Ia membuka ponselnya lagi. Tidak ada pesan baru dari Tanti.
"Aku harus ketemu dia langsung," gumamnya pelan.
Sekitar pukul sepuluh kurang sedikit, taksi berhenti di depan lobi apartemen Tanti. Arman membayar dengan cepat lalu turun. Udara malam terasa sedikit lembap.
Ia berdiri beberapa detik menatap gedung itu. Bangunan yang beberapa kali ia kunjungi dalam satu tahun. Tapi malam ini, langkahnya terasa berat.
Arman masuk ke lobi, menyapa singkat petugas keamanan yang mengenalnya. Ia mengeluarkan kartu akses apartemen yang ada didompetnya.
Setelah masuk lift dan menekan nomor lantai yang dituju, bkotak besi itu bergerak naik perlahan. Setiap angka yang bertambah membuat dadanya semakin berdebar sekaligus penasaran.
Di dalam apartemen, Tanti sedang berdiri di balkon. Lampu ruang tengah