Lala bersama Sandi masih tampak begitu asik mengobrol dan bercanda gurau. Tak tampak sedikit pun niat mereka untuk beranjak pergi dari depan gang kecil yang mengarah ke kediamannya Lala.
Dari arah dalam gang tersebut, Bambang mengendarai motor matik hijaunya dan melihat Lala berdiri di depan gang dari kejauhan.
"Hah! Itu 'kan, Lala?!" Bambang mengerjapkan kedua matanya, lalu mengucaknya untuk memastikan kalau yang dilihat kedua matanya itu adalah benar. Detik berikutnya, motor matik berwarna hijau miliknya ia pacu untuk semakin cepat.
"Lala!" teriak Bambang sambil mengangkat tangan kirinya dan melambaikannya ke arah di mana Lala berada.
Lala dan Sandi yang sedang asik mengobrol, tiba-tiba obrolan mereka terhenti karena mendengar suara teriakan Bambang dari arah dalam gang.
"Loh! Ayo, La. Cepetan!" ajak Rudi segera bersiap pada posisinya di atas motorsport miliknya dan langsung menyalakan mesin motorsportnya tersebut.
"Duuh!" Lala mendengus kesal, "... Kok dia bisa udah ngarah ke sini sih!" ucap Lala sambil mengambil langkah besar kaki kanannya untuk naik dan duduk di belakang Rudi.
"Udah?" Rudi memalingkan sedikit kepalanya untuk menatap Lala yang sudah duduk di belakangnya.
"Iya, cepetan!" Lala mengangguk kemudian menepuk pundak kanan Rudi berkali-kali dengan cepat.
Detik selanjutnya, Motorsport yang dikendarai Rudi dengan membonceng Lala di belakangnya langsung melesat dengan cepat menjauh dari depan gang di mana mereka mengobrol tadi.
Bambang yang baru saja tiba di depan gang dan langsung menghentikan laju motor matik miliknya tidak sempat melihat kepergian Lala yang sebenarnya pergi bersama Rudi menaiki motorsport milik Rudi karena perbedaan kecepatan yang dimiliki antara motor matiknya dengan motorsport Rudi.
"Loh?!" Bambang bingung sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, terlihat lipatan di dahinya sembari ia gerakkan kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, "... Bukannya tadi aku liat Lala di depan sini ya? ..." gumam Bambang pelan sambil menyeret pandangannya dari kiri ke kanan, "Apa Lala benar udah nyampe di pasar? Ya udah, aku samperin ke pasar dulu deh," pikir Bambang sambil menggerakkan kepalanya turun naik pelan. Detik berikutnya, motor matik yang ia tunggangi mulai jalan. Laju motor matiknya perlahan ia tingkatkan dan tiba di batas kecepatan tertinggi. Ia sangat berusaha agar bisa menemui Lala dan berharap Lala berada di pasar.
***
Masing-masing rolling door di beberapa toko tepat di depan pasar masih belum dibuka pemiliknya. Di depan pasar hanya ada seorang lelaki yang mengenakan rompi khas tukang parkir dengan sebuah pluit yang siap ditiup menggantung di sehelai tali yang melingkar di lehernya dan sedang duduk di sebuah kursi panjang depan salah satu toko yang belum buka. Lelaki itu ialah Mang Cecep.
Mang Cecep melihat sebuah motor matik berwarna hijau yang memasuki area parkiran di depan pasar. Ia mengerutkan kedua keningnya untuk melihat dengan teliti siapa yang menaiki motor matik hijau tersebut.
"Loh, itu 'kan, orang yang kemarin?!" gumam Kang Cecep menatap ke arah Bambang yang sudah melangkah turun dari motor matik berwarna hijau dalam area parkiran depan pasar. Detik berikutnya, ia beranjak berdiri lalu melangkah ke arah Bambang.
Bambang juga melangkah menuju ke salah satu jalan masuk pasar dan berpapasan dengan Mang Cecep yang berjalan ke arahnya.
"Maaf, ngapain kamu pagi-pagi ke sini?" tanya Mang Cecep menunjukkan lipatan di dahinya menatap Bambang dengan tatapan heran sembari menarik tangan Bambang dan membuat langkah Bambang terhenti.
"Aku mau nyamperin Lala di tokonya," jawab Bambang sembari mengembangkan bibirnya menatap Mang Cecep yang berdiri berhadapan dengannya.
"Loh?" Mang Cecep memundurkan wajahnya dengan masih memasang wajah heran, "... Saya aja dari tadi pagi belum liat ada pedagang yang datang," ucap Mang Cecep memberitahu.
"Tapi, kayaknya Lala sudah sampai di toko," sahut Bambang dengan tatapan yakin menatap wajah lelaki yang menjadi lawan bicara yang sekarang berdiri di depannya.
"Ya udah kalau kamu nggak percaya, masuk aja." Mang Cecep menggeser badan ke kanan, memberi jalan untuk Bambang agar bisa melewatinya.
"Iya." Bambang menggerakkan kepalanya turun naik dengan cepat. Detik selanjutnya ia melangkah melewati di depan Mang Cecep yang menatapnya dengan senyuman sinis.
Bambang melangkah masuk melalui salah satu gerbang pasar sebelah kiri dari arahnya berjalan. Dan benar saja, ternyata apa yang tadi dikatakan oleh Mang Cecep terbukti. Bukan hanya toko di depan pasar yang belum buka, tapi lapak-lapak pedagang di bagian dalam pasar pun ternyata belum ada yang buka.
"Apa hari ini pasar libur ya?" gumam Bambang sambil memaksa kedua kakinya terus melangkah ke arah dalam pasar. Ia begitu bersikeras menemui Lala. Karena menurutnya, satu hari tanpa melihat Lala bagaikan hidup satu tahun di musim kemarau. Bertemu Lala akan membasahi tanah tandus yang retak dan membuatnya subur sedia kala.
Tapi, Bambang menghentikan langkahnya untuk semakin jauh masuk ke dalam pasar karena pencahayaan di dalam pasar begitu gelap.
"Biasanya kalau di pasar ada hantunya nggak ya?" gumam Bambang menyebarkan pandangannya ke segala sudut dalam pasar dengan memasang wajah takut.
"Gimana? Masih nggak percaya?" Tiba-tiba Mang Cecep menyusul Bambang dari belakang.
"Nggak, aku mau mastiin ke toko Lala dulu," jawab Bambang memalingkan kepalanya ke belakang sebentar dan kembali menatap turus ke depan. Detik berikutnya ia terpaksa melanjutkan langkah semakin masuk ke dalam pasar karena merasa gengsi jika membenarkan ucapan lelaki berompi khas tukang parkir.
"Dasar keras kepala," ucap Mang Cecep pelan sambil menggelengkan kepalanya menatap Bambang yang bersikeras masuk semakin dalam ke dalam pasar.
Langkah Bambang terhenti saat kedua matanya melihat dari jauh toko di mana Lala bekerja juga masih belum buka. Ketahuan dari rolling door yang terdapat di depan toko tersebut yang masih belum dibuka.
"Ternyata Lala emang belum ada di pasar, ..." gumam Bambang sambil berbalik badan dan wajahnya pun turut ditekuknya murung, "... Masa aku harus pulang sih?! Udah pakai baju keren gini padahal." Bambang mendengus pelan dengan wajahnya yang masih ditekuk. Detik selanjutnya, kedua kakinya melangkah lesu untuk kembali menuju jalan keluar pasar.
"Kenapa? Kok malah balik lagi? Ada Lala-nya?" tanya Mang Cecep yang masih berdiri di tempat terakhir kali Bambang bertemu. Mang Cecep tertawa pelan dengan menunjukkan senyum sinisnya meremehkan Bambang.
Bambang mengembangkan senyum yang terpaksa menatap ke arah Mang Cecep sembari melintas di depan Mang Cecep.
"Dibilangin ngeyel sih," ucap Mang Cecep pelan tapi masih terdengar di telinga Bambang.
Bambang semakin mempercepat langkahnya dan keluar dari pasar dengan diikuti oleh Mang Cecep dari arah belakang. Ia berjalan ke arah area parkiran depan pasar di mana Kuda Hijau-nya yang selalu setia menunggunya.
"Eh, eh, bentar!" Mang Cecep menyusul Bambang yang sudah memasuki area parkiran depan pasar.
"Ada apa?" tanya Bambang menoleh ke arah Mang Cecep.
"Bayar parkir." Mang Cecep mengulurkan tangan kanannya ke arah Bambang dengan posisi telapak menengadah.
"Sebentar." Bambang meraba ke bagian tubuh di mana biasanya terdapat tas selempang hitam miliknya, tapi ia ingat kalau tas selempang hitam tersebut ditinggalnya di loteng. Wajahnya mulai memucat takut. Detik berikutnya, kedua tangannya merogoh saku celana yang ia kenakan, tapi seketika ia ingat kalau celana yang dia kenakan bukan celana miliknya, melainkan celana yang dia ambil dari jemuran di depan rumah yang waktu itu dijemur oleh Nanda istrinya Rudi sepupunya.
Bambang mengangkat wajahnya dan memaksa senyum yang terkembang menatap ke arah Mang Cecep yang berdiri berhadapan dengannya dan masih menengadahkan tangan ke arahnya.
Mang Cecep mengangkat kepalanya sebentar, "Mana?" tanya Mang Cecep sembari melengkungkan dan mengembangkan kelima jemari di telapak tangan kanannya yang menengadah ke arah Bambang.
"Uangnya ketinggalan di rumah, Mang," jawab Bambang. Senyum di bibirnya tampak bergetar, "... Aku ngutang dulu deh ya, Mang. Aku ambil uangnya dulu di rumah."
"Ya elah." Mang Cecep menarik tangannya kembali dan mulai berkacak pinggang sambil memalingkan wajahnya ke kanan. Ia mendengus kesal kemudian kembali menatap lurus ke arah Bambang, "... Udah, nggak usah bayar!" ucapnya dengan memasang wajah kesal menatap wajah Bambang.
"Terima kasih, Mang." Bambang memasang senyum dan dengan cepat meraih kedua tangan Mang Cecep dan langsung menjabatnya.
"Udah, udah, cepetan pergi sebelum saya berubah pikiran!" Mang Cecep menarik paksa kedua tangannya yang di genggam Bambang.
Bambang mengembangkan bibirnya sambil menarik turunkan kepalanya dengan cepat. Detik selanjutnya, ia melangkah ke arah motor matik berwarna hijau miliknya dan langsung menungganginya. Ia menoleh kembali ke arah Mang Cecep yang sudah berbalik badan dan hendak melangkah ke arah depan pasar.
"Terima kasih, Mang!" seru Bambang.
Mang Cecep tidak berpaling dan hanya mengusung telapak tangan kanannya ke atas. Ia terus melangkah menuju kursi panjang di depan salah satu toko.