Damar mendengarkan tanpa memotong saat Sasi menceritakan semuanya. Wajah tua itu, yang sudah dilukis dalam oleh delapan puluhan tahun, perlahan runtuh—bukan karena terkejut, tapi karena bersalah. Dia sudah tahu. Selama ini dia tahu.
"Aku mengira," kata Damar serak, "kalau aku diam cukup lama, masa lalu itu akan mati bersamaku. Aku salah. Dosa tidak mati. Dia hanya menunggu, dan tumbuh menjadi anak laki-laki yang marah."
"Ayah harus bicara dengannya," kata Sasi.
Damar memejamkan mata. Lama. Mata gelap itu—yang lima puluh tahun ini selalu tenang—sekarang penuh keraguan. Lalu dia mengangguk.
Rino dibawa ke rumah Sukabumi dengan jaminan keselamatan. Dia datang dengan curiga, dikawal kewaspadaan, menduga ini jebakan. Tapi yang dia temukan bukan alpha perempuan yang siap menghukum. Yang dia temukan adalah seorang lelaki tua yang sangat lemah, terbungkus selimut di kursi roda, menunggunya di teras yang sama tempat segalanya bermula.
"Mendekatlah," kata Damar. "Mataku tidak sebaik dulu."
Rino tidak bergerak. "Apa mau alpha tua Pradipta dari pengkhianat sepertiku?"
"Bukan pengkhianat." Suara Damar gemetar. "Anak. Anakku. Dan akulah pengkhianatnya."
Rino membeku.
"Ibumu," lanjut Damar, "namanya Lestari. Aku mencintainya, Rino. Dengan cara yang pengecut, tapi aku mencintainya. Dan saat kawanan menuntut aku menikah 'pantas' untuk menjadi alpha, aku menyingkirkannya. Aku membayarnya untuk diam. Aku melacak gerak-geriknya agar dia tidak pernah bicara. Dan aku membiarkanmu—darah dagingku—tumbuh sebagai bukan siapa-siapa." Air mata mengalir di pipi keriput itu. "Setiap kali aku melihatmu di barak, anak kecil yang berlatih lebih keras dari semua, aku berpaling. Karena melihatmu adalah melihat kepengecutanku sendiri. Maafkan aku, Rino. Lima puluh tahun terlambat, tapi maafkan aku."
Rino berdiri kaku, rahangnya bergetar, melawan sesuatu yang naik dari dasar dadanya. Seluruh kemarahan yang dia bungkus dengan ideologi, dengan kemurnian, dengan taring—semuanya, ternyata, hanya satu pertanyaan anak kecil yang tak pernah terjawab: kenapa aku tidak cukup berharga?
"Kau tidak berhak," bisik Rino, suaranya pecah. "Kau tidak berhak mengatakan itu sekarang. Setelah seumur hidup—"
"Aku tahu," kata Damar. "Aku tidak meminta maaf untuk membuatmu memaafkan. Aku memintanya karena itu benar, dan kau berhak mendengarnya, akhirnya."
Lalu Sasi melangkah maju. "Rino. Kawanan butuh seseorang yang berani menantang status quo. Seseorang yang tidak takut bertanya keras. Aku menawarkanmu posisi—bukan karena belas kasihan, tapi karena kawanan benar-benar membutuhkanmu. Deputy Alpha. Kepala Divisi Inovasi Kawanan Modern. Kau yang akan memastikan reformasi ini tidak melupakan jiwa serigala kita. Kau, yang paling keras menjaga tradisi, akan menjaga agar kami tidak kehilangan diri."
Rino menatap mereka berdua—ayah yang akhirnya mengakuinya, dan saudari yang menawarkan tempat alih-alih hukuman. Pertahanan yang dia bangun seumur hidup retak, lalu runtuh.
Dia menangis. Untuk pertama kalinya sejak kecil, lelaki muda yang keras itu menangis tanpa malu, berlutut di lantai teras, dan Damar mengulurkan tangan gemetarnya ke kepala putra yang tidak pernah dia akui.
"Aku menerima," bisik Rino di antara isak. "Aku menerima, Ayah."
Dan di teras Sukabumi itu, sebuah pemberontakan berakhir bukan dengan darah, melainkan dengan pengakuan yang telah ditunda lima puluh tahun.
(bersambung...)