Maya mungkin sudah tujuh puluh lima tahun, tapi naluri yang membuatnya bertahan hidup di dunia serigala selama setengah abad tidak pernah pensiun.
Selagi yang lain berdebat tentang strategi, Maya melakukan apa yang paling ia kuasai: menggali. Dulu ia mengenal herbal, membaca jejak di hutan, mengingat wajah dan nama yang orang lain lupakan. Sekarang ia mengarahkan ketajaman itu pada satu nama—Larasati.
Ia mulai dari foto gadis remaja itu. Berjam-jam ia menatapnya di bawah cahaya jendela Sukabumi, mata tuanya menyipit.
"Sasi," panggilnya suatu sore. "Kemari. Lihat ini."
Sasi datang. Maya menyandingkan foto cucu yang baru ditemukan itu dengan foto lama—foto Maya sendiri di usia muda, dan foto ibu Damar yang tersimpan di album keluarga.
"Lihat tulang pipinya," kata Maya, jarinya yang keriput menunjuk. "Lihat bentuk matanya. Gadis ini tidak hanya mirip Bayu. Dia mirip kita. Garis Pradipta. Terlalu mirip."
Sasi mengernyit. "Wajar, Bu. Dia cucu Damar. Tentu ada kemiripan keluarga."
"Tidak," potong Maya, dan ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Sasi terdiam. "Bukan kemiripan cucu. Kemiripan yang lebih dekat. Aku sudah hidup di keluarga ini lima puluh tahun. Aku tahu wajah Pradipta. Dan Larasati—ibunya—" Maya menarik napas berat. "Aku menemukan fotonya. Bayu menyimpannya. Dan ketika kulihat, jantungku berhenti."
Ia menyodorkan foto ketiga—wajah Larasati muda. Perempuan yang menyusup ke hidup Bayu.
Sasi menatapnya, dan rambut di tengkuknya berdiri. Larasati mirip Maya. Mirip ibu Damar. Mirip keluarga mereka sendiri, secara mengganggu.
"Apa artinya ini, Bu?" tanya Sasi pelan, meski sebagian dirinya sudah takut menebak.
Maya duduk, tubuhnya terlihat sangat tua mendadak. "Kawanan Yogyakarta dan Pradipta bermusuhan tiga generasi. Tapi sebelum permusuhan itu—mereka satu. Satu garis darah yang terpecah karena pertikaian alpha dulu kala." Ia menatap Sasi. "Aku pernah dengar Damar menyebutnya sekali, mabuk, puluhan tahun lalu. Bahwa Yogyakarta adalah saudara yang dibuang. Darah yang sama."
Kengerian merayap dalam diri Sasi. "Maksud Ibu... Larasati dan Bayu... mungkin sedarah?"
"Jauh," kata Maya cepat, "mungkin sepupu jauh, mungkin lebih jauh lagi. Tapi cukup dekat untuk membuat kawin keluarga ini sengaja. Mereka tidak mengirim Larasati pada Bayu secara acak. Mereka memilihnya karena darahnya cocok. Mereka ingin memurnikan kembali garis yang terpecah—mengumpulkan kembali darah Pradipta-Yogyakarta dalam satu anak."
Sasi merasa mual. Ini bukan sekadar perselingkuhan masa lalu atau dendam kehormatan. Ini perkawinan keluarga yang direkayasa, sebuah konspirasi darah yang membentang lebih dari satu generasi.
"Cucu Bayu," kata Sasi lambat, "anak yang di tangan Yogyakarta. Dia bukan hanya keturunan. Dia... eksperimen mereka. Penyatuan dua garis."
Maya mengangguk, air matanya jatuh lagi. "Dan itu sebabnya mereka tidak akan melepaskannya. Gadis itu, bagi mereka, adalah alpha masa depan yang sempurna—darah dua kawanan dalam satu tubuh. Sementara bagi kita, dia darah daging kita yang dicuri." Ia menggenggam tangan Sasi erat. "Kau harus menyelamatkannya, Sasi. Bukan hanya demi kawanan. Demi keluarga ini. Dia cucuku."