Mereka berkumpul di beranda saat fajar—Sasi, Damar, Maya, dan Tika yang Sasi minta hadir sebagai konselor. Bayu duduk dengan amplop Yogyakarta di pangkuannya seperti benda yang membakar.
"Lima belas tahun lalu," mulai Bayu, suaranya datar karena ia sudah berlatih menceritakannya semalaman, "aku masih dosen muda di Utrecht. Belum menikah Anke. Aku... jatuh cinta pada seorang mahasiswa pascasarjana. Indonesia, sepertiku. Namanya Larasati."
Maya menegang. Nama itu tidak asing baginya, tapi ia belum tahu kenapa.
"Kami bersama hampir dua tahun. Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya. Dia tidak pernah bilang, dan aku—" Bayu menelan ludah. "Aku tidak mencium darah serigala dalam dirinya. Itu yang aneh. Dia seperti manusia, tapi bukan."
"Larasati anak kawanan Yogyakarta," potong Damar pelan, dan semua kepala menoleh. "Aku baru tahu kemarin. Yogyakarta—kawanan yang bermusuhan dengan kita sejak tiga generasi. Mereka menyembunyikan darah serigala anak-anak perempuan mereka. Sengaja. Supaya bisa menyusup."
Bayu mengangguk, wajahnya pucat. "Kami berpisah karena aku harus pulang sebentar. Saat aku kembali ke Utrecht, dia hilang. Tanpa jejak. Aku pikir dia meninggalkanku. Aku patah hati, lalu bertahun kemudian bertemu Anke, menikah, mencoba melupakan." Ia mengangkat amplop. "Sampai surat ini datang minggu lalu."
Ia mengeluarkan isinya. Foto. Seorang gadis remaja, mungkin empat belas tahun, dengan mata yang—Sasi merasakan tengkuknya meremang—mirip Bayu.
"Larasati melahirkan anakku," kata Bayu nyaris berbisik. "Dan kembali ke Yogyakarta. Selama empat belas tahun, kawanan Yogyakarta membesarkan cucu Damar tanpa kita tahu. Sekarang, kawanan itu tahu siapa aku. Tahu aku saudara alpha Pradipta. Dan mereka mengancam."
Hening menusuk beranda itu. Burung-burung pagi terus bernyanyi, tidak peduli.
"Mengancam apa?" tanya Sasi, suara alpha-nya tegas meski hatinya berguncang.
"Mereka bilang aku menodai darah kawanan mereka. Mengambil anak perempuan mereka, menanam keturunan, lalu kabur—begitu cara mereka melihatnya." Bayu menutup wajah. "Menurut hukum kawanan tua, itu pelanggaran berdarah. Mereka berhak menuntut. Dan mereka menuntut sekarang, justru karena kau alpha, Sasi. Mereka pikir kawanan Pradipta sedang lemah—dipimpin perempuan, sedang reformasi, terpecah. Waktu yang sempurna untuk menagih utang lama."
Maya tidak bersuara. Ia menatap foto gadis itu lama sekali, lalu air matanya jatuh diam-diam. "Aku punya cucu," bisiknya. "Selama empat belas tahun aku punya cucu dan tidak tahu."
Damar menggenggam tangan istrinya. Sasi menatap kakaknya—lelaki kuat yang dulu mengajarinya membaca, kini hancur oleh rahasia yang dipendamnya sendirian.
"Kenapa kau diam saja bertahun-tahun?" tanya Sasi.
"Karena aku tidak tahu," jawab Bayu. "Sampai surat itu, aku tidak tahu anakku ada. Dan sekarang aku takut—bukan untuk diriku. Untuk kalian semua. Aku membawa pulang masalah yang bisa menghancurkan kawanan tepat di hari paling rapuhnya."