Tiga hari setelah kawanan Wijayakusuma datang ke gerbang—pertemuan yang Damar selesaikan dalam sepuluh menit tanpa Maya tahu apa yang dibicarakan, hanya tahu dari Yuni bahwa "mereka mundur, sementara"—Damar mengizinkan Maya keluar mansion.
Tapi dengan dua pengawal yang Maya kenali sebagai Bagas dan Wira, kawanan beta yang tinggal di paviliun belakang.
"Cuma ke supermarket Cipete Square, Damar. Saya butuh tampon. Dan saya gak mau Yuni belikan—itu pribadi."
"Maya, kau di-incar."
"Saya butuh tampon."
Akhirnya Damar mengalah. Tapi dengan satu syarat: parkiran di area tertutup B2, dua pengawal selalu di samping Maya, dan Maya tidak boleh keluar dari mall sampai Bagas dan Wira menyelesaikan "scan keamanan" yang Maya tidak tahu artinya.
Mall di Cipete tidak ramai sore itu. Selasa sore, jam empat. Kebanyakan pengunjung adalah ibu-ibu rumah tangga yang belanja setelah jemput anak sekolah. Maya jalan ke supermarket, ambil yang dia butuh—tampon, shampoo merek yang dia suka, biskuit untuk emergency kalau dia tidak mau turun makan malam dengan Damar—bayar di kasir. Bagas dan Wira mengikuti dari jarak yang sopan tapi tidak terlalu jauh, menyamar sebagai dua pria kantor yang kebetulan belanja juga.
Saat mereka masuk lift menuju parkiran B2, ada empat orang lain di lift yang sama. Empat pria. Berpakaian rapi—kaos polo, jeans, sepatu sneakers. Tidak ada yang mencurigakan secara visual.
Maya tidak menyadari ada yang aneh sampai pintu lift terbuka di B2 dan Bagas tiba-tiba menarik tangannya keras ke belakang—tarikan yang nyaris membuat Maya terjatuh kalau Bagas tidak sigap menahan bahunya.
"Mbak Maya, lari."
"Apa—"
Tapi Bagas sudah berbalik dengan kecepatan yang tidak masuk akal—tubuhnya yang tadi kelihatan biasa, sekarang kelihatan dua kali lebih besar, otot di lengannya menonjol di balik kaos. Wira mengikuti dari sisi lain dengan transformasi yang mirip, walaupun tidak penuh.
Empat orang di lift juga berubah. Postur mereka tiba-tiba lebih tegak, lebih siap menyerang. Cara mereka bergerak—seperti predator, bukan manusia yang tergesa.
Mata mereka. Kuning emas.
Maya berlari ke arah mobil Damar yang dia dengan—Toyota Alphard hitam yang tadi mereka parkir di slot dekat pintu lift. Tangannya gemetar mengeluarkan kunci dari tasnya. Kunci itu hampir jatuh dua kali sebelum dia berhasil pegang dengan benar.
Suara dari belakangnya—bukan suara manusia. Geraman. Tubuh saling membentur. Kaca pecah—mungkin kaca lift, mungkin kaca mobil di sebelah. Maya tidak berani menoleh.
Dan satu sosok—tinggi, kurus, berpakaian hitam, yang Maya tidak ingat ada di lift—muncul di hadapan Maya.
Matanya kuning. Senyumnya panjang—senyum yang Maya akan bawa ke kuburan kalau dia hidup sampai bisa pikir tentang detail seperti ini.
"Hai, Maya. Kawanan Wijayakusuma. Kau ikut kami sekarang."
Maya mundur. Tubuhnya menempel ke mobil Alphard. Pintu mobil terkunci—dia belum sempat tekan tombol.
Sosok itu mendekat. Tangannya—kukunya panjang, hitam—meraih leher Maya.
Maya menutup mata.
Tapi yang terjadi berikutnya bukan rasa sakit.
Suara—seperti gemuruh—dari belakang sosok itu. Lalu sosok itu terlempar ke arah dinding parkiran dengan kekuatan yang membuat dinding beton retak. Membentur. Jatuh.
Maya membuka mata.
Damar berdiri di antara dia dan sosok itu. Tapi Damar ini... bukan Damar yang dia kenal di ruang makan.
Lebih besar. Lebih tinggi—mungkin dua meter. Mata kuning emas yang menyala. Di kedua sisi rahangnya, taring panjang muncul dari balik bibir. Kuku tangannya hitam dan tajam, lebih panjang dari kuku manusia.
Tapi masih bisa dikenali sebagai Damar. Wajahnya, walaupun berubah, masih wajah pria yang kemarin pagi minum kopi di teras dengannya.
"Reno," Damar menggeram, suaranya rendah, tidak lagi suara manusia tapi getaran yang Maya rasakan di tulang dadanya. "Sentuh dia, kau mati."
Sosok yang tadi—Reno—tertawa. Berdiri dari kejatuhannya dengan gerakan yang seharusnya tidak mungkin setelah dilempar ke beton seperti itu. Mengelap darah dari sudut bibirnya. Darahnya emas, bukan merah—Maya catat di sudut otaknya yang masih bisa berfungsi.
"Damar. Akhirnya saya melihat kau dalam wujud asli. Sudah lama sekali. Tujuh tahun, kalau saya tidak salah hitung."
"Pergi."
"Maya milik kami. Klan kami yang seharusnya dapat dia—"
"Maya istri saya. Sentuh dia, kau mati."
Reno menatap Maya. Lalu Damar. Lalu Maya lagi. Senyumnya berubah—dari menyeringai jadi sesuatu yang lebih dingin, lebih dewasa, lebih menakutkan justru karena terlalu tenang.
"Damar. Kau tahu kan? Apa yang dia sebenarnya?"
Damar tidak menjawab. Tapi Maya melihat sesuatu di pundak alpha-nya—tegangan yang tiba-tiba muncul, seolah pertanyaan Reno mengena.
"Jadi kau juga tidak tahu," Reno tertawa lagi. Lebih panjang kali ini. Tawa yang menggema di parkiran beton. "Bagus. Bagus banget. Sampai jumpa, sang alpha. Sampai jumpa, Maya—kalau kau masih hidup setelah suami kau tahu siapa kau."
Reno melambai dengan kuku panjangnya. Lalu—Maya tidak bisa percaya—sosoknya menghilang. Bukan lari. Menghilang. Seperti bayangan yang ditarik ke dalam dirinya sendiri.
Damar berdiri dengan napas berat. Pelan-pelan, taringnya menghilang. Mata kuningnya kembali coklat tua. Tubuhnya menyusut kembali ke ukuran manusia—proses yang Maya saksikan dengan mata terbuka, dan yang membuat dia akhirnya yakin: ini bukan halusinasi.
Damar berbalik ke Maya. Wajahnya... khawatir. Ekspresi yang Maya akan ingat.
"Maya, kau—"
Maya tidak menjawab. Lutut Maya lemas. Dia jatuh ke lantai parkiran beton yang dingin. Menangis tanpa suara. Bukan karena takut—bukan hanya karena takut. Karena sesuatu yang lebih dalam: kesadaran bahwa hidupnya sudah tidak akan pernah sama lagi.
Damar berlutut di sebelahnya. Memeluknya hati-hati, seperti seseorang yang takut Maya akan pecah kalau dipeluk terlalu keras.
Dan untuk alasan yang Maya tidak bisa jelaskan—walaupun pria yang memeluknya baru saja jadi monster, baru saja menumpahkan darah di parkiran, baru saja menyelamatkan dia dari penculikan oleh sesuatu yang dia tidak tahu ada di dunia ini—pelukan Damar terasa seperti satu-satunya tempat aman di dunia.
Bagas dan Wira datang berlari, dengan luka tapi hidup. Bagas memeriksa Maya tanpa menyentuh.
"Bu Maya. Bu, kau baik-baik saja?"
Maya tidak bisa menjawab. Hanya mengangguk pelan di pelukan Damar.
Mereka pulang ke mansion dengan diam. Damar menyetir sendiri—dia memerintahkan supir tinggal di mall untuk mengurus jejak. Maya di kursi penumpang depan, menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun.
Sebelum mereka sampai gerbang Cipete, Maya akhirnya bicara.
"Damar."
"Iya."
"Apa yang Reno bilang. Tentang saya. Apa yang kau tidak tahu tentang saya."
Damar diam beberapa detik.
"Kita bicara di rumah, Maya. Saya juga ingin tahu jawabannya."