"Sya!"
Tangannya yang memegang stik langsung ia turunkan, Ia menoleh cepat ke arah suara yang sangat ia kenal itu.
Di ambang pintu ruang keluarga, berdiri Dede.
Sudah rapi. Rambutnya jatuh halus di bahu. Bajunya sesuai dress code yang mereka sepakati. Tas barunya tergantung di bahunya.
Arsya membeku sepersekian detik.
Dede menatapnya. Tatapannya tidak marah, tetapi jelas menyimpan banyak pertanyaan.
"Ini sakit apa namanya?" tanya Dede pelan.
Suasana ruang keluarga mendadak terasa berbeda. Suara game yang masih menyala di televisi, tidak lagi terdengar penting.
Arsya menelan ludah.
"Aku … uhm .. tadi memang sakit," jawabnya, mencoba terdengar tenang.
Dede melangkah masuk beberapa langkah. Matanya sekilas melihat layar televisi yang masih menampilkan menu balapan.
"Sakit kepala da