Malam itu Damar memanggil Sasi ke beranda Sukabumi—tempat ia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya, memandang bukit-bukit yang dulu ia jaga sebagai alpha muda.
"Duduk," katanya. "Aku dengar perdebatanmu dengan Dewangga."
Sasi duduk di sampingnya. Udara malam Sukabumi dingin dan bersih.
Damar menutup matanya. Lama. Mata gelap itu—yang lima puluh tahun ini selalu tenang—sekarang penuh keraguan. "Sasi. Kau alpha sekarang. Bukan hanya karena kau putri saya, bukan karena kau menikah dengan Beta Tika yang solid. Tapi karena kau memilih untuk itu. Keputusan itu... akan mengubah kawanan. Pewaris adalah satu hal. Pemimpin adalah hal lain. Pemimpin tidak pernah tidur tenang."
Sasi menggenggam tangan ayahnya. "Ayah pernah tidur tenang?"
Damar tertawa pelan. Tertawa yang sedih. "Belum pernah, sayang. Belum pernah."
Mereka diam sejenak, mendengar jangkrik di kegelapan.
"Aku akan menceritakan sesuatu yang tidak pernah kuceritakan padamu," kata Damar akhirnya. "Tentang Reno."
Sasi menoleh. "Reno? Yang Ayah selalu bilang mati waktu Ayah muda?"
"Dia tidak mati." Suara Damar berat. "Reno adalah orang tua—mentor, hampir seperti ayah kedua bagiku—yang kami semua kira tewas dalam pertikaian antar kawanan, empat puluh tahun lalu. Aku berkabung untuknya bertahun-tahun. Lalu suatu hari, dia muncul. Hidup. Bersembunyi selama ini. Dan dia membawa masalah—kawanan musuh memburunya, dan siapa pun yang menyembunyikannya akan ikut diburu."
"Apa yang Ayah lakukan?"
Damar menatap bukit gelap. "Tetua waktu itu—seperti Dewangga sekarang—menyuruhku menyerahkan Reno. Demi kawanan. Demi semua orang. Reno satu jiwa; kawanan ribuan. Logikanya sempurna. Dingin dan sempurna."
"Tapi Ayah tidak menyerahkannya."
"Tidak." Damar tersenyum, samar dan tua. "Aku memilih rumah. Aku memilih orang yang kucintai daripada hitung-hitungan kawanan. Aku sembunyikan Reno, aku lawan tekanan, aku hampir kehilangan jabatan alpha karenanya. Ibumu—Maya—berdiri di sampingku sepanjang itu, meski dia bisa mati kalau kami ketahuan."
Sasi menahan napas. "Dan kawanan?"
"Kawanan tetap berdiri." Damar menatapnya langsung sekarang, mata gelap itu jernih. "Itu yang tidak dimengerti Dewangga, Sasi. Mereka bilang memilih keluarga akan menghancurkan kawanan. Tapi aku memilih keluarga, dan kawanan tetap hidup. Lebih dari itu—kawanan menjadi lebih kuat. Karena anggotanya melihat alpha yang tidak membuang orangnya saat keadaan sulit. Mereka belajar bahwa kalau mereka jatuh, alpha tidak akan melepaskan mereka. Itu yang membuat mereka setia sampai mati."
Ia menggenggam tangan putrinya.
"Dewangga benar bahwa pemimpin kadang harus berkorban. Tapi dia keliru tentang apa yang dikorbankan. Kau tidak mengorbankan orangmu untuk menyelamatkan kawanan. Kau mengorbankan kenyamananmu, tidurmu, dirimu—untuk menyelamatkan keduanya. Itu lebih berat. Tapi itu satu-satunya jalan yang membuat kawanan layak diselamatkan."
Sasi merasakan sesuatu mengendur di dadanya—simpul keraguan yang dipasang Dewangga.
"Jadi aku tidak membuang Bayu," katanya pelan.
"Tidak," kata Damar. "Kau menyelamatkan Bayu, dan cucuku, dan kawanan—sekaligus. Itu mustahil. Maka temukan jalan yang mustahil itu. Itulah arti menjadi alpha." Ia menutup matanya lagi, lelah. "Aku menemukannya dulu. Sekarang giliranmu."