"Bukan dramatis. Ini strategi keluarga."
"Sya!"
Arsya tertawa, dia sangat senang mengganggu Dede seperti ini.
"Oke, oke. Kita pulang sekarang?"
Dede mengangguk.
Arsya pun membayar pesanan lalu mereka berdua berjalan keluar dari cafe. Udara sore Medan masih hangat, langit mulai gelap perlahan.
Di dalam mobil, suasana sempat hening beberapa menit.
Arsya yang menyetir melirik Dede sekilas.
"Kamu deg - degan, nggak?"
"Nggak."
"Bohong."
Dede menoleh tajam.
"Deg - degan kenapa? Ini kan cuma disuruh pulang buat makan malam."
"Mana tahu makan malam resmi, kan biasanya nggak gini."
"Itu cuma makan malam biasa, Sya."
Arsya tersenyum tipis.
"Semoga."
"Kok semoga?"
"Semoga disuruh kawin."
"Ckk ... mulai lagi ini, kumat."
Arsya terkekeh.
Mobil mereka akhirnya masuk ke halaman rumah