Mereka kembali ke mansion dalam diam. Bagas dan Wira selamat—luka, tapi sembuh cepat. Damar bilang kawanan Wijayakusuma sudah mundur sepenuhnya untuk sementara, walaupun dia tidak yakin berapa lama "sementara" itu.
Di ruang kerja Damar—ruangan di lantai dua yang Maya belum pernah masuki, dengan rak buku dari kayu jati dan meja kerja yang lebih besar dari kasur kontrakan Maya—Maya akhirnya bisa bertanya hal yang membuat dia tidak bisa diam dari tadi.
"Reno bilang saya 'apa.' Apa maksudnya?"
Damar duduk di seberang meja kerjanya. Wajahnya gelap, dan untuk pertama kalinya sejak Maya masuk mansion, dia kelihatan lelah. Bukan lelah kerja. Lelah dari sesuatu yang lebih dalam.
"Maya. Kau pernah merasa hal-hal aneh?"
"Aneh seperti apa?"
"Pendengaran lebih tajam dari orang lain. Penciuman. Mimpi tentang bulan."
Maya hampir menjatuhkan cangkir tehnya yang Yuni baru saja antar.
"Bagaimana kau—"
"Kau pernah punya?"
"Iya. Sejak SMA. Saya kira saya cuma pendiam, jadi indera lebih peka. Saya bisa mencium dari mana ibu masak ayam dari ujung kompleks. Saya bisa dengar tetangga sebelah berantem dengan istrinya walaupun jendela ditutup."
"Dan ibu kau? Ibu kau pernah cerita soal keluarga ibu kau? Nenek kau, kakek kau dari pihak ibu?"
"Tidak. Ibu bilang mereka semua meninggal sebelum saya lahir. Dia tidak pernah ke pemakaman mereka, tidak pernah cerita soal masa kecilnya."
"Maya. Ibu kau setengah serigala."
Maya berhenti. Menatap Damar. Otak rasionalnya berusaha berargumen, tapi Damar—dengan ketenangan yang sama dengan saat dia mengaku alpha kemarin pagi—tidak kelihatan sedang bercanda.
"Apa."
"Kawanan tidak pernah sepenuhnya hilang dari peta genetik. Kadang, satu generasi keluar dari kawanan—menikahi manusia, hidup sebagai manusia, melupakan asal-usul. Tapi darah serigala turun. Lemah, tidak aktif. Tapi turun."
"Ibu saya?"
"Ibu kau anak setengah serigala. Itu artinya kau seperempat. Cukup untuk mate bond aktif. Cukup untuk diburu kawanan yang ingin... memurnikan kembali."
"Memurnikan?"
Damar menatapnya dengan mata yang khawatir.
"Wijayakusuma percaya darah serigala harus kembali ke kawanan. Mereka memburu setengah-darah dan seperempat-darah, memaksa mereka kawin dengan murni-darah, lalu... mengembalikan ke kawanan. Itu cara mereka. Eksperimen genetik, dengan target yang biasanya tidak punya pilihan."
"Memaksa."
"Iya. Tidak selalu fisik. Kadang manipulasi, ancaman keluarga, ekonomi. Tapi tujuan akhir: menghasilkan keturunan murni dengan darah Tirtonegoro."
"Jadi Reno—dia mau—"
"Membawa kau ke kawanan dia. Dijadikan istri salah satu dari mereka. Untuk menghasilkan keturunan murni."
Maya menutup mulutnya. Tubuhnya gemetar—bukan dari ketakutan murni, tapi dari kombinasi rasa muak dan tidak percaya.
"Damar. Saya... saya tidak tahu apa-apa tentang ini. Saya cuma orang biasa. Saya kuliah komunikasi. Saya kerja di perusahaan event. Saya nggak pernah—"
"Saya tahu."
"Ibu saya tahu?"
"Ibu kau tahu. Itu sebabnya kontrak ini ada. Bukan utang. Pelindungan. Ibu saya, atas permintaan ibu kau, mencari alpha yang bisa melindungi kau dari Wijayakusuma. Saya yang dipilih karena—" Damar diam, "—karena alasan yang baru saya tahu."
"Alasan apa?"
Damar menatap meja. Rasanya lantai bergerak di bawah Maya.
"Mate bond, Maya. Tubuh saya mengenali kau sejak ibu saya pertama kali tunjukkan foto kau dua tahun lalu. Tapi saya menolak—saya pikir itu fantasi alpha muda yang lonely. Setelah ibu kau menulis surat, ibu saya yakinkan saya bahwa ini lebih dari bond. Ini takdir kawanan."
"Mate bond. Damar—"
"Maya. Dengar saya dulu sebelum kau menjawab."
Damar menarik napas.
"Mate bond—ikatan jodoh—adalah cara serigala mengenali pasangan sejati mereka. Bukan cinta yang dipilih. Cinta yang... ditemukan. Tubuh tahu sebelum otak tahu. Kadang manusia juga merasakan ini, walaupun jarang. Mereka menyebutnya 'love at first sight.' Tapi untuk serigala, itu bukan first sight—itu ikatan biologis."
Maya menelan ludah. "Antara saya dan kau—"
Damar tidak menjawab. Tapi jawaban ada di wajahnya.
"Damar. Antara saya dan kau ada mate bond?"
Damar masih tidak menjawab. Tapi jawaban tetap ada di matanya, di cara dia menatap Maya yang sekarang Maya akan tidak bisa lihat sebagai netral lagi.
"Sejak kapan kau tahu?"
"Sejak hari pertama saya melihat foto kau. Saat ibu saya tunjukkan dua tahun lalu."
"Tapi kau bilang ini cuma kewajiban keluarga."
"Karena saya tidak mau memaksa kau. Mate bond adalah ikatan biologis, tapi kau tetap punya pilihan. Kalau kau menolak, bond bisa retak—dengan harga sakit fisik dan emosional yang tinggi, tapi bisa retak. Saya tidak akan biarkan kau merasa terjebak karena alpha-mu mengaku punya 'takdir.'"
Maya tertawa pelan. Tidak senang. Tidak juga sedih. Sesuatu di antaranya.
"Damar. Setiap detil tentang kau dan saya, sejak hari pertama saya tanda tangan kontrak, ternyata bukan kebetulan."
"Iya. Saya minta maaf."
"Damar—"
"Maya. Kalau kau mau pergi, kau pergi. Kontrak ini bisa saya batalkan. Saya akan kasih kau warisan tetap—saya akan urus dengan notaris, kau tidak akan kehilangan apa pun. Saya tidak mau ikatan ini menjadi penjara untuk kau."
Maya menatap pria di seberang meja itu. Pria yang baru saja jadi monster di parkiran untuk menyelamatkannya. Pria yang seharusnya dia takutkan—dan masih takut, secara teori. Tapi yang juga, secara tubuh, tidak bisa dia tinggalkan tanpa rasa kehilangan yang dia tidak bisa jelaskan.
Mate bond.
Itu yang Damar bilang.
Maya menutup mata.
"Saya tidak pulang, Damar. Setidaknya bukan sekarang."
"Maya—"
"Saya butuh waktu. Saya butuh tahu lebih banyak tentang ibu saya. Tentang siapa saya. Saya butuh ketemu adik ibu saya—Bibi Suti, di Bandung. Dia mungkin tahu hal-hal yang ibu tidak pernah cerita."
Damar mengangguk pelan. Wajahnya, untuk pertama kali sore itu, melembut.
"Saya antar kau ke Bandung."
"Damar, saya bisa naik bus."
"Maya. Kau target Wijayakusuma sekarang. Kau tidak naik bus sendirian."
Maya membuka mulut untuk protes. Lalu menutupnya. Karena Damar benar—dan karena, di sudut hati Maya yang dia tidak akan akui sekarang, dia tidak ingin pergi tanpa Damar.
"OK. Besok pagi."
"Besok pagi."
Mereka bertukar pandang sebentar. Maya berdiri pelan dari kursi.
"Damar. Satu hal."
"Iya."
"Mate bond ini—saya sudah merasakannya?"
Damar menatap Maya dengan ekspresi yang Maya akan pelajari mengingat seumur hidup.
"Iya, Maya. Sejak hari pertama kau masuk mansion ini. Cuma kau belum tahu nama-nya."