Motor matik berwarna hijau yang dikendarai Bambang berjalan sangat pelan menelusuri sebuah jalan menuju rumah kediamannya. Kepalanya menoleh, membantu kedua matanya yang terpaku menatap jauh ke arah rumah kediamannya, tepat pada sebuah jemuran yang ada di depan rumah kediamannya.
Bambang melihat-lihat dengan teliti jauh arah jemuran pakaian di depan rumah kediamannya dan mencoba memastikan bahwa di depan rumah itu tidak ada orang, terkhusus Nanda.
"Nah, kayaknya nenek sihir itu nggak ada di depan rumahku deh, ..." Bambang menaik turunkan kepalanya pelan, "... Ayo, Kuda Hijau, kita harus cepet!" ucap Bambang menunduk dan menatap stang pada motor matik hijaunya, lalu mengangkat kepalanya kembali sembari memutar gas dengan tangan kanan untuk mempercepat laju motor matik hijaunya agar bisa lebih cepat sampai di depan rumah dan mengembalikan sweater dan celana denim yang dia kenakan.
Beberapa detik kemudian, Bambang bersama Kuda Hijaunya telah menepi dan berhenti tepat di depan rumah kediamannya. Tangan kanannya terulur ke arah kunci motor yang masih menancap di tempatnya lalu diputarnya kunci motor itu ke arah kiri dan seketika membuat suara dari mesin motor matiknya berhenti. Detik berikutnya, ia berdiri tapi belum turun dari motor matik yang ia tunggangi. Kepalanya menoleh ke arah pintu depan rumah kediamannya yang masih dalam keadaan terbuka, menengok ke arah dalam rumah untuk memastikan semuanya aman.
"Kayaknya orang-orang lagi sibuk sama urusan masing-masing," gumam Bambang mengangguk singkat setelah merasa sangat yakin bahwa tidak ada orang yang akan melihatnya ketika mengembalikan sepasang pakaian yang dia kenakan ke jemuran di depan rumah. Detik selanjutnya, ia pun bergegas melangkah turun dari motor matik hijau miliknya, lalu berbalik badan dan kembali menengok ke arah pintu depan rumah. Sambil melangkah ke arah jemuran dengan berjinjit, kepalanya tak berindah menoleh ke arah pintu depan untuk bersiaga kalau sewaktu-waktu ada orang yang keluar dari pintu itu. Sesekali ia menoleh ke belakang tepat menatap ke arah sebuah rumah yang letaknya berseberangan dengan rumah kediamannya, untuk memastikan penghuni rumah di seberang juga tak akan melihat aksi pengembalian ini.
Setelah langkah demi langkah yang cukup menegangkan dan sedikit membuat jantungnya lebih cepat memompa aliran darah ke seluruh tubuh, pijakan kedua kaki Bambang akhirnya telah tiba tepat berdekatan dengan jemuran pakaian yang ada di depan rumah. Ia mengelus dadanya dan bernafas lega. Detik selanjutnya, ia pun berbalik dengan posisi badan membelakangi rumah kediamannya dan tepat menghadap pada jemuran.
Tiba-tiba, Bambang merasakan kedua tangan yang memeluk erat tubuhnya dari arah belakang. Kedua matanya membulat bersamaan dengan mulutnya yang menganga.
Bambang melipat dahinya, "Lah, ini siapa yang meluk aku dari belakang?!" pikir Bambang penasaran tapi belum berani untuk memalingkan kepalanya ke belakang dan untuk memastikan siapa yang memeluk tubuhnya dari belakang.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu."
Bambang sangat jelas mendengar suara seorang wanita yang sangat tidak asing di telinganya. Dan suara itu tidak lain adalah suara dari Nanda istrinya Rudi sepupunya.
"Kamu lama banget pulangnya," ucap Nanda sembari menenggelamkan wajahnya ke punggung lelaki di depannya dan semakin mempererat pelukannya.
Bambang hanya bisa diam membisu dengan bibirnya yang terkembang lebar, menunjukkan perasaan senang saat merasakan pelukan hangat seorang wanita dari belakang badannya.
Sementara itu, Nanda merasakan sesuatu yang janggal saat wajahnya tenggelam di punggung lelaki di depannya. Indera penciumannya merasakan aroma tidak sedap yang berasal dari tubuh lelaki yang masih dalam pelukannya itu.
"Sayang, kok bau badan kamu nggak kayak biasanya ya? ..." tanya Nanda heran sambil melepaskan wajahnya dari punggung lelaki di depannya. Tapi, pertanyaan yang ia lontarkan tak ada jawaban dari lelaki di depannya, "... Sayang, kok kamu diam aja sih?" Nanda mulai kesal sambil memukul manja punggung lelaki di depannya, berharap lelaki di depannya mau berpaling dan menatap ke arahnya. Saat telapak tangan kanannya menyentuh sweater yang dikenakan lelaki di depannya, indera perabanya merasakan bahwa sweater itu masih dalam keadaan setengah kering. Detik selanjutnya, ia tersadar bahwa baju sweater yang dikenakan lelaki di depannya itu sebelumnya berada di jemuran. Ia menunduk dan melihat celana denim yang juga sebelumnya berada di jemuran.
"Sayang, kok kamu pake pakaian yang belum kering sih?!" tanya Nanda sembari mengulurkan tangan kanannya dan memegang bahu lelaki di depannya, lalu berusaha menarik badan lelaki tersebut agar mau berpaling dan menatapnya.
Bagaimana mungkin Nanda sampai tidak bisa membedakan suaminya dengan orang lain, padahal model rambut lelaki di depannya berbeda jauh dengan model rambut yang ada pada Rudi suaminya. Bukan tanpa alasan mengapa Nanda tidak bisa membedakan suaminya dengan orang lain. Itu karena biasanya Rudi suaminya lebih sering mengenakan topi, dan hal inilah yang membuat Nanda jarang melihat model rambut yang ada pada suaminya.
"Sayang, kok dari tadi kamu diam mulu sih?" Nanda mulai kesal. Ia terus memaksa lelaki di depannya agar mau berbalik dan menatapnya. Tarikan tangannya semakin kuat untuk berusaha membuat lelaki di depannya berbalik badan.
"Aaaaaaaaa, Bambang!" Nanda menjerit takut sembari memejamkan erat kedua matanya dan menutup kedua telinganya dengan tangannya.
Melihat dan mendengar jeritan takut dari wanita di depannya, membuat Bambang lari terbirit-b***t ke arah pintu depan rumah dan langsung masuk ke dalam melalui pintu tersebut. Ia menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari tempat sembunyi. Detik selanjutnya, ia menoleh ke atas tepat menatap langit-langit ruangan yang merupakan lantai untuk lotengnya. Ia bergegas melangkah menaiki anak tangga dan bersembunyi dalam loteng.
Di saat itu pula tampak sebuah motorgede berwarna hitam dengan Rudi yang sedang menunggangi motor tersebut tiba di depan rumah dan melihat Nanda yang masih berteriak menjerit.
"Nanda?" Rudi melipat dahinya menatap ke arah istrinya yang masih menjerit. Detik berikutnya, ia dengan cepat melangkah turun sambil mematikan mesin motor miliknya dan bergegas mendatangi Nanda istrinya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Rudi memeluk erat tubuh Nanda, berusaha menenangkan istrinya itu.
Jeritan dan rasa takut Nanda mulai mereda setelah melihat keberadaan Rudi yang memeluk tubuhnya.
"Sayang, kok kamu teriak?" tanya Rudi sembari perlahan melepaskan pelukannya dan masih memegang erat kedua bahu Nanda agar bisa menatap wajah Nanda.
"Bambang!" jawab Nanda singkat dengan tatapan kesal.
"Bambang kenapa?" Rudi menunjukkan lipatan di dahinya.
"Tadi Bambang pake sweater sama celana kamu, Sayang, ..." jawab Nanda sambil masih menunjukkan wajahnya yang kesal, membuat Rudi membulatkan kedua matanya dengan mulut menganga. Nanda pun menceritakan kejadian yang dialaminya tadi kepada Rudi.
Setelah mendengar cerita dari istrinya, Rudi bergidik geli dan berkata, "Aku nggak mau lagi pake sweater sama celana itu, iiiih."
"Aku lebih geli, Yang... Iiuuuh!" Nanda ikut bergidik geli sambil menepuk-nepuk sekujur pakaian yang ia kenakan agar bersih dari kontaminasi Bambang saat mengingat kejadian ketika ia memeluk tubuh Bambang.
Rudi tertawa pelan melihat kegelian yang terpasang di wajah istrinya sembari mencoba membayangkan kejadian yang tadi diceritakan istrinya.
"Iiih, Sayang! Kok malah nertawain aku sih!" Nanda memukul-muluk tubuh Rudi berkali-kali, bukan pukulan keras melainkan pukulan yang menunjukkan rasa kesalnya kepada Rudi karena menertawakan dirinya.
"Eh, maaf, maaf, ampun, ampun." Rudi masih tertawa pelan sambil berusaha sebisanya menangkis semua pukulan yang dilayangkan Nanda pada tubuhnya.
Nanda menghentikan pukulannya. Ia menyilangkan kedua tangannya ke depan sambil memalingkan wajahnya dan mendengus kesal kepada Rudi.
"Jangan marah dong, Yang," bujuk Rudi sambil mengulurkan tangan kanannya agar Nanda mau kembali menatap ke arahnya. Tapi, istrinya bersikeras dan tak mau berpaling menatapnya, "... Oh iya, Sayang. Tadi aku udah ketemu sama temennya temenku yang nyewain tenda. Bentar lagi tendanya datang, Yang."
Nanda mulai menyunggingkan senyum sambil perlahan menoleh dan menatap Rudi setelah mendengar berita bahagia yang diucapkan Rudi dan membuat rasa kesalnya memudar.
"Beneran?" Nanda mencoba memastikan.
"Iya, Sayang," jawab Rudi sambil tersenyum dan menggerakkan kepalanya naik turun dengan cepat dan pasti.
"Alhamdulillah." Nanda memusut dadanya sambil bernafas lega. Detik berikutnya, ingatannya tentang kejadian yang tadi dialaminya kembali melintas, "Iiiih!" Tubuhnya kembali bergidik geli, lalu melangkah cepat ke arah pintu utama di rumah kediaman Bambang.
Rudi mengerutkan kedua keningnya sambil menatap ke arah langkah Nanda dengan tatapan bingung. Detik selanjutnya, ia pun melangkah lebih cepat untuk menyusul langkah Nanda istrinya, "Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Rudi sambil melangkah.
"Mau mandi terus ganti baju!" jawab Nanda terus mempercepat langkah kedua kakinya tanpa menoleh ke belakang untuk menatap suaminya yang juga berjalan mengiringinya dari belakang.
Setelah melangkah melewati pintu utama rumah kediaman Bambang, Rudi duduk pada sofa di ruang depan dan menatap ke arah langkah Nanda yang melangkah ke arah dalam, "Sayang, aku tunggu di sini aja, ya."
"Hemmm." Nanda bergumam nyaring sambil menganggukkan kepalanya saat ia semakin melangkah ke arah dalam rumah tepat menuju kamar mandi.