Baru pada dering ketiga ia mengangkat.
"Halo."
Suara di seberang terdengar lega, bahkan sedikit tertawa kecil. "Akhirnya diangkat juga."
"Memangnya kenapa?" tanya Dede, berusaha terdengar biasa saja.
"Kukira kamu berubah pikiran dan nggak mau ngomong lagi."
Dede memutar bola matanya. "Ngapain aku berubah pikiran? Kan tadi kita sudah janjian."
"Tapi tadi siang kamu galak kali."
"Aku nggak galak."
"Hampir galak."
Dede mendengus pelan. "Itu karena kamu keras kepala."
Hening sebentar. Arsya terlihat duduk di tepi tempat tidurnya. Rambutnya sedikit berantakan, kaus yang ia pakai tampak sederhana, tapi wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya.
"Aku sudah pikirkan yang kamu bilang," ucapnya akhirnya, nada suaranya berubah lebih dalam. "Tentang nggak usah pulang."
Dede langsung dud