Perempuan bertudung yang sejak awal mendengarkan Rino akhirnya menunjukkan wajahnya. Dan ketika dia membuka tudung itu di hadapan kelompok inti, beberapa terkejut, beberapa tersenyum mengerti.
Kirana.
Dia bukan kawanan muda seperti Rino. Dia seangkatan dengan Sasi, dulunya anggota lingkaran dalam yang dihormati. Sejak awal kepemimpinan Sasi, Kirana memprotes—tapi dari dalam, dengan kata-kata sopan dan keberatan formal di rapat-rapat. Dia tidak pernah menerima gagasan alpha perempuan. Baginya itu pelanggaran kosmik terhadap tatanan kawanan.
"Selama ini aku melawan dari dalam," kata Kirana pada Rino. "Dengan aturan, dengan protokol, dengan kesabaran. Dan apa hasilnya? Sasi semakin kuat. Reformasinya semakin dalam. Komite-komitenya, sekolah daringnya, integrasi manusianya. Aku lelah bersopan-santun pada perubahan yang menghancurkan kita."
Rino, yang lebih muda dua puluh tahun darinya, awalnya curiga. "Kenapa aku harus percaya padamu? Kau orang dalam Sasi."
"Justru karena itu," jawab Kirana. "Aku tahu struktur kawanan dari dalam. Aku tahu siapa yang ragu, siapa yang bisa dibujuk, di mana titik lemah Sasi. Kau punya kemarahan dan pengikut muda. Aku punya pengalaman dan akses. Bersama, kita bukan sekadar gangguan. Kita gerakan."
Maka koalisi yang tak biasa itu terbentuk—kawanan muda radikal dan veteran konservatif, disatukan bukan oleh usia atau strategi yang sama, tapi oleh satu visi yang keras: kawanan harus kembali ke kemurniannya. Alpha laki-laki. Hierarki tradisional. Tidak ada integrasi manusia. Tidak ada disclosure. Tidak ada kompromi.
Mereka mulai bergerak lebih berani. Kirana, dengan akses internalnya, membuka pintu-pintu yang Rino tidak bisa. Pertemuan-pertemuan kawanan kini diwarnai keberatan terbuka. Anggota yang dulu diam mulai berani bersuara. Dukungan untuk Sasi, yang tampak kokoh beberapa bulan lalu, kini retak di sana-sini.
Sasi merasakannya. Dalam rapat, dia melihat lebih banyak wajah yang tak mau menatapnya. Dalam patroli, dia mendengar bisik yang berhenti saat dia lewat. Dia sekarang menghadapi protes dari dua front: kawanan muda yang merasa identitasnya direnggut, dan veteran yang merasa tradisinya dikhianati.
"Mereka bersatu," kata Tika malam itu, memijat bahu istrinya yang tegang. "Rino dan Kirana. Itu kombinasi berbahaya, Sasi. Kemarahan muda dan kelicikan tua."
Sasi menatap langit Sukabumi dari jendela—dia pulang ke rumah keluarga untuk berpikir jernih. Bintang-bintang berkelip dingin.
"Aku tahu," katanya. "Tapi tahukah kau yang paling menyakitkan, Tika? Kirana tidak salah sepenuhnya. Aku memang mengubah segalanya. Aku memang menuntut kawanan ini menjadi sesuatu yang belum pernah ada. Pertanyaannya bukan apakah aku benar." Dia menelan ludah. "Pertanyaannya adalah apakah aku cukup kuat untuk membuktikan bahwa perubahan ini layak diperjuangkan—sebelum kawanan ini terbelah dua."
Di luar, angin malam menggeram di antara pepohonan teh, seperti serigala yang menahan amarah.
(bersambung...)