Bibi Suti membuat tiga gelas teh herbal di dapurnya yang penuh tumbuhan kering tergantung dari langit-langit. Aroma serai, daun mint, dan sesuatu yang Maya tidak kenali tapi yang Damar—dengan sedikit anggukan—tahu.
"Daun gandarusa," Damar berkata pelan. "Untuk menetralkan racun."
Bibi Suti tersenyum. "Anak yang pintar. Kawanan Pradipta memang tahu herbal."
"Bibi belajar dari kawanan?"
"Dari nenek saya. Yang notabene nenek Maya juga."
Maya duduk di kursi rotan tua di ruang tamu Bibi Suti. Tangannya melingkar di gelas teh hangat. Damar di kursi seberangnya. Bibi Suti menghadap mereka berdua, dengan postur perempuan yang sudah lama memendam cerita.
"Maya, sayang. Ibu kau tidak pernah cerita tentang keluarga kita."
"Iya, Bibi."
"Itu karena ibu kau memilih meninggalkan kawanan. Untuk menikahi ayah kau, manusia biasa, dan hidup tenang. Dia ingin kau tumbuh tanpa beban kawanan."
"Kawanan apa, Bibi?"
Bibi Suti menatap Maya. Lalu Damar.
"Tirtonegoro. Yogyakarta."
Damar menegakkan punggungnya. Cangkir di tangannya berhenti di tengah jalan ke mulutnya.
"Klan Tirtonegoro? Saya kira mereka—"
"Punah?" Bibi Suti tersenyum pahit, lalu menyesap tehnya. "Tidak punah. Pindah. Setelah kakek saya—dan ibu Maya, generasi terakhir yang masih aktif—sebagian besar dari kami menikahi manusia dan menghilang ke kota-kota besar. Kawanan secara resmi dibubarkan tahun 1998, di pertemuan terakhir di Yogya. Sekitar dua puluh delapan keluarga, semua memilih sipil."
"Tapi darah tetap turun."
"Tapi darah tetap turun. Iya."
Maya menatap bibinya.
"Bibi juga..."
"Iya, sayang. Saya seperempat. Sama seperti kau. Tapi saya tidak pernah punya pasangan kawanan—bond saya tidak pernah aktif, mungkin karena saya tidak pernah dekat dengan alpha. Saya hidup sebagai dukun herbal di Antapani. Damai. Sendirian, tapi damai."
"Tapi Reno—Wijayakusuma—mau—"
"Saya tahu apa yang mereka mau."
Bibi Suti meletakkan tehnya. Wajahnya jadi serius—wajah yang Maya tidak pernah lihat di bibinya yang biasanya hangat.
"Kawanan Wijayakusuma sudah lama mengincar darah Tirtonegoro. Mereka percaya kalau mereka bisa memurnikan ulang darah Tirtonegoro ke kawanan mereka, mereka bisa menjadi kawanan paling kuat di Indonesia."
"Kenapa tidak ke Bibi?"
"Karena saya tidak punya mate bond aktif. Bond yang aktif adalah indikator bahwa keturunan biologis mungkin terjadi. Bibi tidak bisa hamil—divorsi sedang sebelum saya umur empat puluh, biaya keturunan tidak optimal. Tapi kau, Maya—kau dengan Damar—bond aktif berarti tubuh kau siap. Itu sebabnya mereka memburu kau, bukan saya."
Maya menatap Damar. Damar menatap balik dengan mata yang tidak bisa Maya baca—campuran khawatir dan sesuatu yang lebih dalam.
"Bibi. Apa yang harus saya lakukan?"
"Sayang. Ada satu hal yang perlu kau tahu. Tentang darah Tirtonegoro."
"Apa?"
"Generasi pertama Tirtonegoro—sembilan ratus tahun lalu—membuat racun. Racun yang dirancang khusus untuk membunuh kawanan rival. Racun itu tidak ada di tubuh, di luar—racun itu hidup di darah keturunan Tirtonegoro. Tidur. Aktif kalau dipanggil dengan ramuan pemicu."
Maya merasa darahnya jadi dingin.
"Saya punya racun di darah saya."
"Iya. Tidak aktif sekarang—tubuh kau kelihatan biasa. Tapi bisa diaktifkan."
Damar berdiri. Wajahnya gelap.
"Bibi Suti. Itu—kalau itu bocor ke kawanan lain—Wijayakusuma akan—"
"Saya tahu, Damar. Itu sebabnya saya tidak pernah cerita ke siapa pun selain kau berdua hari ini. Tapi sekarang, dengan Wijayakusuma di belakang Maya, saya rasa Maya harus tahu. Karena kalau dia tahu, dia bisa memilih—aktifkan atau tidak."
Maya menatap bibinya dengan tangan gemetar. Cangkir di tangannya hampir tumpah.
"Bibi. Kalau racun aktif... saya jadi senjata."
"Tepat. Itu sebabnya ibu kau tidak pernah cerita. Dia ingin kau hidup sebagai manusia biasa. Tidak terlibat dalam politik kawanan. Tidak menjadi alat untuk siapa pun."
"Tapi sekarang—"
"Sekarang berbeda. Kau sudah terlibat. Tinggal pilihan: hadapi tanpa senjata, atau dengan senjata."
Bibi Suti berdiri. Mengambil sesuatu dari laci dapur—laci yang Bibi Suti tunjukkan pelan, supaya Damar tahu di mana dia menyimpan. Botol kaca kecil dengan cairan merah gelap. Cairan yang Maya curiga adalah darah, atau sesuatu yang terlihat seperti darah.
"Ini. Saya buat dari herbal—kombinasi daun gandarusa, getah pohon mahoni Jawa, dan sembilan jenis bunga yang hanya tumbuh di pegunungan Jawa Barat. Kalau kau dalam bahaya nyata, dan kau perlu mengaktifkan racun di darah kau—minum ini. Itu pemicu. Sekali aktif, kau bisa membunuh kawanan dengan satu sentuhan. Tapi sekali aktif, racun itu ada di kau selamanya. Kau jadi senjata."
Maya menatap botol itu dengan tangan yang menolak bergerak.
"Bibi—"
"Saya harap kau tidak pernah pakai. Saya harap Damar bisa melindungi kau dengan kawanan-nya. Tapi kalau semuanya gagal—minum itu."
Damar mengambil botol. Memberikannya ke Maya dengan tangan yang... berhati-hati. Seperti dia menyentuh barang yang bisa pecah, atau yang lebih berbahaya dari yang Maya tahu.
"Maya. Itu cuma kalau semuanya gagal. Bukan opsi pertama. Bukan opsi kedua. Opsi terakhir."
Maya memasukkan botol ke tasnya. Pelan. Hati-hati.
"Bibi. Terima kasih."
"Sayang. Hati-hati."
Mereka pulang ke Jakarta malam itu. Di mobil, Damar tidak banyak bicara. Maya juga.
Tapi di tengah tol Cipularang, Maya bilang pelan:
"Damar. Kau masih mau menikahi saya kalau tahu saya ini... senjata?"
Damar menatap jalan. Tangan kanannya mencari tangan Maya di kursi depan. Menggenggamnya.
"Maya. Saya bukan menikahi kau karena darah kau. Saya menikahi kau karena tubuh saya tahu kau pasangan saya. Itu tidak berubah."
Maya menutup mata. Dan untuk pertama kalinya sejak dia tanda tangan kontrak itu, dia merasa—entah dari mana—bahwa dia sudah pulang.