Berita konspirasi darah itu menyebar dalam lingkaran tetua secepat api di alang-alang kering. Dan tidak semua orang melihatnya seperti Maya.
Dewangga datang ke markas Jakarta pagi-pagi, wajahnya yang tua mengeras oleh keputusan yang sudah ia ambil sebelum tiba.
"Sasi," katanya tanpa basa-basi, "kau harus mengambil langkah terhadap Bayu."
Sasi menatapnya tajam. "Langkah apa?"
"Bayu adalah sumber ancaman ini. Selama dia ada di sini, di keluarga ini, Yogyakarta punya alasan menyerang. Aku sudah berpikir sepanjang malam." Dewangga duduk, tongkatnya berdiri di antara kedua kakinya. "Pengasingan. Bayu meninggalkan kawanan, secara resmi. Putus ikatan. Kalau perlu—" ia ragu, lalu memaksakan kata itu keluar, "—pengucilan total. Dengan begitu, beban dosanya bukan lagi beban Pradipta."
"Kau menyuruhku membuang kakakku sendiri." Suara Sasi datar, berbahaya.
"Aku menyuruhmu menyelamatkan ribuan jiwa kawanan dari satu jiwa," koreksi Dewangga, tidak gentar. "Itu yang dilakukan alpha. Itu yang membedakan pemimpin dari saudara. Ayahmu mengerti ini. Setiap alpha sebelummu mengerti ini. Kawanan di atas keluarga. Selalu."
Sasi berdiri, dan ruangan terasa mengecil oleh kemarahannya yang ditahan.
"Dengar baik-baik, Dewangga," katanya, suara alpha-nya keluar penuh. "Kau membantuku saat pengangkatan. Kau mendukungku di rapat tetua. Aku berutang padamu. Tapi kalau kau pikir aku menjadi alpha untuk belajar membuang darah dagingku sendiri demi kenyamanan kawanan—kau salah memilih dukungan."
"Ini bukan kenyamanan, ini kelangsungan hidup—"
"Bayu tidak tahu Larasati dikirim untuk menjebaknya." Sasi memotong. "Dia korban, bukan pelaku. Anaknya—cucu Damar, cicit yang seharusnya tumbuh di pangkuan kita—dicuri sebagai eksperimen darah. Dan jawabanmu adalah membuang korbannya, lalu membiarkan eksperimen itu berjalan? Itu bukan kepemimpinan. Itu pengecut yang berpakaian kebijaksanaan."
Wajah Dewangga memerah. Tidak ada yang bicara begitu padanya selama puluhan tahun.
"Kau masih muda dalam jabatan ini," desisnya. "Kau pikir keras hati adalah keberanian. Suatu hari kau akan tahu bahwa keberanian sejati adalah mengorbankan yang kau cintai demi yang banyak. Aku pernah menyaksikan alpha yang menolak. Kawanan mereka hancur. Setiap kali."
"Maka aku akan jadi alpha pertama yang membuktikan kau salah," balas Sasi.
Keduanya berdiri berhadapan, tetua tua dan alpha baru, dua era yang bertabrakan di ruangan sunyi itu.
Akhirnya Dewangga mengambil tongkatnya dan berjalan ke pintu. Di ambang, ia berhenti tanpa menoleh.
"Aku tidak akan menentangmu, Sasi," katanya pelan, lelah. "Aku terlalu tua untuk perang dalam kawanan. Tapi aku berdoa kau benar. Karena kalau kau salah—kalau kesetiaanmu pada keluarga menghancurkan kawanan—kau tidak akan menanggungnya sendiri. Semua yang percaya padamu akan ikut jatuh." Pintu tertutup di belakangnya.
Sasi berdiri lama di ruangan kosong. Untuk pertama kalinya sejak menjadi alpha, ia tidak yakin ia benar. Ia hanya yakin ia tidak bisa membuang Bayu. Dan ia berdoa keduanya adalah hal yang sama.