Hari-hari setelahnya, sebelum trip ke Bandung yang mereka tunda dua hari karena Damar harus selesaikan rapat kawanan urgent, Maya mulai memperhatikan hal-hal yang dulu dia abaikan.
Dia bisa mendengar percakapan Yuni dan Bagas dari dapur—padahal kamarnya di lantai dua, tiga ruangan jauhnya. Dia bisa mencium parfum Damar dari lobi—padahal Damar di lantai atas, di kamar yang berbeda. Dia bisa merasakan, tanpa melihat, kapan Damar pulang dari kantor—seolah ada radar di tubuhnya yang sebelumnya tidak aktif.
Sore di hari kedua, sambil makan kue di dapur, Maya bertanya:
"Yuni, apakah aroma kau biasanya jeruk?"
Yuni mengangguk, terkejut. Mengaduk teh-nya berhenti sebentar.
"Iya, Bu. Sabun saya jeruk. Kenapa Bu?"
"Saya bisa cium dari lantai dua. Bahkan saat saya di kamar mandi. Itu... itu normal?"
Yuni tersenyum kecil. Senyum yang Maya sekarang tahu artinya: *iya, dan saya pernah lihat ini sebelumnya.*
"Mate bond Bu sedang aktif, Bu."
"Apa hubungan mate bond dengan penciuman?"
"Tubuh Bu mulai 'membuka.' Indera-indera serigala yang dulu dorman—seperempat darah Bu yang sebelumnya tidur—sekarang bangun. Karena Bu dekat dengan alpha pasangan. Bond itu seperti tombol yang menghidupkan jaringan saraf yang dulu tidak aktif."
Maya duduk di kursi dapur. Memikirkan ini. Yuni meletakkan dua kue lemper di piring kecil, menyodorkan ke Maya.
"Yuni. Kau juga punya pasangan?"
"Iya, Bu. Bagas."
"Sejak kapan?"
"Tujuh tahun. Kawin sederhana di paviliun belakang—kawanan yang menyaksikan, bukan KUA. Sekarang kami punya satu anak, tinggal di rumah keluarga Bagas di Tangerang."
"Bagaimana rasanya... mate bond?"
Yuni meletakkan sayur yang dia siangi. Duduk di kursi seberang Maya. Untuk pertama kali sejak mereka kenal, Yuni terlihat seperti teman, bukan pegawai.
"Bu, saya jujur ya. Awalnya... aneh. Karena tubuh kau bilang 'iya' sebelum otak kau siap. Saya kenal Bagas tiga hari, tubuh saya sudah memilih dia, sebelum saya tahu nama lengkapnya. Saya melawan dua bulan. Karena saya pikir saya tidak siap."
"Lalu?"
"Lalu setelah dua bulan, saya sakit. Bukan sakit biasa—sakit dari bond yang ditolak. Tubuh saya menolak makan, tidak bisa tidur, indera saya kembali tidur tapi rasanya seperti mati setengah. Bagas—yang juga merasakan hal yang sama—datang ke kamar saya, dan dia bilang: 'Yuni, kalau kau tidak siap, saya tidak akan memaksa. Tapi saya tidak bisa hidup dengan setengah napas.'"
"Lalu?"
"Lalu saya kawin dengan dia. Dan setelah itu... saya sadar tubuh saya benar. Otak kadang terlalu hati-hati. Tubuh tahu lebih dulu."
Maya menatap Yuni.
"Kau dan Bagas... dijodohkan?"
"Tidak, Bu. Kami ketemu di acara kawanan, bond aktif, kawin. Tapi... bond bukan paksaan. Kau bisa menolak. Cuma sakit. Dan kalau kau cukup keras kepala, kau bisa hidup tanpa pasangan—lemah, tapi bisa. Beberapa kawanan memilih jalan itu."
Maya memikirkan ini.
Malam itu, dia makan malam dengan Damar. Mereka mulai sering makan bersama sekarang—tidak banyak bicara, tapi tidak diam yang canggung. Diam yang nyaman.
"Damar. Saya bisa mencium kau dari lantai bawah."
Damar tersenyum kecil. Pertama kali Maya melihatnya tersenyum sejak parkiran.
"Saya juga bisa cium kau."
Maya hampir menjatuhkan sendoknya. Wajahnya panas.
"Damar—"
"Maaf. Itu... refleks. Mate bond aktif di alpha lebih intens."
"Refleks mengejek istri kau?"
"Refleks alpha. Dan... iya, sedikit mengejek."
Maya tertawa. Pertama kali tertawa di mansion itu sejak hari pertama. Tawa yang membuat Yuni di pintu dapur tersenyum sebelum cepat-cepat menarik kepalanya kembali.
"Damar, saya—saya mau tanya sesuatu."
"Iya."
"Bibi saya—adik ibu—masih hidup. Tinggal di Bandung. Bibi Suti. Saya mau temui dia. Mungkin dia tahu lebih banyak tentang ibu—dan tentang siapa saya."
Damar mengangguk. Wajahnya serius lagi.
"Saya antar kau besok. Tiga jam ke Bandung. Saya bisa atur jadwal."
"Kau tidak harus—"
"Maya. Di luar mansion ini, kau target. Saya antar."
Mereka berangkat besok pagi. Tiga jam ke Bandung. Maya tidur di mobil sebagian, kepala bersandar ke jendela kaca yang dingin. Damar setir dengan gerakan yang stabil, sesekali melirik Maya yang tidur dengan ekspresi yang Maya tidak lihat tapi Yuni—yang akan cerita kemudian—lihat di kaca spion saat dia mengirim Damar list kontrol darurat.
Saat mereka sampai rumah Bibi Suti—rumah kecil di Antapani, halaman penuh tanaman herbal yang menggantung di teras, aroma serai dan daun mint dari pintu masuk—Bibi Suti sudah berdiri di teras seolah dia tahu mereka datang.
Wajahnya berubah pucat saat melihat Damar.
"Maya... kamu... kamu menikah dengan kawanan?"
Maya berhenti di tangga teras. Melihat reaksi bibinya, dan untuk pertama kalinya menyadari: Bibi Suti tahu.
"Bibi tahu? Tentang kawanan?"
Bibi Suti menatap Damar dengan mata yang gemetar. Mengabaikan pertanyaan Maya.
"Pradipta?"
Damar mengangguk. Dengan rasa hormat yang aneh—rasa hormat yang Maya tidak pernah lihat di alpha-nya untuk siapa pun lain.
"Bibi Suti. Saya alpha kawanan Pradipta. Saya menikahi keponakan Bibi atas perlindungan, dan atas... bond."
Bibi Suti membuka pintu lebar-lebar. Tangan-nya yang gemetar mengelap mata.
"Masuk. Kita bicara. Banyak yang harus saya cerita."