Dede diam.
Ia tahu maksud Arsya.
Waktu Arsya di Manchester, hubungan mereka hanya sahabat. Terakhir Arsya malah menjauh, menghindar dan jarang bergabung, nah ini juga mau Dede tanyakan nanti. Sekarang, ketika status itu sudah ada, jarak malah terasa lebih nyata.
"Aku cuma takut kita keburu capek," kata Arsya pelan. "LDR itu nggak gampang."
"Kamu pikir nikah lebih gampang?" balas Dede cepat.
Arsya terdiam sebentar, lalu tertawa kecil. "Ya nggak juga."
Dede menatapnya serius.
"Sya, nikah itu bukan solusi biar nggak LDR."
"Lalu apa solusinya?"
"Sabar."
Jawaban itu sederhana, tapi berat.
Arsya memandang wajah Dede lama.
"Kamu yakin bisa sabar?"
Dede mengangguk pelan. "Kalau kamu bisa, aku juga bisa."
Beberapa detik hening.
Musik cafe berganti lagu. Seorang pelayan lewat membawa