Sasi memilih tempat yang tidak biasa untuk perundingan final: bukan markas, bukan ruang rapat resmi, tapi teras rumah Sukabumi tempat dia dibesarkan. Dia ingin Rino dan Kirana melihatnya bukan sebagai alpha di balik meja, tapi sebagai manusia—sebagai perempuan—di rumah keluarganya.
Damar duduk di kursi rodanya di sudut, diam, hanya mendengarkan. Tika berdiri di ambang pintu, tangan terlipat. Dan Sasi, di tengah-tengah, menghadapi dua orang yang ingin menjatuhkannya.
Rino datang dengan dagu terangkat menantang. Kirana dengan tatapan dingin yang sudah dia pakai bertahun-tahun.
"Kalian pikir aku memanggil kalian untuk menghukum," Sasi memulai, suaranya tenang. "Aku tidak. Lihat—tidak ada penjaga. Tidak ada borgol. Hanya teras tempat ibuku menulis novelnya dan ayahku mengajariku berlari saat aku kecil."
Dia tidak menggunakan suara alpha. Tidak ada paksaan dalam nadanya, tidak ada dominasi yang biasa membuat kawanan muda tunduk secara naluriah. Dia bicara biasa, telanjang, rapuh.
"Aku tahu kalian benci apa yang kulakukan," lanjutnya. "Kau, Rino, merasa aku merampas identitasmu. Kau, Kirana, merasa aku menginjak tradisi yang kau cintai. Mungkin kalian benar tentang satu hal: aku menuntut terlalu banyak, terlalu cepat."
Kirana menyipit. "Pengakuan tidak akan mengubah pikiranku, Sasi."
"Aku tidak meminta itu." Sasi menoleh ke arah Tika di ambang pintu, dan untuk pertama kalinya mereka melihat—tangan Tika menumpu di perutnya yang mulai membuncit. Dia mengandung. Bulan keempat, mungkin kelima. "Tika dan aku akan punya anak ketiga. Anak yang lahir di kawanan yang sedang aku coba ubah. Aku tidak melakukan ini untuk diriku, Rino. Aku melakukannya untuk dia. Untuk anak-anak kalian nanti."
Suaranya bergetar, tapi dia melanjutkan.
"Aku tumbuh mendengar kisah kakek-kakek kita berburu di bawah purnama. Aku mencintai kisah itu seperti kalian. Tapi dunia di luar berubah, dan dunia itu mulai mencium keberadaan kita. Manusia mulai bertanya. Kalau kita tetap bersembunyi total, tetap murni dan terkunci, suatu hari mereka akan menemukan kita dengan ketakutan, bukan pengertian. Dan ketakutan manusia—kalian tahu apa yang dilakukannya pada sesuatu yang berbeda."
Dia menatap Rino. "Aku tidak ingin mengubah kalian menjadi manusia. Aku ingin kawanan ini bertahan cukup lama untuk anak ini, dan anak kalian, hidup tanpa harus memilih antara bersembunyi atau dihancurkan."
Untuk sesaat, Rino tampak goyah. Sesuatu di matanya melembut. Tapi lalu rahangnya mengeras lagi, seolah kelembutan itu adalah pengkhianatan terhadap dirinya sendiri.
"Kata-kata indah," katanya kasar. "Ibumu pasti bangga—dia penulis, bukan? Tapi kawanan tidak dipimpin dengan cerita, Sasi. Dipimpin dengan kekuatan. Dan kau baru saja menunjukkan padaku kelemahanmu."
Dia berdiri. Kirana mengikuti.
Damar, dari sudutnya, membuka mulut untuk pertama kalinya. "Rino." Suaranya serak tapi masih membawa gema otoritas lama. "Duduk."
Tapi Rino tidak duduk. Dia menatap alpha tua itu lama, dengan ekspresi yang Sasi tidak bisa baca—campuran benci dan, anehnya, luka yang dalam. Lalu dia berbalik dan pergi.
(bersambung...)