Dua minggu setelah Bandung, sesuatu berubah di antara mereka.
Damar mulai pulang lebih cepat dari kantor—bukan jam delapan, tapi jam tujuh, kadang setengah tujuh. Maya mulai menunggu di teras belakang dengan dua cangkir kopi—satu untuk dia, satu untuk Damar—seperti dia sudah bertahun-tahun melakukan ini, walaupun kenyataannya baru dua minggu.
Mereka makan malam bersama setiap hari sekarang. Bicara tentang hal-hal kecil: rapat Damar yang membosankan dengan investor Singapore, lelucon Yuni di dapur tentang Bagas yang tidak bisa masak telur, novel yang Maya baca lagi setelah lima tahun tidak punya waktu.
Suatu malam, Damar bercerita tentang masa kecilnya untuk pertama kalinya.
"Saya dilahirkan jadi alpha," Damar berkata, mengaduk kopinya yang sudah dingin. "Sejak umur empat tahun, saya sudah dilatih untuk memimpin. Tidak ada main bola di sekolah seperti anak normal. Tidak ada teman sekolah yang akrab—saya tidak boleh dekat dengan manusia. Cuma latihan: bertarung, taktik, hukum kawanan, ekonomi, bisnis."
"Berat."
"Iya. Tapi itu hidup saya. Saya tidak tahu hidup lain."
"Damar. Apa kau pernah... punya pacar? Sebelum saya?"
Damar tertawa pelan. Suara tawanya—Maya baru sadar—adalah suara yang dia ingin dengar lagi. Suara yang pelan, dalam, dan jarang muncul.
"Tidak."
"Tidak satu pun?"
"Tidak. Alpha tidak pacaran. Alpha menunggu pasangan—mate bond. Dating biasa adalah pemborosan energi, kawanan bilang. Energi itu untuk perlindungan kawanan, bukan untuk hubungan emosional yang tidak permanen."
Maya menelan ludah. "Berapa lama kau menunggu?"
"Tiga puluh tahun."
Maya menatap pria di seberang meja. Pria yang dingin di publik. Yang tidak tertawa di majalah. Yang mata gelapnya selalu kelihatan jauh di setiap foto.
Pria yang sekarang sedang menatap dia dengan sesuatu yang Maya tidak bisa beri nama. Tapi yang dia rasakan di setiap pori kulitnya.
"Damar. Saya juga... tidak pernah benar-benar pacaran. Cuma pernah dating beberapa kali waktu kuliah. Tidak pernah serius. Setiap kali saya dekat dengan seseorang, saya merasa... tidak utuh. Seperti ada bagian dari saya yang menunggu yang lain."
"Kenapa?"
"Saya tidak tahu kenapa saat itu. Sekarang saya tahu."
Damar menatap Maya. Lama.
"Mate bond bekerja dua arah, Maya. Tubuh saya menunggu. Tubuh kau juga, walaupun otak kau tidak tahu apa yang ditunggu."
"Damar. Saya..."
"Iya."
"Saya merasa... seperti saya pulang. Sejak saya tinggal di sini. Bahkan sebelum saya tahu apa-apa tentang kawanan."
Damar tersenyum. Senyum yang penuh.
"Maya."
"Iya."
"Setelah setahun. Setelah kontrak selesai. Apa kau mau—"
"Damar."
"Iya."
"Kontrak kita berakhir di hari empat ratus tiga puluh dua. Saya hitung dari hari saya tanda tangan."
"Empat ratus tiga puluh dua hari lagi. Iya, saya juga hitung."
"Tapi mate bond ini... lebih lama dari itu, kan?"
Damar menatap Maya. Tatapan yang Maya akan ingat seumur hidup.
"Iya, Maya. Mate bond seumur hidup."
Maya menyeberangi jarak meja. Duduk di pangkuan Damar—tindakan yang dia tidak rencanakan, yang tubuhnya lakukan tanpa izin otaknya, yang Maya hanya sadari sudah dilakukan saat dia sudah duduk di sana.
Damar memeluknya. Hati-hati. Seperti dia memeluk sesuatu yang berharga.
"Maya, kau—"
"Damar. Diam."
Mereka berciuman. Pelan. Lama. Ciuman yang sudah ditunda dua minggu, sejak parkiran. Ciuman yang Maya akan pelajari mengenang setiap kalimatnya—rasa kopi, aroma cologne kayu cedar, kehangatan pria yang berhari-hari sudah tidur di kamar yang berbeda dari Maya.
Di luar, hujan turun deras—khas Jakarta di akhir Maret, hujan tropis yang membasahi taman dengan kekuatan sebelum berhenti dalam tiga puluh menit.
Di mansion ini—yang dulu seperti penjara untuk Maya—Maya untuk pertama kalinya merasa: ini rumah.
Tapi malam itu, Damar tidak membawa Maya ke kamar. Damar menggendongnya ke ranjang Maya sendiri—sayap kanan, kamar yang Maya pilih hari pertama—dan menyelimutinya.
"Maya. Saya tidak mau buru-buru."
"Damar—"
"Kita masih punya empat ratus tiga puluh dua hari kontrak. Lalu lebih lama. Lalu seumur hidup. Saya tidak buru-buru. Saya sudah menunggu tiga puluh tahun—dua minggu lagi tidak akan membunuh saya."
Maya tertawa. Air mata kecil di sudut matanya.
"Damar. Saya cinta kau."
Damar berhenti di pintu kamar. Berbalik. Mata coklatnya yang sekarang Maya tahu punya kuning emas di dalamnya, menatap dia dengan ekspresi yang membuat Maya berhenti bernapas sebentar.
"Maya. Saya cinta kau. Sejak hari pertama saya melihat foto kau. Sebelum saya tahu siapa kau sebenarnya. Sebelum saya tahu apapun."
Pintu ditutup pelan.
Maya tidak tidur sampai jam tiga pagi. Tapi malam itu, dia tidak takut.
Dia bahagia.
Dia tidak tahu—tapi dia akan tahu besok pagi—bahwa kebahagiaan ini akan diserang dalam tiga hari.