“Kunci semua akses RS!”
Suara Arsen bikin suster di lobby kaget. Bodyguard langsung nyebar, tutup pintu keluar masuk.
Dia genggam tanganku erat. Narik. Lari. Keluar RS.
“Arsen, pelan! Ibu—”
“Ibu ada gue yang jaga!” bentaknya. Matanya merah, tapi bukan marah ke aku. Takut. “Yang penting lo selamat dulu!”
Kami masuk Maybach. Pintu kebanting.
“Ke mansion. Ngebut,” perintahnya ke sopir.
Mobil melesat. Di belakang, 3 Alphard bodyguard ngikutin.
Di dalam, hening. Cuma suara napasku sama detak jantungku.
Arsen buka HP, telpon. “Febri. Rekaman CCTV kamar. Kirim sekarang. Jangan disensor.”
1 menit. Masuk.
Video.
Jam 02:17 dini hari. Kamar gelap. Aku tidur di sofa. Arsen demam di ranjang.
Pintu kamar kebuka. Pelan. Nggak ada suara.
Masuk satu bayangan. Pake hoodie hitam, masker, sarung tangan.
Dia jalan ke arahku. Di tangan kanan: pisau dapur. Panjang. Kilatnya ketangkep kamera.
Dia angkat pisau. Arah ke leherku.
Aku di video masih tidur. Nggak tau.
Tapi tiba-tiba... dia berhenti. Kayak denger sesuatu. Nengok ke ranjang. Ke Arsen.
Arsen di video ngelindur. “Panas... jangan...”
Bayangan itu mundur selangkah. Ragu. Terus... dia selipin sesuatu di bawah bantal sofaku.
Habis itu kabur. Nutup pintu pelan.
Video habis.
Dingin. Seluruh badan.
Kalau Arsen nggak ngelindur, kalau aku nggak kebangun obatin dia...
Leherku udah putus.
Arsen banting HP ke dashboard. “Anjing!”
Dia jambak rambutnya. Napasnya ngos-ngosan.
“Turun,” katanya ke sopir.
“Loh, ini masih di tol—”
“TURUN!”
Sopir kaget. Minggir. Keluar. Lari ke mobil bodyguard.
Sekarang cuma aku sama Arsen di mobil.
Dia kunci pintu. Ceklek.
Terus nengok ke aku. Matanya... basah.
“Lo tau nggak rasanya?” suaranya pecah. “Nonton video istri lo hampir dipenggal, tapi lo nggak bisa ngapa-ngapain?”
Aku nggak bisa jawab. Aku gemeter.
Dia narik aku. Peluk. Kenceng banget. Sampe tulangku sakit.
Tapi aku nggak dorong. Aku butuh ini.
“Maaf,” bisiknya. Di rambutku. “Gue janji jaga lo. Tapi malah...”
“Lo demam,” potongku. “Lo nggak salah.”
“Gue salah!” Dia narik pelukannya. Pegang pipiku. “Gue lemah. Gara-gara gue, lo diincer. Gara-gara gue, Om Karno mati. Gara-gara gue, sekarang lo—”
“Arsen!” Aku genggam tangannya. “Cukup. Kita pulang. Kita cek bantal. Kita lawan bareng.”
Dia diem. Natap aku. Kayak nyari bohong.
Nggak ada.
Akhirnya dia ngangguk. Nyalain mobil.
---
Mansion kayak kuburan.
Semua pelayan dikumpulin di lobi. Digelar Pak Darma.
“Siapa jaga shift malem?” tanya Arsen. Suaranya tenang. Tapi semua orang tau, itu tenang sebelum badai.
Nggak ada yang angkat tangan.
Arsen senyum. Dingin. “Bagus. Berarti kalian semua gue pecat.”
“Tu-Tuan!” Pak Darma panik. “Kami... kami dikunci dari luar, Tuan. Pintu servis. Ada yang sabotase.”
Arsen nengok ke aku. Kode: *Mereka nggak bohong.*
“Ayo,” katanya. Narik tanganku.
Kami naik ke kamar. Di depan pintu, 6 bodyguard udah siaga.
Arsen buka pintu. Pelan.
Kamar rapi. Kayak nggak ada apa-apa.
Tapi bau. Bau besi. Darah.
Aku nengok ke sofa. Seprei putih.
Di situ, ada bercak. Merah. Kecil. Baru.
Arsen nyalain lampu. Terang.
Dia jalan ke sofa. Angkat bantal.
Di bawahnya: pisau dapur. Masih ada darah. Sama... surat. Kertas dilipet.
Aku mau maju, tapi Arsen nahan. “Jangan sentuh.”
Dia pake sapu tangan, ambil surat. Buka.
Tulisannya dari guntingan majalah.
*“INI PERINGATAN PERTAMA. *
*HARI KE-300, NYAWANYA ATAU NYAWA KAMU. *
*PILIH. *
*- PEMBALAS SUKARNO”*
Hari ke-300. 65 hari lagi.
Kakiku lemes. Aku jatuh duduk di lantai.
Arsen remas surat itu. Urat di tangannya keluar.
“Pak Darma!” teriaknya.
Pak Darma lari masuk. Pucet liat pisau.
“Bakar kamar ini,” perintah Arsen. “Bakar semua. Ganti baru. Steril.”
“Ta-tapi Tuan—”
“BAKAR!”
Pak Darma ngangguk, lari.
Arsen nyamperin aku. Jongkok. Ngangkat daguku.
“Naura,” katanya. “Kita pindah.”
“Pi-pindah ke mana?”
“Penthouse. Paling atas Adijaya Tower. 1 lantai, 1 akses. Nggak ada yang bisa masuk kecuali gue.” Dia genggam tanganku. “Lo nggak akan keluar dari sana. Sampai gue dapet orangnya.”
Dikurung. Lagi.
Tapi kali ini, aku nggak nolak.
“Arsen,” bisikku. “Itu nama Ayah. Pembalas Sukarno. Mereka... dendam sama Mama?”
Arsen diem. Matanya gelap.
“Mama lo selingkuh,” kataku. Inget cerita Arsen. “Terus... Mama gue? Mama gue kenapa?”
Arsen nggak jawab. Dia berdiri. Narik aku.
“Kita beres-beres. 10 menit.”
Dia nggak mau jawab.
---
10 menit kemudian, kami udah di Maybach lagi. Koper cuma 1. Isinya baju, foto Ayah, gamis Ibu.
Di belakang, asap hitam ngepul dari mansion. Kamar kami dibakar beneran.
Aku nengok ke Arsen. Dia nyetir. Fokus. Tapi tangannya ngepal di setir.
“Arsen,” panggilku.
“Hm.”
“Yang masuk kamar itu... dia bisa aja bunuh gue. Tapi dia nggak. Kenapa?”
Arsen diem lama.
“Karena,” jawabnya akhirnya. “...nyawa lo lebih berharga buat nyiksa gue.”
Maksudnya?
“Lo mati, gue selesai. Lo hidup, tapi takut, gue tiap detik mati pelan-pelan.” Dia nengok. Senyum. Pahit. “Mereka pinter. Kayak Mama.”
Sampe Adijaya Tower. Lantai 88.
Penthouse-nya seluas lapangan. Kaca 360 derajat. Jakarta di bawah kaki.
Tapi rasanya kayak sangkar emas.
Arsen kunci pintu. 3 lapis. Sidik jari, retina, kode.
Dia lempar koper ke kamar. Terus nengok ke aku.
“Mulai hari ini,” katanya. “Aturan baru.”
Aku nelen ludah. “Apa?”
“1. Lo tidur di ranjang. Sama gue.” Dia jalan nyamperin. “Nggak ada sofa. Kalo ada apa-apa, gue harus ngerasain duluan.”
“2. Kamar mandi nggak dikunci. Kalo lo jatoh, gue harus denger.”
“3. Nggak ada HP. Nggak ada TV. Nggak ada internet. Semua lewat gue.”
Aku mau protes. Tapi inget pisau. Inget darah.
“4,” lanjut dia. Udah depan aku. “Kalo lo mati... gue nyusul.”
Aku kaget. “Gila!”
“Gue serius.” Dia angkat tanganku. Taro di dadanya. Jantungnya. “Ini berhenti kalo lo berhenti. Jadi jangan macem-macem, Naura Maheswari Adijaya.”
Aku mau nangis. Tapi juga mau nonjok.
“Terus gue di sini ngapain? Jadi pajangan?”
Dia senyum. Tipis. “Jadi istri gue.”
Terus dia narik aku. Peluk lagi.
Di lantai 88, di atas Jakarta, di dalam sangkar emas.
Di luar, musuh ngitung hari. Hari ke-300.
Di dalem, aku ngitung detak jantung Arsen.
Sama-sama bom waktu.
---
**END BAB 9**
Lanjut **Bab 10: 88 Lantai Dari Neraka**? Di situ Arsen interogasi semua bodyguard + Naura nemu kamera di teddy bear & ngamuk ke Arsen karena merasa nggak dipercaya.