Dewangga datang ke rumah Sukabumi sendirian, dengan langkah berat seorang tetua yang telah memutuskan sesuatu yang menyakitkan.
Dia menemukan Sasi di teras, sedang membaca laporan-laporan tentang pergerakan Kawanan Murni di pegunungan. Damar duduk tak jauh, terbungkus selimut meski siang hari—tubuhnya kini hampir selalu kedinginan.
"Sasi," kata Dewangga tanpa basa-basi. "Aku mendukungmu sejak hari pertama. Saat para tetua lain meragukan alpha perempuan, akulah yang berdiri untukmu di dewan. Aku percaya pada visimu. Tapi aku datang hari ini untuk mengatakan kebenaran yang keras."
Sasi meletakkan laporannya. "Katakan."
"Sudah dua minggu sejak pemisahan. Setiap hari yang berlalu, Kawanan Murni semakin kuat. Mereka merekrut. Mereka berlatih. Surabaya mulai mendekati mereka secara terbuka sekarang—aliansi yang akan menghancurkan kita. Dan kau? Kau menunggu. Kau mencari 'alasan,' kau bicara tentang 'menyembuhkan.'" Suaranya meninggi. "Sasi, ada saat di mana seorang alpha harus berhenti bertanya kenapa dan mulai bertindak."
"Apa yang kau minta, Dewangga?"
Tetua itu menatapnya lurus. "Gunakan kekuatanmu. Kau alpha sejati—darah Pradipta murni mengalir dalam dirimu. Kau bisa memaksa mereka. Panggilan alpha, ikatan dominasi—saat kau gunakan dengan penuh, kawanan muda itu tidak akan bisa melawan naluri mereka untuk tunduk. Paksa Rino kembali. Patahkan pemberontakan ini sebelum menjadi perang. Itu hakmu. Itu kewajibanmu."
Damar, dari kursinya, mengangkat kepala. Matanya yang tua mengamati anaknya dengan intensitas yang sudah lama tidak terlihat.
Sasi diam lama. Lalu dia berkata, "Tidak."
Dewangga terhenyak. "Tidak?"
"Kalau aku memaksa mereka tunduk dengan panggilan alpha," kata Sasi pelan, "aku membuktikan apa yang Rino tuduhkan tentangku. Bahwa kepemimpinan ini soal dominasi, bukan kepercayaan. Aku akan menang malam ini dan kalah selamanya. Mereka akan tunduk dengan tubuh, tapi membenciku dengan jiwa. Dan begitu pengaruhku melemah—dan suatu hari pasti melemah—mereka akan memberontak lagi, lebih marah, lebih dalam."
"Itu idealisme bodoh!" Dewangga membentak, kesabarannya pecah. "Kau bermain dengan nasib seluruh kawanan demi prinsip! Kau ingin dikenang sebagai alpha yang baik atau alpha yang menyelamatkan Pradipta? Kau tidak bisa keduanya!"
Hening menggantung tajam. Tika, yang baru tiba, berdiri kaku di pintu.
"Aku akan menyelesaikan ini tanpa kekerasan," kata Sasi akhirnya, suaranya gemetar tapi teguh. "Tanpa memaksa. Beri aku waktu."
Dewangga menatapnya lama, dan dalam tatapan itu Sasi melihat sesuatu retak—kepercayaan yang selama ini menjadi tiang penyangganya.
"Aku berdiri untukmu di dewan," kata tetua itu, suaranya kini dingin dan lelah. "Aku mempertaruhkan reputasiku untukmu. Tapi kalau kau gagal karena keras kepala ini, Sasi, aku tidak bisa menjamin dewan akan tetap di belakangmu. Dan aku..." Dia berhenti. "Aku mulai meragukan apakah aku memilih dengan benar."
Dia berbalik dan pergi tanpa pamit. Dan untuk pertama kalinya, Sasi merasakan tanah di bawah kakinya benar-benar bergeser. Sekutu terkuatnya kini ragu. Dia hampir sendirian.
Damar mengulurkan tangan yang gemetar dan menggenggam jari anaknya. "Kau melakukan hal yang benar," bisiknya. "Hal yang benar selalu paling sepi."
(bersambung...)