Pesan ancaman kedua datang tiga hari kemudian, dan kali ini bukan lewat amplop.
Seorang kurir—pemuda kawanan Yogyakarta yang tidak menyebut nama—muncul di pintu markas Jakarta menjelang tengah malam. Ia tidak masuk. Ia hanya menyerahkan kotak kayu kecil kepada penjaga, lalu menghilang ke dalam gelap dengan kecepatan yang bukan manusia.
Di dalam kotak: sehelai bulu serigala abu-abu, terikat benang merah. Dan secarik kertas.
"Mundurlah, Sasi dari Pradipta. Jabatanmu adalah denda atas dosa saudaramu. Serahkan posisi alpha, dan utang Bayu lunas. Tolak, dan kami buka semuanya—pada kawanan, pada manusia. Kalian punya satu bulan."
Sasi membaca kertas itu dua kali, dan kemarahan naik di dadanya seperti api. Ia meremas kertas itu sampai buku-buku jarinya memutih.
"Mereka pikir bisa memerasku keluar dari jabatanku," geramnya. "Dengan dosa orang lain. Dengan bulu dan benang merah seperti dukun jalanan."
Tapi Bayu, yang berdiri di sudut ruangan, tidak marah. Ia gemetar.
Sasi memperhatikannya. Ada sesuatu dalam ketakutan kakaknya yang tidak sebanding dengan ancaman di kertas itu. Pemerasan jabatan menjengkelkan, ya. Tapi Bayu menatap bulu abu-abu itu seakan melihat hantu.
"Bayu," kata Sasi pelan, menurunkan nada alpha-nya menjadi suara adik. "Ada yang belum kau ceritakan."
Bayu tidak menjawab. Tangannya menutup mulut.
"Bulu itu," desak Sasi. "Kau mengenalinya. Bukan sekadar ancaman kawanan asing. Kau tahu sesuatu."
Bayu duduk perlahan, seperti kakinya menolak menopangnya. Ketika ia bicara, suaranya hampir tidak terdengar.
"Larasati... tidak hilang begitu saja waktu itu," bisiknya. "Sebelum dia pergi, dia memberitahuku sesuatu. Aku tidak percaya saat itu. Aku pikir dia mengigau, atau berbohong." Ia menatap Sasi dengan mata penuh teror. "Dia bilang dia tidak melarikan diri dari keluarganya. Dia dikirim. Diperintahkan mendekatiku. Bukan kebetulan kami bertemu di Utrecht, Sasi. Kawanan Yogyakarta mengirimnya untuk... untuk mendapatkan keturunan dari garis Pradipta."
Sasi merasakan dingin merayap. "Kenapa?"
"Itu yang tidak kuketahui," kata Bayu. "Tapi kalau mereka merencanakan ini lima belas tahun lalu—merencanakan anakku—maka ancaman ini bukan tentang membalas dendam dosaku. Mereka tidak peduli kehormatan. Mereka menginginkan sesuatu dari darah kita. Anak itu... cucu Damar di tangan mereka... adalah bagian dari rencana yang lebih besar."
Tika, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara, suaranya dingin oleh kewaspadaan. "Maka mundurnya Sasi bukan tujuan akhir mereka. Itu hanya langkah pertama. Mereka ingin kawanan Pradipta lemah, terpimpin, dan mereka punya darahnya di genggaman."
Sasi menatap bulu abu-abu di kotak. Benang merah itu seperti darah yang membeku.
"Maka aku tidak akan mundur," katanya akhirnya, suara alpha-nya kembali, keras seperti batu. "Karena mundur bukan menyelamatkan kita. Mundur hanya menyerahkan kunci pintu pada perampok. Kita lawan ini—tapi dengan kepala, bukan taring. Dan langkah pertama: kita cari tahu apa sebenarnya yang Yogyakarta inginkan dari darah Pradipta."