"Terima kasih, Bos," Bambang mengangguk sopan sembari beranjak berdiri dari kursi yang menghadap ke depan meja kerja dalam ruangan Pak Rondo sambil mengulurkan tangan kanannya menarik sebuah amplop yang sebelumnya diletakkan Pak Rondo di atas meja kerja, dan Pak Rondo membalas anggukan itu sembari melempar senyum tipis ke arahnya.
Bambang berbalik badan lalu berjalan ke arah pintu ruangan manager sambil bersenandung pelan. Amplop berpindah ke tangan kiri, lalu tangan kanannya terulur membuka pintu dan melangkah keluar dari ruangan, menuju tepat ke ruang tunggu karyawan. Setelah kembali menutup pintu ruangan manager, ia mendatangi tas selempang miliknya yang tergeletak di atas salah satu kursi dalam ruang tunggu karyawan.
"Asik gajian!" Bambang mengembangkan bibirnya sambil menatap sebuah amplop di tangannya dan sangat bersemangat untuk bersiap membuka amplop tersebut. Dirobeknya salah satu sisi amplop lalu ia ambil seluruh uang dari dalamnya. Detik berikutnya, kedua matanya membulat seiring mulutnya menganga lebar.
"Hah!" Bambang terkejut saat mendapati bahwa selembar uang gajihnya dalam keadaan robek di bagian ujung tepat di mana Bambang merobek amplop. "Astaga! Uangnya robek!" Tangan kirinya terangkat dan langsung mendarat di depan dahi dengan kasar, kemudian turun sampai ke dagu dengan kasar juga. Batinnya menyesali saat ia membuka amplop gajihnya dengan cara merobek, "Kenapa aku malah merobeknya sih!" Ia mendengus kesal sambil menghentakkan kaki kirinya di atas permukaan lantai. "Mana harus bayar hutang di warung pakde," gumam Bambang tampak wajahnya hampir menangis.
Bambang menghela nafas panjang lalu berkata, "Ya udah, nanti biar aku plester aja deh uangnya," gumamnya sambil menggerakkan kepalanya naik turun dengan pelan. Setelah menghitung jumlah uang gajih di tangannya dan memasukkan setengah dari uang itu ke dalam tas, ia langsung menuju warung pakde di depan losmen.
Saat Bambang keluar losmen, dari jauh ia melihat dua rekan kerjanya yang ternyata lebih dahulu berada di warung Pakde.
"Anton sama Solihin ternyata lagi santai-santai di warung," gumam Bambang sambil menatap sinis ke arah dua rekan kerjanya itu. Tapi, kedua kakinya terus melangkah menuju warung Pakde di mana dua rekan kerjanya berada.
"Pakde," panggil Bambang sambil melangkah mendatangi Pakde yang sedang sibuk mencuci piring di samping warung.
Pakde pun menoleh ke arah Bambang lalu menunjukan lipatan di dahinya dan mengangkat kepalanya sebentar, "Ya, Mbang?"
Bambang mengulurkan tangan kanannya yang memegang dua lembar uang berwarna merah ke arah Pakde, "Ini Pakde, saya bayar separuh dulu ya, Pakde," ucap Bambang sambil tersenyum lebar.
Pakde beranjak berdiri berhadapan dengan Bambang, lalu tangan kanannya terulur untuk meraih dua lembar uang yang diserahkan Bambang padanya sambil mendengus kesal, "Ya elah, tadi Anton juga bayar separuh, ini sekarang kamu juga ikut-ikutan bayar separuh," ucapnya sambil menggeleng.
Saat mendengar ucapakan Pakde, Bambang hanya tersenyum lebar tanpa mengatakan apapun. Lalu, ia melangkah ke arah depan warung dan duduk di atas kursi panjang bersebelahan dengan Anton yang sudah lebih dulu duduk bersama Solihin.
"Uang buat makan sisanya berapa lagi ya?" gumam Bambang sambil melipat dahinya setelah duduk di kursi panjang. Tangan kanannya terulur ke belakang dan merogoh saku belakang celananya lalu meraih selembar uang dari dalam saku tersebut.
Anton dan Solihin ternyata sejak tadi memerhatikan Bambang. Mereka berdua melihat kondisi uang yang diambil Bambang dari kantong belakang.
"Loh, Mbang! Kok duit loe bisa robek kayak gitu sih?" tanya Anton spontan menoleh ke samping kanan menatap ke arah selembar uang di tangan Bambang.
"Iya, itu kenapa kok bisa robek?" timpal Solihin.
"Salah robek amplop tadi," jawab Bambang tersenyum malu sambil mengangguk pelan ke arah Anton dan Solihin bergantian.
"Astaga...." Anton menggelengkan kepalanya.
"Kenapa nggak loe tuker aja sama bos?" Solihin memberi ide kepada Bambang.
"Emang bisa, Hin?" tanya Anton menatap Solihin.
"Ya bisa, gue pernah satu kali nukerin uang ke bos kok," jawab Solihin kembali menatap makanan di depannya dan menyuapnya.
"Nah, loe tuker aja nanti sama bos, Mbang," ucap Anton menguatkan usulan yang diberi Solihin pada Bambang.
Bambang mengembangkan bibirnya sambil menggerakkan kepalanya naik turun dengan cepat dan pasti. Seberkas harapan—bahwa uang robek yang ia miliki menjadi baru lagi—muncul dalam benaknya saat wajahnya tersenyum sumringah.
"Pakde, nasi bungkusnya masih ada?" tanya Bambang kepada Pakde yang sudah berdiri di belakang meja setelah selesai mencuci piring di samping warung.
"Nasi bungkusnya udah habis, Mbang, ..." jawab Pakde sembari meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja, "... Sisa mie instan aja," sambung Pakde menoleh ke arah etalase kaca di atas meja warungnya kemudian kembali menatap Bambang, menunggu keputusan Bambang untuk memesan sesuatu padanya.
"Yaah...." Bambang menghela nafas dengan memasang wajah kecewa, "... nasib, nasib," ucap Bambang pelan sambil menggelengkan wajahnya.
Anton dan Solihin serentak terkejut dan tersedak setelah mendengar ucapan pelan Bambang.
Anton berniat memberitahu Bambang bahwa Bambang sebentar lagi akan dimarahi oleh Pakde, karena ia melihat wajah Pakde yang mulai marah kembali dan kedua telapak tangan Pakde yang diletakkan di atas meja terlihat mengepal erat. Tapi, Solihin langsung memegang bahu kiri Anton untuk mencegat.
BRAK!
Pakde menghentakkan kedua tangannya yang mengepal ke atas meja dengan kasar. Membuat Bambang sontak gemetar karena terkejut mendengar hentakan itu.
"Bambang! Lunasin hutang kamu sekarang!" Pakde kembali menghentakkan kedua tangannya di atas meja, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Bambang dengan posisi telapak menengadah.
"Loh kok, Pa-Pakde?" Bambang tergagap seiring wajahnya yang mulai memucat.
"Jangan banyak tanya! Kalau kamu nggak lunasin sekarang, saya buat hutang kamu jadi dua kali lipat!"
"Ta-tapi, Pakde...."
"Sabar Pakde, sabar." Solihin berusaha meredam emosi Pakde yang kembali meluap karena ucapan Bambang yang tidak disengaja.
"Woy! Pssstt! Mbang!" bisik Anton memberi kode agar Bambang menatapnya.
"Kok Pakde marah-marah sama aku sih, Nton?" tanya Bambang menatap Anton dengan tatapan bingung.
"Loe jangan ngucapin kata 'nasib' kalau di hadapan Pakde," bisik Anton kepada Bambang.
"Emang kenapa?" Bambang balas berbisik sambil mengerutkan kedua keningnya.
"Nama Pakde itu 'Nasip', jadi jangan ucapin kata itu lagi," jawab Anton masih berbisik.
Dan obrolan bersisik antara Bambang dan Anton ternyata masih dapat terdengar di telinga Pakde.
"Dengerin tuh! Kalau saya masih dengar kalian nyebut nama saya, hutang kalian bakalan saya jadikan dua kali lipat!" ucap Pakde tegas sembari kembali menghentakkan kedua tangannya lagi di atas meja warung sehingga membuat sendok stainless ditempatnya bergetar dan membuat suara gemerincing dari getaran sendok tersebut.
"I-iya, Pakde," ucap Solihin, "Kita bertiga nggak bakalan nyebut nama Pakde kok, janji." Solihin mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Iya, Pakde," ucap Anton dan Bambang terdengar bertimpaan dan tidak serentak.
Pakde menghela nafas pelan untuk meredakan emosinya, kemudian menatap ke arah Bambang yang masih pucat karena takut, "Ya sudah, kamu mau pesan apa! Kalau nasi bungkus udah habis."
"A-anu, saya pesan mie instan aja, Pakde." Bambang memaksa bibirnya untuk tersenyum, "Se-sekalian sama telur rebusnya juga."
"Ya, sebentar!" Pakde pun menyiapkan pesanan Bambang.
"Oh iya." Anton menoleh ke arah Solihin untuk mencoba mengalihkan suasana dengan membuka pembahasan baru.
"Kenapa, Nton?" Solihin menatap ke arah Anton.
"Besok loe jadi 'kan, temenin gue datang ke acara resepsi perkawinan temen gue, Hin?" tanya Anton.
"Iya, jadi." Solihin mengangguk, lalu menoleh ke arah Bambang, "Loe mau ikut, Mbang?"
"Hah?" Bambang menoleh ke kiri menatap Anton dan Solihin bergantian, "Ikut ke mana?"
"Kasih tau, Nton," ucap Solihin sembari mengutak-atik smartphone setelah selesai menyuap suapan terakhir dari makanan di depannya.
"Besok temen gue ngadain acara resepsi perkawinan, nah dia nyuruh gue buat ngundang temen kerja," jawab Anton menjelaskan. "Loe mau ikut, 'kan?"
"Tapi...." Perkataan Bambang terhenti karena mengingat bahwa besok ia juga sudah berjanji untuk berhadir di acara resepsi perkawinan Rudi, karena kalau ia tidak hadir maka celana denim dan sweater akan diambil Rudi kembali.
"Eh, bentar! Ini lokasi rumah mempelainya di dekat rumah loe, Mbang," ucap Solihin menunjukkan gambar denah pada layar smartphone di tangannya ke arah Bambang.
Bambang memandang sejenak layar smartphone yang diarahkan Solihin padanya, "Iya benar," ucap Bambang sambil mengangguk cepat.
"Nah, pas banget kalau gitu," ucap Anton, "Terus, habis ke acara resepsi, gimana kalau kita ke karaoke?"
"Bener, ide bagus tuh, Nton," sahut Solihin mengangguk setuju.
"Loe harus ikut, Mbang," ucap Anton menatap Bambang.
"Karaoke? Jam berapa?" tanya Bambang mengembangkan bibirnya.
"Jam berapa, Nton?" Solihin menatap Anton dan menunggu Anton membuat keputusan.
"Sekitar jam dua siang, gimana?" tanya Anton menatap Solihin dan Bambang bergantian untuk meminta pendapat.
"Gue setuju, soalnya kita 'kan harus tidur dulu biar nggak ngantuk," jawab Solihin mengangguk pasti.
Sementara Anton dan Solihin bertukar pikiran, Bambang malah mengembangkan bibir, tersenyum sendirian sambil membayangkan saat ia bernyanyi duet lagu romantis bersama Lala, sang wanita pujaannya.