Telepon itu datang dari Yogyakarta, dari nomor yang jarang dipakai. Pratama—saudara tiri Sasi, alpha kawanan Wijayakusuma—tidak pernah menelepon tanpa alasan berat.
"Adik," suaranya berat di ujung sambungan. "Kita perlu bicara. Bukan lewat telepon. Tapi kau harus tahu sekarang juga: ada masalah yang lebih besar dari yang kau kira."
Mereka bertemu keesokan harinya di sebuah rumah aman milik Wijayakusuma, di perbatasan Jakarta dan Bekasi. Pratama datang dengan map tebal dan wajah yang lebih tua dari usianya. Hubungan mereka selama bertahun-tahun tidak pernah hangat—mereka berbagi ayah, tapi tumbuh sebagai rival kawanan. Namun hari ini, Pratama datang sebagai sekutu.
"Anak buahku mendengar kabar dari jaringan kami di Jawa Timur," kata Pratama, membuka map. "Rino—kawanan mudamu yang gelisah itu—tidak hanya membuat onar di Jakarta. Dia sedang bernegosiasi. Dengan Surabaya."
Sasi merasa darahnya mendingin. Kawanan Surabaya adalah salah satu yang terkuat di Indonesia timur, dipimpin oleh seorang presiden kawanan yang dikenal ambisius dan konservatif. Hubungan Pradipta dengan Surabaya selalu rapuh—aliansi formal, tapi penuh kecurigaan.
"Negosiasi apa?" tanya Sasi.
"Pindah kawanan." Pratama mengeluarkan beberapa foto—pertemuan diam-diam, Rino dengan beberapa utusan berlogo Surabaya. "Rino dan kelompok intinya ingin keluar dari Pradipta dan bergabung dengan Surabaya. Tapi mereka tidak datang dengan tangan kosong. Mereka menawarkan sesuatu sebagai mahar."
"Apa?"
Pratama menatapnya lurus. "Informasi sensitif tentang kau, Sasi. Tentang reformasimu. Tentang kelemahan struktural Pradipta selama masa transisi. Dokumen yang dicuri dari kantor operasionalmu—itu untuk mereka. Rino menjual peta kelemahan Pradipta kepada kawanan yang sudah lama ingin melampaui kita."
Ruangan terasa hening. Sasi menyadari beratnya momen ini. Dia baru beberapa bulan menjadi alpha. Kepemimpinannya masih muda, masih diuji setiap hari. Dan kini ada pengkhianatan yang tidak hanya mengancam wibawanya, tapi keamanan seluruh kawanan.
"Kenapa kau memberitahuku?" tanya Sasi pelan. "Kita rival, Pratama. Bukankah Pradipta yang lemah menguntungkanmu?"
Pratama tertawa pahit. "Kau pikir begitu? Kalau Surabaya menelan kawananmu lewat pengkhianat, mereka akan tumbuh terlalu kuat. Lalu giliranku berikutnya. Kita berbagi ayah, Sasi. Dan kita berbagi musuh yang sama, entah kita suka atau tidak." Dia menutup map. "Lagipula, ayah kita... Damar selalu berharap kita berdua berdiri bersama suatu hari. Mungkin hari itu adalah hari ini."
Sasi memandang saudara tirinya—pria yang dulu dia anggap saingan—dan untuk pertama kalinya melihat sesuatu yang menyerupai keluarga.
"Terima kasih," katanya. "Aku akan menghentikan ini. Sebelum Surabaya mendapatkan apa yang Rino janjikan."
Tapi di dalam hati, Sasi tahu: waktunya menipis, dan musuh-musuhnya bergerak lebih cepat dari yang dia duga.
(bersambung...)