"Loh, itu rumah Lala apa bukan ya?" gumam Bambang jauh menatap ke arah sebuah rumah di sisi kiri jalan dengan tatapan heran.
Rumah yang dilihat Bambang itu sebenarnya memang benar rumah kediaman Lala, tapi yang baru dari rumah itu adalah terdapat pagar kayu dengan cat yang berwarna biru dan membentang mengitari perbatasan halaman rumah kediaman Lala.
Bambang menghentikan laju motornya tepat di luar pagar kayu berwarna biru tersebut, "Bukannya kemarin rumah Lala belum ada pagarnya ya?" gumam Bambang bingung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Detik berikutnya, tangan kanannya terulur ke arah kunci motor dan memutarnya ke arah kiri untuk mematikan mesin pada motor yang ia naiki.
Ia masih menatap ke arah rumah kediaman Lala dengan tatapan heran. Detik berikutnya, ia turun dari motor dan melangkah ke arah pintu pagar, membiarkan kunci motor yang masih menancap di tempatnya.
"Ini gimana cara bukanya ya?" gumam Bambang bingung saat melihat-lihat dengan teliti untuk mencari kunci pengait pada pintu pagar di depannya. Tidak berhasil menemukan pengait pintu pagar, ia pun berusaha membuka pintu pagar berwarna biru itu dengan paksa. Dorongan dan tarikan keras dialami pintu pagar tersebut. Tapi usahanya tetap tidak berhasil. Pintu pagar di hadapannya tak juga berhasil terbuka.
"Maaf, Mas nyari siapa ya?" tanya seorang wanita dari arah belakang Bambang.
Bambang sontak memalingkan kepalanya ke belakang dan melihat seorang wanita mengenakan gamis berwarna biru dengan kerudung yang selaras. Dengan seketika ia terkesima melihat paras cantik pada wajah wanita yang tadi bertanya padanya. Senyum lebar di bibirnya tak dapat tertahankan lagi untuk tercuat sehingga membuat gigi-gigi kuning yang ada dalam mulutnya terlihat. Bagaikan sebuah peti harta karun yang terbuka dan emas-emas di dalamnya pun terlihat.
Wanita bergamis biru itu langsung geli dan risih melihat isi dari peti harta karun yang tadi ditunjukkan Bambang padanya. Detik berikutnya, indera penciumannya merasakan aroma campuran. Aroma gorengan tahu bercampur aroma bakso dan masih banyak lagi campuran aroma yang tidak bisa dijelaskan, karena jika dijelaskan akan menghabiskan setengah bagian dari cerita. Tangan kanannya terangkat dan mendaratkan telapaknya tepat menutupi hidung.
"Maaf, Mas, ..." ucap wanita bergamis biru itu sambil tetap mempertahankan indera penciumannya dari aroma yang bisa dibilang lebih menusuk dari aroma isi gas elpiji, "... Itu, boleh ditutup dulu nggak?" pinta wanita bergamis biru itu sambil menunjuk dengan tangan kirinya ke arah mulut Bambang yang masih tersenyum dan terbuka lebar.
"Hah?" Bambang malah semakin melebarkan mulutnya, raut wajahnya berubah bingung, bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh wanita cantik bergamis biru di depannya yang tadi ketika menunjuk ke arah mulutnya.
Bukannya mengerti, aroma yang keluar dari peti harta karun Bambang semakin menusuk, bahkan sampai menembus celah jemari pada telapak tangan kanan yang diletakkan wanita cantik bergamis biru tepat menutupi hidung.
"Uuhh!" Wanita cantik bergamis biru itu langsung berbalik badan sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya di depan hidung, "Dibilangin tutup eh malah tambah dibuka! Huh jorok banget!" dengus wanita cantik bergamis biru itu sambil melangkah cepat menjauh dari Bambang.
Bambang tetap tak merubah raut wajahnya. Wajah dan kedua matanya seakan terkunci untuk mengikuti ke mana pun arah wanita bergamis biru itu melangkah, membuat wanita bergamis biru itu semakin mempercepat langkah. Setelah melihat wanita bergamis biru itu semakin jauh sampai tak terlihat dari jarak pandangnya, ia pun mengatup mulutnya lalu berbalik lagi menghadap pintu pagar berwarna biru.
"Cantik banget sih perempuan tadi," gumam Bambang tersenyum tipis mengagumi paras cantik yang dimilik wanita bergamis biru yang ia temui tadi. Detik berikutnya, ia teringat akan cinta matinya terhadap Lala, membuatnya membuang semua kekaguman semua wanita kecuali Lala seorang.
"Duuh!" Bambang menepuk dahinya, "Kok aku malah ngagumin perempuan lain sih?! ..." gumamnya kesal kepada dirinya sendiri akan tingkahnya, "... Kasian kan, Lala kalau aku suka sama perempuan lain." Bambang merasa percaya diri seakan-akan menganggap Lala suka padanya, tapi sebenarnya semua yang ia yakini sangat jauh dari kebenaran dan hanya meyakini menurut sudut pandangnya sendiri.
"Bambang." Terdengar panggilan dari seorang lelaki paruh baya dari arah belakang Bambang.
Bambang sontak berbalik badan lagi dan melihat seorang lelaki paruh baya berdiri di depannya. Lelaki paruh baya itu tidak lain adalah ayahnya Lala, yaitu Pak Didin.
"Eh, Pak Didin." Bambang tersenyum sambil mengangguk pelan menatap Pak Didin yang berdiri berhadapan dengannya.
"Kamu lagi ngapain, Mbang? ..." tanya Pak Didin sambil mengerutkan kedua keningnya menatap Bambang dengan tatapan heran, "... Nggak kerja?" tanyanya lagi sebelum Bambang sempat menjawab pertanyaan pertama yang diucapkannya tadi.
"Saya masuk shift malam, Pak," jawab Bambang mengangguk ramah.
Pak Didin membulatkan kecil mulutnya sambil mengangguk pelan, "Mau mampir?" tanyanya menawarkan Bambang untuk mampir ke rumah kediamannya.
"Eeh, a-anu, Pak." Bambang tersenyum dengan memasang wajah bingung. Detik berikutnya ia menundukkan wajahnya, "Duh, gimana ya cara ngomongnya sama ayah Lala kalau aku mau jemput Lala buat ngantarin ke pasar?" Bambang berpikir sambil tetap menundukkan wajahnya dan tangan kanannya menggaruk bagian belakang lehernya yang sebenarnya tidak gatal.
Pak Didin mengerutkan kedua keningnya menunggu Bambang mengucapkan kalimat selanjutnya. Tapi, kalimat yang ia tunggu tak kunjung terdengar.
"Anu?" Pak Didin menatap penasaran dan tampak tidak sabar mendengar kalimat yang akan diucapkan Bambang padanya.
Bambang kembali mengangkat wajahnya, lalu kembali tersenyum dan memasang wajah bingung, "Anu," ucap Bambang mengangguk pelan sambil kembali menggaruk bagian belakang lehernya.
"Anu apaan, Mbang? ..." tanya Pak Didin tidak sabar dan mulai dongkol, "... Ya sudah, kalau kamu cuman cengengesan kayak gitu, saya masuk ke dalam ya." Pak Didin mengulurkan kedua tangannya ke sisi kiri pintu pagar, lalu digesernya pintu pagar tersebut ke arah kanan dan berhenti sampai cukup untuk badannya melewati celah pintu pagar yang dibukanya.
Bambang terbelalak dengan mulut yang menganga setelah melihat hal yang dilakukan oleh Pak Didin ayahnya Lala, "Hah! Astagaaa, ternyata cara buka pintu pagarnya digeser dan bukan ditarik atau didorong," pikir Bambang dengan memasang wajah bingung.
"Saya masuk dulu ya, Mbang, ..." Pak Didin mendaratkan telapak tangan kirinya di atas pundak kanan Bambang, "... Assalamu'alaikum," ucapnya memberi salam sembari mengangguk pelan. Detik selanjutnya, ia mulai melangkah ke arah celah pintu pagar yang sudah terbuka.
"Wa'alaikumsalam, ..." sahut Bambang sambil tersenyum dan mengangguk pelan menatap ke arah langkah Pak Didin, "... Eh, sebentar Pak Didin." Bambang menyusul langkah Pak Didin yang sudah melewati celah pintu pagar depan rumah.
Pak Didin menghentikan langkah kakinya, lalu berpaling badan ke belakang sebentar untuk melihat Bambang, "Iya, Mbang?" tanyanya kemudian kembali berpaling lurus ke depan dan melanjutkan langkahnya yang berpijak di atas tanah pekarangan menuju ke pintu depan rumah kediamannya.
Kini Bambang berjalan beriringan di samping kiri Pak Didin.
"A-anu, Pak Didin, ...." Bambang menoleh ke kanan menatap Pak Didin dengan tersenyum dan masih memasang wajah gugup.
"Anu una anu una!" timpal Pak Didin menoleh ke arah Bambang sebentar dan kembali menatap lurus ke depan, "... Dari tadi kamu ngomong anuuu anu, anuuu anu. Kalau jadi laki-laki itu harus tegas, Mbang," tambah Pak Didin sembari mempercepat langkahnya menuju pintu depan rumah kediamannya karena merasa cukup lelah menunggu kejelasan ucapan Bambang.
Bambang turun mempercepat langkahnya agar bisa berjalan beriringan dengan Pak Didin, "Lala-nya ada, Pak?" tanya Bambang tanpa basa-basi lagi.
Pak Didin menghentikan langkahnya saat hendak menaiki lantai teras depan rumah kediamannya. Ia menoleh ke kiri menatap Bambang sambil mengerutkan kedua keningnya, "Lala?" tanya Pak Didin.
Bambang tersenyum lebar dan mengangguk cepat untuk menanggapi pertanyaan Pak Didin yang sangat singkat itu.
Pak Didin menunduk sebentar untuk melihat kedua kakinya melepaskan sepasang sandal di kedua kakinya. Detik selanjutnya, ia melangkahkan kaki kanan untuk naik ke lantai teras depan rumah lalu diiringi dengan kaki kirinya dan menatap lurus ke arah pintu depan rumah kediamannya.
Bambang pun turut mengikuti Pak Didin melangkah naik ke lantai teras.
Pak Didin menghentikan langkah tepat di depan pintu. Tangan kanannya terulur untuk menyentuh gagang pintu di depannya lalu menoleh ke kiri menatap Bambang sebentar, "Kamu tunggu di sini, saya panggilin dulu ya," ucap Pak Didin.
Bambang mengangguk pelan, "Iya, Pak," ucapnya sambil tersenyum senang, kemudian melihat Pak Didin membuka pintu depan dan melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkannya sendirian berdiri di depan pintu rumah yang dibiarkan Pak Didin terbuka.
Tak lama setelah Pak Didin masuk, seorang perempuan yang merupakan adiknya Lala yang bernama Sindi mendatangi Bambang yang masih berdiri di depan pintu rumah.
Bambang mengembangkan bibirnya sedikit dengan memasang wajah senang menatap ke arah Sindi yang berdiri di pintu.
"Kamu nyari kak Lala?" tanya Sindi sembari menunjukkan lipatan kulit pada dahinya kepada Bambang.
"Iya." Bambang menggerakkan kepalanya turun naik dengan cepat sambil terus menunjukkan bibirnya yang masih terkembang sedikit kepada Sindi yang berdiri berhadapan dengannya.
"Kak Lala-nya udah pergi tadi pagi," ucap Sindi memberitahu.
"Hah!" Bambang sontak membulatkan kedua matanya dengan mulutnya yang menganga sehingga kembali menunjukkan isi peti harta Karun yang menguning emas dan aromanya menusuk sampai menyentuh indera penciuman Sindi.
"Iiiih!" Sindi mengibaskan tangan kanannya di depan hidung, lalu berbalik badan dan melangkah masuk ke arah dalam rumah. Detik selanjutnya, pintu depan rumah kediamannya ia tutup dengan kasar sehingga membuat tubuh Bambang terperanjat.
"Loh, kok pintunya malah dibanting sih?" gumam Bambang menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal sembari melipat dahinya, "Apa Lala udah duluan ke pasar ya? ..." pikir Bambang sambil berbalik badan dan melangkah turun dari lantai teras. Kedua kakinya mendarat di atas sepasang sepasang sandal, lalu ia melangkah melintasi tanan pekarangan menuju pintu pagar yang masih terbuka, "... Ya udah, aku coba samperin ke pasar aja deh," gumam Bambang kemudian mempercepat langkah kakinya sampai melintasi celah pintu pagar dan langsung menaiki motor matik hijau miliknya yang terparkir di luar pagar berwarna biru yang mengelilingi pekarangan rumah kediaman Lala.