Terdengar suara siraman air dari dalam kamar kecil. Detik berikutnya, pintu pada kamar kecil terbuka lebar diikuti Bambang yang melangkah ke luar melalui pintu tersebut.
"Aaaahh...." Bambang bernafas lega karena sudah selesai dengan urusan perutnya dan langsung berjalan ke arah depan rumah kediamannya.
Ia melangkah ke luar melalui pintu depan dan bergegas mendatangi motor matik hijaunya yang terparkir di depan rumah. Tapi, langkahnya terhenti saat melintas di samping jemuran pakaian di halaman depan rumah.
"Ini apa?!" Bambang mengerutkan kedua keningnya. Kedua matanya terpaku menatap selembar sweater hitam dan selembar celana denim yang menggantung di jemuran. Ia melangkah perlahan mendekati sepasang pakaian tersebut, "Waaah! Baju sama celananya keren banget, ..." Bambang sumringah sambil tangannya menyilak sepasang pakaian yang masih terasa sedikit basah, "... Kalau Lala liat aku pakai ini, Lala pasti bilang aku keren," gumam Bambang masih tersenyum sumringah dan pandangan nyatanya berubah menjadi khayalan.
Bambang semakin tersenyum lebar dengan pandangannya yang mengkhayalkan Lala mengatakan itu padanya.
"Bambang, kamu keren banget. Aku suka sama kamu...."
Detik selanjutnya, Bambang segera melepaskan diri dari khayalan tingkat tingginya karena ingat bahwa urusan tentang Lala lebih penting.
Bambang menoleh ke segala arah dan menyebarkan pandangan. Setelah dirasa cukup aman, tanpa berlama-lama kedua tangannya mengambil selembar sweater dan selembar celana denim lalu membawanya ke dalam rumah dan naik ke atas loteng untuk mengenakannya.
Kepalanya menengok ke bawah melalui tangga, "Ada orang nggak ya?!" gumam Bambang memeriksa keadaan di ruang depan kediamannya, "Kayaknya nggak ada deh." Bambang pun dengan sangat yakin melangkah turun melalui tangga dan tiba di ruang depan. Kemudian ia melangkah berjinjit dan berhenti di dekat pintu depan rumah. Ia kembali menengok ke arah luar untuk memastikan semuanya aman, lalu bergegas mendatangi motor matik hijaunya yang terparkir di halaman depan rumah kediamannya.
Sementara itu, di pagi yang sama.
Lala sedang mengobrol dengan ibu Anti si pemilik warung tepat di depan pintu rumah yang ada di sebelah kiri warung.
"Gimana, Ce Anti mau bantu Lala, kan?" tanya Lala dengan tatapan penuh harap menatap Ibu Anti yang berdiri berhadapan dengannya.
"Setelah dengar cerita kamu, ..." Ibu Anti tersenyum tipis sambil menjatuhkan telapak tangan kanannya di atas pundak kiri Lala, "... Cece bakalan bantu kamu," ucap Ibu Anti mengangguk mengiyakan.
"Makasih, Ce!" seru Lala melompat kegirangan lalu memeluk erat tubuh Ibu Anti.
"Iya, nggak masalah," ucap Ibu Anti ramah kemudian melepaskan pelukan dari Lala, "... Sekarang mendingan kamu masuk ke dalam sembunyi dulu. Entar malah ketahuan," ucap Ibu Anti menunjuk ke arah dalam rumahnya.
Lala mengangguk cepat dengan senyum bahagianya, "Iya, Ce," ucap Lala kemudian melangkah melewati pintu dan masuk ke dalam rumah kediaman Ibu Anti untuk bersembunyi.
Setelah Lala masuk ke dalam rumah, Ibu Anti langsung berjalan ke arah belakang rumahnya, dan melihat sebatang kayu panjang berukuran cukup besar, "Nah! Pakai itu aja."
Ibu Anti kembali melangkah ke depan rumah dan masuk mendatangi Lala, "Kamu bantuin saya ngambil kayu ya, La."
"Iya, Ce." Lala mengangguk.
Ibu Anti dan Lala bekerja sama mengangkat sebatang kayu panjang berukuran cukup besar. Mereka membawa batang kayu tersebut ke arah jalan dan meletakkannya di tengah jalan tepat di depan warung dengan posisi membentang.
"Ayo, nanti keburu dia datang!"
Lala mengangguk. Detik berikutnya, ia bersama Ibu Anti sama-sama masuk ke dalam rumah kemudian mengintip melalui kaca jendela, menatap ke arah batang kayu berukuran cukup besar yang tadi mereka letakkan.
Tak lama kemudian, mereka melihat sebuah motor matik hijau yang dikendarai Bambang melintas dan berhenti tepat di depan batang kayu yang membentang menghalangi jalan.
Lala bersama Ibu Anti tertawa pelan saat melihat Bambang yang tampak kebingungan.
Bambang turun dari motor matik hijaunya dan melangkah mendekati batang kayu di depan motor matik hijaunya, "Waah! Ini batang kayu kok bisa ada di sini sih?!" gumam Bambang sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia melangkah ke salah satu ujung batang kayu. Kedua tangannya terulur untuk memegang erat ujung batang kayu tersebut, lalu menariknya dengan sekuat tenaga. Tapi, batang kayu tersebut tak bergeser sedikitpun.
Bambang tidak menyerah karena ingat akan semangatnya yang membara untuk bertemu dengan Lala. Dengan nafas yang mulai terengah, ia bersikeras menarik batang kayu tersebut. Tapi, hasilnya tidak berubah. Batang kayu yang ditariknya tampak enggan untuk bergeser apalagi berpindah tepat.
"Duh!" Bambang menggaruk kepalanya dengan cepat. Terlihat sangat kesal, "Siapa sih yang naruh kayu di sini!" Ia berkacak pinggang sambil menoleh ke segala arah.
Di tempat Lala dan Ibu Anti berada, mereka masih tertawa pelan menertawakan Bambang. Mereka benar-benar berhasil membuat Bambang membuang waktu.
"Kayaknya aku harus cepat deh, Ce," ucap Lala menatap Ibu Anti di sampingnya setelah tawa pelannya mereda.
Ibu Anti mengangguk, "Iya, kamu lewat belakang aja biar dia nggak ngeliat kamu, La, ..." ucap Ibu Anti, "... Mari saya antar." Ibu Anti beranjak berdiri dan melangkah ke arah dalam rumah dengan diikuti oleh Lala dari belakang.
Setelah keluar melalui pintu belakang, Ibu Anti menyuruh Lala agar bergegas menuju ke depan gang agar Bambang tidak melihatnya.
Lala pun mengiyakan. Ia berhati-hati melangkah sambil sesekali menengok ke arah di mana Bambang berada. Setelah dirasa cukup aman, ia mempercepat langkahnya menuju ke depan gang untuk mendatangi Sandi yang sudah bersiap menunggunya di sana.
Lala berjalan cepat mendatangi sebuah motorsport berwarna merah yang ditunggangi Sandi.
"Ayo, La, kita berangkat," ajak Sandi setelah melihat Lala berdiri disampingnya dan tampak terengah.
"Kamu tenang aja, kita masih punya banyak waktu kok," sahut Lala menatap Sandi dengan tatapan yakin.
"Tapi, kalau Bambang malah balik ke sini lagi gimana?" tanya Sandi menatap Lala dengan tatapan ragu.
"Wah! Ini motor baru, ya?" Lala mengalihkan pembicaraan dengan membahas motor yang ditunggangi Sandi.
"Hmm, iya, ..." Sandi mengangguk mengiyakan dengan tersenyum malu, "... Masa boncengin cewek cantik kayak kamu harus pakai motor butut sih?"
"Kalau aku sih, bebas mau pakai motor apa aja, asal yang ngebonceng aku itu kamu, San," sahut Lala.
"Ah masa."
"Iya beneran," ucap Lala mengangguk pasti dengan tatapan penuh keyakinan.
"Oh iya, La. Seminggu lagi aku sama orang tua aku bakalan datang ke rumah kamu."
"Emang mau ngapain?" Lala mengerutkan kedua keningnya. Bingung dengan maksud yang diucapkan Sandi.
"Ya buat ngelamar kamu lah, emang mau ngapain lagi?"
"Hah!" Lala tertegun. Kedua matanya membulat menatap wajah Sandi yang tersenyum tipis menatap wajahnya.
"Ta-tapi, aku...." Lala menundukkan wajahnya.
"Tapi kenapa lagi?!" Sandi mengulurkan tangan kanannya untuk mengangkat wajah Lala, "... Aku nggak mau kalau kamu terus-terusan diganggu sama Bambang, La," ucap Sandi menyunggingkan senyum penuh arti.
Lala pun membalas senyum Sandi yang berada di depannya, kemudian mengangguk pelan membuat Sandi seketika tersenyum senang.