Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat empat puluh lima.
Tangannya hampir saja menekan nama Arsya untuk menelepon lebih dulu. Namun ia mengurungkan niatnya.
"Kasih dia waktu," gumamnya pada diri sendiri.
Di satu sisi, ia ingin sekali mendengar kabar bahwa Arsya sudah lebih baik dan mereka tetap bisa berangkat bersama. Di sisi lain, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seperti ada sesuatu yang tidak sepenuhnya beres.
Ia mengingat kembali nada suara Arsya tadi pagi. Memang terdengar lemah. Tapi ada bagian kecil dalam hatinya yang bertanya - tanya.
Benarkah hanya sakit kepala?
Atau ada hal lain?
Dede menggelengkan kepala, menepis pikiran yang mulai liar.
Ia berdiri dan berjalan ke jendela, membuka sedikit tirainya. Matahari sudah cukup tinggi. Hari terlihat cerah. Ironis sekali jika