Maya menemukan Sasi menangis diam-diam di kebun teh, jauh dari mata siapa pun. Tujuh puluh lima tahun usianya, langkahnya kini lambat dengan tongkat, tapi insting seorang ibu—dan seorang penulis—tidak pernah menua.
"Kau tahu," kata Maya, duduk perlahan di bangku batu di samping anaknya, "selama lima puluh tahun aku menulis tentang manusia. Tentang kenapa mereka mencintai, membenci, mengkhianati. Dan satu hal yang kupelajari: tidak ada orang yang marah hanya karena ideologi. Ideologi adalah baju. Yang membuat orang berperang adalah luka yang dibungkus baju itu."
Sasi mengusap matanya. "Rino bicara soal kemurnian, tradisi, alpha laki-laki. Itu yang dia teriakkan."
"Itu yang dia teriakkan," Maya mengulang. "Tapi apa yang dia tangisi diam-diam? Itu pertanyaan yang harus kau jawab. Carilah lukanya, Sasi. Bukan argumennya."
Maya menatap kebun teh yang membentang hijau di bawah langit sore. "Dalam novel, antagonis terbaik bukanlah yang jahat. Tapi yang benar tentang sesuatu yang salah kita abaikan. Cari tahu kebenaran apa yang Rino pegang—kebenaran yang kita semua, termasuk ayahmu, mungkin telah abaikan selama bertahun-tahun."
Kata-kata itu menyalakan sesuatu. Sasi mulai menyelidiki—bukan pergerakan Rino, tapi masa lalunya. Dia mengirim Tika menggali catatan kawanan lama. Dia bertanya pada tetua-tetua tertua, pada arsip yang berdebu, pada ingatan yang sengaja dilupakan.
Dan apa yang dia temukan membuat napasnya tertahan.
Rino bukan kawanan biasa yang lahir di barak. Dia adalah anak dari seorang perempuan yang dulu—jauh sebelum Maya, di masa muda Damar—pernah menjadi simpanan Damar. Hubungan yang dirahasiakan, diakhiri dengan tergesa saat Damar bersiap menjadi alpha dan butuh pernikahan yang "pantas." Perempuan itu disingkirkan diam-diam, diberi uang, dilacak agar tidak bicara. Dan anaknya—Rino—tumbuh di pinggiran kawanan, tahu bahwa darah alphanya datang dari Damar, tapi tidak pernah, sekali pun, diakui.
"Astaga," bisik Sasi, menatap dokumen tua di tangannya. "Dia... dia saudara tiriku juga. Seperti Pratama. Tapi tidak ada yang pernah mengakuinya. Dia dibesarkan sebagai bukan siapa-siapa, padahal darahnya sama denganku."
Tika, di sebelahnya, mulai mengerti. "Jadi seluruh pemberontakan ini..."
"Bukan tentang ideologi," kata Sasi pelan, suaranya tercekat. "Tentang pengakuan. Sepanjang hidupnya Rino menonton anak-anak Damar yang sah—aku, Bayu—mewarisi segalanya. Cinta, nama, kawanan. Sementara dia? Dia hanya darah yang memalukan, yang harus disembunyikan. Dia tidak benci reformasiku. Dia benci karena dia tidak pernah dianggap cukup berharga untuk diperjuangkan."
Maya, yang mendengarkan dari ambang pintu, mengangguk perlahan dengan mata berkaca. "Kebenaran yang kita abaikan," gumamnya. "Dosa ayahmu, anakku. Dosa yang dia kubur, tapi tidak pernah benar-benar mati."
Sasi berdiri, dokumen tergenggam erat. Untuk pertama kalinya sejak pemberontakan dimulai, dia tahu apa yang harus dilakukan. Bukan dengan taring. Bukan dengan panggilan alpha. Tapi dengan kebenaran yang telah terlalu lama disembunyikan.
"Ayah harus mendengar ini," katanya. "Dan kali ini, dia harus menghadapinya."
(bersambung...)