"Tapi dia tahu aku yang nelpon," bisiknya lagi, kali ini lebih pelan.
Air hangat mulai mendingin, tetapi pikirannya justru semakin panas oleh perdebatan batin. Ia merasa tersakiti, tetapi di sisi lain ia juga menyadari bahwa ia datang tanpa memberi tahu Arman. Ia mengawasi dari jauh tanpa penjelasan.
Air mata kembali mengalir, kali ini lebih pelan. Bukan hanya karena cemburu, tetapi juga karena lelah dengan dirinya sendiri.
Ia tidak mau mengadu kepada siapa pun. Tidak kepada mamanya, tidak juga kepada Dede. Terutama bukan kepada Dede. Ia yang memberi ide, tetapi keputusan datang ke Jakarta adalah sepenuhnya pilihannya. Jika ia bercerita, apa yang harus ia katakan?
Bahwa ia datang diam - diam lalu pulang karena melihat Arman tidak mengangkat panggilannya malah tertawa bersama teman - te