Tanti mengangguk pelan. "Ada benarnya juga."
Dede menatap mereka satu per satu. "Ketiga, aku nggak enak sama Tante Ana dan Om Kana. Masa gara - gara aku, anaknya pulang jauh - jauh dari Manchester? Walaupun mereka mengizinkan, tetap saja rasanya nggak enak, aku."
Arman bersandar. "Tapi Papa sudah mengizinkan. Nggak ada yang maksa."
"Itu dia masalahnya," kata Dede, menahan suaranya agar tidak terlalu keras. "Ini bukan cuma soal uang."
"Terus soal apa lagi?" tanya Arman.
"Soal tanggung jawab," jawab Dede tegas. "Perjalanannya jauh. Capek. Jet lag. Balik sana pasti kepikiran lagi. Itu lebih banyak mudaratnya."
Arman tersenyum. "Mudarat, katanya."
Dede mendengus kecil.
"Tapi dari sisi Arsya, mungkin itu bentuk usaha," kata Tanti
Kalimat itu membuat Dede terdiam.
"Aku tahu," katanya l