Kalimat itu membuat Dede terdiam lebih lama.
Angin dari pendingin ruangan menggerakkan sedikit ujung tirai di sampingnya.
Dede mendesah.
"Oke, aku nggak janji jadi pacar yang manis," ucap Dede akhirnya.
"Aku nggak minta yang manis."
"Aku kadang cerewet."
"Aku sudah tahu lama."
"Aku bisa ngambek."
"Itu pun aku sudah tahu."
Dede menghela napas panjang. Semua alasan yang tadi ingin ia jadikan tameng perlahan runtuh satu per satu.
"Ya oke," katanya akhirnya, suaranya pelan tapi jelas. "Aku mau jadi pacar kamu."
Sunyi satu detik.
Lalu terdengar tawa kecil yang benar - benar lega. "Serius kan ini?"
"Iya."
"Nggak dipaksa?"
"Jangan banyak tanya dan besar kepala!" jawab Dede, pipinya mulai menghangat.
Senyum Arsya di layar terasa nyata, seolah bisa menembus jarak ribuan kilometer it