Ia tidak sanggup melihat lebih lama lagi, ia tidak yakin tangisnya tidak akan pecah dan akhirnya jadi tontonan orang didalam cafe ini, bisa saja pandangan mereka kasihan, atau justru aneh melihatnya.
Kopinya bahkan belum habis, tapi kuenya sudah ketika ia berdiri. Ia berjalan ke kasir, membayar pesanannya dengan cepat. Tangannya terasa dingin. Ia tidak menoleh lagi ke arah meja itu.
Tidak perlu didokumentasikan. Tidak perlu difoto atau video untuk jadi bukti. Apa yang dilihatnya sudah cukup terekam jelas di kepalanya.
Tanpa menunggu lebih lama, Tanti keluar dari kafe dan berjalan cepat menuju lobi. Ia tidak memesan taksi online. Ia memilih langsung menghampiri petugas di pintu masuk.
"Pak, bisa panggilkan taksi yang stand by?" tanyanya singkat.
Beberapa menit kemudian, ia sudah duduk