"Aku kira betulan mau," kata Arsya dengan nada merajuk.
Dede menjulurkan lidahnya mengejek Arsya.
Tidak lama kemudian Kak Suja naik ke atas memanggil Dede dan Arsya untuk turun, Soalnya mama indah dan papa Sapta sudah di meja makan.
Arsya berdiri.
"Turun yuk. Jangan sampai disangka kita berbuaat yang iya - iya di atas."
Dede langsung menatap tajam.
"Mulutmu itu ya."
Arsya tertawa kecil.
Mereka pun berjalan berdampingan menuruni tangga.
Di ruang makan bawah, lampu sudah menyala terang.
Dan entah kenapa, kali ini jantung Dede berdetak sedikit lebih cepat daripada biasanya.
Bukan karena ledekan, tapi karena ucapan Arsya tentang menikah dan terus menerus ia sebutkan.
---
Ruang makan di rumah itu terasa hangat dan terang. Lampu gantung dinyalakan, meja panjang yang sudah tertata ra