"Iya, ..." Rudi mengangguk pasti, "... Buat loe aja, tapi besok loe wajib datang ke acara resepsi perkawinan gue ya," ucap Rudi.
"Hah, besok?" tanya Bambang lagi.
"Iya, besok, ..." jawab Rudi, "... Loe harus datang, kalau nggak datang sweater sama celana yang gue kasih itu gue ambil lagi."
"Iya, iya, aku pasti datang," ucap Bambang sambil tersenyum senang dan bersemangat menganggukkan kepalanya.
"Nah, sip." Rudi mengacungkan ibujari tangan kanannya ke arah Bambang. Detik berikutnya, ia melihat Bambang langsung berjalan menjauh dan menuju ke arah tangga menuju loteng tanpa berpamitan bahkan berterima kasih padanya, "Dasar Bambang, ..." gumam Rudi menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap heran ke arah Bambang, "... tingkahnya nggak bisa ditebak," ucapnya sambil tertawa pelan.
***
Di bawah tenda biru sebuah warung yang terletak di depan losmen terdapat dua orang lelaki berseragam khas karyawan losmen yang sedang duduk di atas kursi panjang. Mereka berdua sama-sama memegang sebuah amplop.
"Nton," ucap Solihin sambil menoleh ke samping kiri menatap lelaki yang duduk bersebelahan dengannya dan tampak lebih dulu membuka amplop.
"Oy?" Anton menoleh ke samping kanan menatap Solihin sambil mengeluarkan isi di dalam amplop di tangannya.
"Gue pinjem uang loe ya, Nton," ucap Solihin dengan tatapan memelas menatap Anton.
"Lah, sama-sama udah gajihan juga, masa mau minjam sama gue sih? ..." Anton menatap sinis lawan bicaranya, "... emangnya mau buat apa sih uangnya, Hin?" tanya Anton menatap Solihin dengan tatapan penuh selidik.
"Uangnya nambahin buat bayar hutang ke Pakde, Nton," jawab Solihin dengan senyum yang sedikit terkembang.
"Ya elah, gue juga sama, Hin. Hutang gue juga ada di Pakde, ..." ucap Anton menggelengkan kepalanya sambil memasang wajah kesal, "Bener 'kan, Pakde?" tanya Anton menatap ke arah Pakde yang sedang membersihkan meja warung menggunakan lap kecil.
Pakde pun langsung menyahut, "Kalau uangnya nggak cukup, bayar separuh juga nggak apa-apa."
"Beneran, Pakde?" tanya Solihin memastikan dengan semangat.
"Bener," jawab Pakde tersenyum ramah dan mengangguk pelan.
"Ini, Pakde." Solihin mengulurkan tangan kanannya yang memegang beberapa lembar uang berwarna merah ke arah Pakde.
"Jadi, hutang kamu sisa setengah, ya," ucap Pakde sembari meraih beberapa lembar uang berwarna merah yang diserahkan Solihin padanya.
"Saya juga bayar hutangnya separuh ya, Pakde." Anton ikut-ikutan.
"Hutang kamu cuman sedikit, Nton. Masa bayarnya ikut separuh sama kayak Lihin sih?" tanya Pakde menatap Anton sembari melipat dahinya.
"Nggak boleh ya, Pakde." Anton pasrah dengan senyum yang dipaksakan, "Ya udah deh, nggak apa-apa," ucap Anton sembari merogoh ke dalam amplop di tangannya lalu menyerahkan selembar uang berwarna biru kepada Pakde yang sudah lebih dulu menengadahkan tangan kanan ke arahnya.
"Nah, gitu dong." Pakde langsung menarik selembar uang berwarna biru yang diserahkan Anton, lalu menggabungnya dengan beberapa lembar uang berwarna merah yang tadi diserahkan Solihin padanya.
Anton terkulai lesu karena tidak mendapat keberuntungan seperti yang didapat Solihin. Itu karena hutangnya lebih sedikit dari Solihin yang hutangnya lumayan banyak kepada Pakde.
Anton menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Loe kok kayak nggak semangat sih, Nton?" tanya Solihin dengan tatapan heran menatap Anton yang tampak lesu.
"Nasib, nasib," ucap Anton menggelengkan kepalanya meratapi nasibnya yang berbeda dengan nasib rekan kerja yang duduk bersebelahan dengannya itu.
"Woy, Anton! Kamu nantangin saya berantem ya!" bentak Pakde tiba-tiba emosinya meluap tanpa sebab. Emosinya itu ia tumpahkan kepada Anton.
"Hah?" Anton tersentak sembari melipat dahinya dengan mulutnya yang ikut menganga, menatap ke arah Pakde dengan tatapan bingung, "Kok Pakde tiba-tiba marah sama saya?"
"Kamu!" Pakde membulatkan kedua matanya dan menyorot tajam menatap wajah Anton yang masih tampak bingung akan kesalahan yang dilakukan, yang menjadi penyebab membuatnya meluapkan amarahnya.
Solihin segera beranjak berdiri, "Sabar Pakde, sabar, ..." Ia turut mencoba menenangkan emosi Pakde, "... Emangnya Anton salah apa sama Pakde?" tanya Solihin menatap Pakde untuk mencoba meluruskan permasalahan, lalu menatap ke arah Anton, "Nasib loe, Nton," ucapnya sambil menggeleng dengan tatapan heran menatap Anton.
"Kamu juga ngajak saya berantem, Hin!" Amarah Pakde menjalar kepada Solihin. Pakde menghentakkan kedua telapak tangannya ke atas meja dengan sangat keras sehingga membuat Anton dan Solihin bergidik takut.
"Nggak, Pakde. Saya nggak ngajak Pakde berantem kok, ..." Solihin menggeleng cepat, "... Emangnya salah saya sama Anton apa, Pakde?" tanya Solihin menatap Pakde dengan tatapan heran.
"Kalian berdua ini pura-pura nggak tau atau emang sengaja ngejek saya!" Pakde berkacak pinggang menatap Anton dan Solihin bergantian dengan tatapan tajam dan penuh amarah yang berapi-api.
Anton dan Solihin saling tatap sebentar dengan tatapan bingung karena belum mendapat kejelasan tentang amarah Pakde yang meluap kepada mereka.
"Kita nggak ada niat sama sekali buat ngejek Pakde, apalagi pura-pura nggak tau," ucap Anton.
"Bener, Pakde. Sumpah," timpal Solihin.
"Kalian ini!" bentak Pakde, "Kalian itu nggak tau apa, kalau nama saya itu Nasip!"
Anton dan Solihin membelalakkan kedua mata mereka, sama-sama terkejut saat Pakde memberitahukan nama yang sama sekali mereka tidak tahu.
"Kalian sengaja atau gimana, nyebut nama saya pakai gaya ngejek kayak gitu!" Pakde masih belum menurunkan tingkat amarahnya. Detik berikutnya, tangan kanannya terulur ke arah Solihin dengan posisi telapak menengadah, "Sekarang lunasin hutang kamu!"
"Loh, kok gitu sih, Pakde?" tanya Solihin dengan memasang wajah takut dan mulai memucat karena dipaksa untuk melunasi hutangnya.
"Sebelumnya kita berdua minta maaf nih, Pakde. Kita berdua benar-benar nggak ada maksud buat ngejek Pakde," ucap Anton membijaki, "... Saya juga baru tau sekarang kalau nama Pakde itu adalah Nasip."
"Bener, Pakde, ..." tambah Solihin mengangguk cepat, "... saya berani sumpah, dari awal kerja di losmen dan baru sekarang saya tau kalau nama Pakde itu adalah Nasip," jelas Solihin.
Pakde pun mulai mengatur nafasnya yang masih mendengus sembari meredakan amarahnya. Ia diam sejenak untuk mempertimbangkan perkataan Anton dan Solihin yang memang ada benarnya. Detik berikutnya, raut wajahnya kembali tenang, lalu menatap ke arah Anton dan Solihin bergantian, "Ya sudah, saya maafkan kalian berdua," ucap Pakde mengangguk pelan.
"Beneran, Pakde?" tanya Solihin dan Anton serentak sembari tersenyum sumringah setelah mendengar ucapan Pakde yang menerima permohonan maaf mereka berdua.
"Iya, ..." Pakde mengerakkan kepalanya naik turun sambil perlahan mengembangkan bibirnya, "... Saya juga minta maaf sama kalian berdua, seharusnya saya tidak langsung marah pada kalian. Toh, kalian juga baru tau nama saya yang sebenarnya, kan."
Anton dan Solihin serentak mengangguk mengiyakan.
"Nggak apa-apa, Pakde," ucap Anton menyunggingkan senyumnya menatap ke arah Pakde Nasip.
"Iya, nggak apa-apa, Pakde," tambah Solihin.