Ibu Anti masih mengintip melalui kaca jendela gelap yang ada di bagian depan rumahnya. Menatap tepat ke arah jalan di depan warung miliknya, di mana Bambang masih terlihat bingung untuk mencari cara memindahkan batang kayu besar yang membentang menghalangi jalan.
"Aku sebenarnya kasian sih sama mas yang itu, ..." gumam Ibu Anti pelan menatap iba ke arah di mana Bambang berada, tapi seketika ia teringat dengan keluhan yang diutarakan Lala padanya dan membuatnya menghilangkan rasa iba terhadap Bambang, "... Ah, masa bodoh lah, aku lebih kasian sama Lala." Ibu Anti mengangguk yakin akan pendapatnya, "Masa tiap hari Lala harus lari kayak orang yang lagi dikejar sama kang nagih utang sih?!" Ibu Anti mengerutkan keningnya. Detik selanjutnya, ia langsung menatap sinis jauh ke arah di mana Bambang berada. Kemudian beranjak dan masuk ke arah dalam rumahnya untuk melanjutkan aktifitasnya di dapur.
Ya, Bambang benar-benar bingung bagaimana cara memindah batang kayu besar yang menghalanginya agar dia bisa lewat dan menjemput Lala. Tapi, semangatnya belum juga surut. Tak habis akal, ia menaiki motor matik hijau miliknya lalu menyalakan mesin motor matiknya itu.
"Kuda Hijau, ..." Bambang berkata pelan sambil menatap dan memusut stang motor matiknya dengan usapan lembut, "... Sekarang aku minta bantuan kamu buat mindahin kayu di depan, ya," ucapnya pelan seolah motor matiknya itu mengerti dengan apa yang ia katakan.
Detik berikutnya, motor matik berwarna hijau yang ditunggangi Bambang perlahan jalan. Ban bagian depan motor matik miliknya mulai menyentuh bagian tengah batang kayu besar. Mesin motor matik yang ia naiki terdengar berderu. Kepulan asap mulai keluar dari knalpot. Ia bersama kuda hijau-nya bekerja sama memindahkan batang kayu besar yang membentang menghalangi jalan.
Namun, batang kayu besar tak juga mau bergeser sedikitpun. Beberapa saat kemudian, ada empat orang lelaki pengendara motor yang kebetulan melintas dari arah dalam gang, berlawanan dengan arah Bambang tiba. Semuanya lelaki, satu orang berbadan kurus tinggi dan memiliki jambang yang menutupi dagunya; yang selanjutnya berbadan kekar, kepalanya plontos, dan mengenakan kaca-mata hitam; lalu yang selanjutnya berbadan yang tinggi dan posturnya sama seperti Bambang, hanya saja lelaki yang satu ini lebih keren; dan yang terakhir, berbadan gemuk, pakaian yang dikenakannya semuanya berukuran besar, tapi masih terlihat kekecilan saat ia mengenakannya, rambutnya keriting dengan tindik di antara keningnya. Mereka berempat sama-sama berhenti dan turun dari motor yang mereka naiki.
"Woy! Loe sengaja ya ngalangin jalan gue!" bentak seorang lelaki berbadan kurus tinggi dan memiliki jambang yang menutupi dagunya. Ia turun dan berdiri di lain sisi dari tempat Bambang yang masih mendorong batang kayu besar dengan menggunakan motor matiknya di sisi satunya.
"Hah!" Bambang tersentak. Mesin motor matiknya pun ia matikan, lalu mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap lelaki yang tadi membentaknya dengan rasa takut, "... E-enggak, ini...."
"Ini apa! Cepat pindahin kayu ini!" pungkas lelaki itu dengan membentak lagi sambil berkacak pinggang. Kaki kirinya ia letakkan di atas batang kayu besar dan menatap sangar ke arah Bambang.
Lelaki berbadan kekar dan mengenakan kaca-mata hitam bergegas menyusul dan berdiri di belakang lelaki kurus tinggi yang tadi membentak Bambang, "Ja-ja-jangan, k-k-Kang, k-ka-k-kali a-aja dia l-lagi me-me-mindahin kayu i-i-itu, ka-k-kang Bro," ucapnya terbata-bata tapi bukan karena takut.
Lelaki berbadan kurus tinggi dan memiliki jambang yang menutupi dagunya masih menatap Bambang tapi bukan dengan tatapan marah, melainkan dengan tatapan senyum tipis yang perlahan terukir di wajahnya.
"Kamu beneran mau mindahin kayu ini?" tanya lelaki berbadan kurus tinggi dan memiliki jambang yang menutupi dagunya tiba-tiba menjadi ramah sambil menurunkan kedua tangannya yang tadi berkacak pinggang. Tapi, wajah sangarnya masih saja tampak walau ia tersenyum semanis apapun.
"Si kurus ini aneh banget sih?! Tadi marah-marah, sekarang malah ramah," pikir Bambang sembari tersenyum masam menatap lelaki berbadan kurus tinggi yang menginjakkan kaki kiri di atas batang kayu besar.
"Woy! Ditanya kok malah senyam-senyum sendiri!" Lelaki berbadan kurus tinggi dan memiliki jambang yang menutupi dagunya itu malah kembali membentak.
"Iya, Om," sahut Bambang sontak menganggukkan kepalanya dengan senyum takut yang terukir di wajahnya.
"Am om am om! Gue bukan suami tante loe!" Lelaki berbadan kurus tinggi dan memiliki jambang yang menutupi dagunya kembali mengangkat kedua tangannya berkacak pinggang.
"I-iya, maaf, ..." sahut Bambang pelan dan gugup dengan raut wajah takut menatap lelaki berbadan kurus yang tampak kembali marah, "... te-terus, saya manggilnya apa?" tanya Bambang tersenyum ragu, tapi ia terlanjur telah mengucapkannya.
Lelaki berbadan kurus tinggi perlahan memudarkan tatapan marahnya kemudian menyunggingkan senyum ke arah Bambang, "Nama saya Brontus, panggil saja saya Akang Brontus atau Kang Bro," ucapnya memberitahukan namanya dengan ramah sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Bambang.
"I-iya, Akang Brontus," sahut Bambang tersenyum masam sambil mengangguk pelan menatap lelaki berbadan kurus tinggi itu.
Lelaki berbadan kurus tinggi kembali mengubah raut senyum menjadi raut marah ketika Bambang berkata sambil mengangguk tadi, tapi tangan kanannya yang diulurkannya ke arah Bambang belum juga ia tarik kembali.
"Woy! Gue udah ngulurin tangan buat salaman ini!" Lelaki berbadan kurus tinggi itu lagi-lagi membentak karena kesal jabat tangannya tak disambut baik oleh Bambang.
"Eh! ..." Bambang bergegas turun dari motor matik hijau miliknya dan melangkah cepat mendatangi lelaki berbadan kurus tinggi yang masih mengulurkan tangan kanan ke arahnya, membuat raut marah pada wajah lelaki berbadan kurus tinggi di depannya berubah menjadi raut senyum, senyuman yang sudah sangat manis walau masih kelihatan sangar, "... na-na-nama saya Bambang, Kang," ucap Bambang mengangguk pelan dan menyambut jabat tangan Kang Brontus.
"W-wah, ba-ba-baru k-kali in-in-i-ini lo-loh ak-k-aku li-lia-liat k-k-Kang Bro-br-brontus baik, ..." ucap lelaki berbadan kekar berkaca-mata hitam gagap dan menyunggingkan senyum menatap ke arah Bambang, "... Biasanya Kang Brontus langsung gelut loh, Mbang."
"Ah! Mendingan kamu diam aja dah Mel! Capek aku nungguin kamu selesai ngomong." Kang Brontus berbalik badan dan menatap lelaki berbadan kekar berkaca-mata hitam yang gagap itu.
Lelaki berbadan kekar berkaca-mata hitam itu mengangguk menurut sambil tersenyum takut menatap Kang Brontus.
Kang Brontus berbalik badan lagi dan menatap Bambang, "Ini, cowo yang ini, ..." Kang Brontus memalingkan kepalanya sebentar sambil menepuk pundak lelaki berbadan kekar berkaca-mata hitam di belakangnya kemudian kembali menatap ke arah Bambang, "... dia namanya Meli, udah gagap dari lahir," ucap Kang Brontus memperkenalkan lelaki berbadan kekar berkaca-mata hitam kepada Bambang.
Lelaki berbadan kekar berkaca-mata hitam bernama Meli itupun mengulurkan jabat tangannya ke arah Bambang, "M-me-meli," ucapnya gagap.
Bambang menyambut jabat tangan Meli, "Bambang, Kang," ucapnya.
"Nah, kalau cowo dua yang di belakang ono, noh." Kang Brontus kembali memalingkan kepalanya ke arah belakang menatap dua lelaki yang masih belum turun dari motor.
Sontak kedua lelaki yang ditatap Kang Brontus langsung turun dan mendatangi Kang Brontus.
"Yang gemuk namanya Gandoro," ucap Kang Brontus.
"Gandoro," ucap lelaki berbadan gemuk mengulurkan tangan kanannya ke arah Bambang.
Bambang pun menyambut jabat tangan dari Kang Gandoro sambil mengucapkan namanya, "Bambang, Kang."
"Terus, yang badannya sama kayak kamu ini, ..." Kang Brontus menoleh ke belakang menatap lelaki yang satunya, lalu kembali menoleh ke depan menatap Bambang, "... Yah, walau mukanya lebih cakepan dikit dari kamu sih, dia namanya Noga, dia orang Batak."
"Noga Sitompul!" Lelaki yang tadi dikenalkan Kang Brontus mengulurkan tangan kanannya ke arah Bambang.
"Bambang, Kang," ucap Bambang pelan sambil membalas jabat tangan Kang Noga.
"Ma-maaf, k-k-Kang," ucap Kang Meli hati-hati sambil mencolek pundak kanan Kang Brontus.
"Iya, Mel?" Kang Brontus berpaling menatap Kang Meli.
"B-buk...."
"Udah! Kamu jangan ngomong dulu ya, Mel," pungkas Kang Brontus memotong ucapan Kang Meli, kemudian kembali menoleh ke arah depan menatap Bambang.
Kang Meli pun menggaruk kepalanya dengan raut wajah yang bingung. Ia menyenggolkan bahu kanannya pada bahu kiri Kang Noga yang berada di sampingnya.
Kang Noga menatap Kang Meli dan mengangkat kepalanya, "Apa, Mel?" tanyanya lugas dengan logat Bataknya.
Kang Meli bingung. Ia mengisyaratkan dengan bahasa tubuhnya, memberitahu kepada Kang Noga tentang batang kayu besar yang menghalangi di jalan.
Kang Noga mengangguk paham. Detik selanjutnya, ia pun menepuk pundak kanan Kang Brontus membuat Kang Brontus pun sontak berpaling menatap ke arahnya, "Kang Bro, ini bagaimana sama kayu yang ngehalangin jalan, Kang?" tanya Kang Noga kepada Kang Brontus dengan logat Bataknya yang khas.
"Astaga!" Kang Brontus menepuk dahinya, "... Ya sudah, kita gotong royong mindahin batang kayu ini, ayo!"
Kang Brontus, Kang Meli, Kang Noga, dan Kang Gandoro bersama Bambang pun bekerja sama memindahkan batang kayu besar yang membentang dan menghalangi jalan itu ke samping jalan.
"Ya sudah, kami berempat mau melanjutkan perjalanan lagi," ucap Kang Brontus menepuk pundak kiri Bambang.
"I-iya, Kang Bro," ucap Bambang mengangguk, "... terima kasih ya, Kang."
"Sama-sama." Kang Brontus balas mengangguk, "... Kamu jangan takut sama kami, walau kami berpenampilan preman seperti ini tapi kami bukan preman," ucap Kang Brontus tersenyum ramah walaupun wajah sangarnya masih saja kelihatan.
"Iya, Kang," sahut Bambang mengangguk lagi.
Kang Brontus dan ketiga temannya kembali naik ke motor masing-masing. Begitu juga dengan Bambang yang sudah merasa waktunya terbuang sia-sia hanya karena sebatang kayu di tengah jalan.
"Hati-hati ya, Kang," ucap Bambang tersenyum menatap ke arah empat buah motor yang dinaiki Kang Brontus dan ketiga teman Kang Brontus yang melintas di sampingnya.
Kang Brontus bersama ketiga temannya mengangguk serentak setelah mendengar ucapan Bambang, dan mereka perlahan mempercepat laju motor yang mereka naiki, meninggalkan Bambang bersama motor matik hijau di jalan.
"Aah...." Bambang mengelus dadanya sambil bernafas lega setelah melihat keempat orang berwajah sangar itu pergi. Tangan kanannya terulur ke arah kunci motor yang masih menancap di tempatnya, lalu ia putar kunci itu. Kemudian kedua tangannya bersiap pada posisi. Mesin motor matik yang ia naiki menyala dan langsung memacunya. Mengendarainya menuju rumah kediaman Lala dengan sangat cepat.