Pelukan di mobil itu masih nempel di badan.
Tiga hari. Aku nggak bisa tidur. Tiap merem, yang kerasa cuma degup jantung Arsen di telingaku.
Arsen juga aneh. Makin diem. Tapi tiap aku keluar kamar, matanya ngikutin. Kayak CCTV.
Pagi ini, HP-ku bunyi. Dari RSUD.
“Bu Naura? Ibu Maheswari udah boleh pindah ke ruang rawat biasa. Tapi ada berkas yang harus ditandatangani keluarga.”
Ibu udah sadar.
Aku loncat dari sofa. “Arsen!”
Arsen nongol dari ruang kerja. Kemeja putih, lengan digulung. “Apa?”
“Ke RS yuk. Ibu udah bisa dijenguk!”
Dia diem. Natap aku 3 detik. Terus ngangguk. “Ganti baju. 5 menit.”
Di mobil, dia nyetir sendiri. Nggak pake sopir. Bodyguard ngikutin dari belakang.
Aku senyum-senyum sendiri. Nggak bisa berhenti.
“Kenapa?” Arsen nengok.
“Gue seneng,” jawabku. Jujur. “Makasih ya. Karena lo, Ibu—”
“Berhenti makasih,” potong dia. Tapi nggak jutek. “Gue alergi.”
Aku ketawa. Pertama kali ketawa lepas di depannya.
Dia nengok. Lama. Sampe lampu merah.
“Apa?” tanyaku. Salting.
“Ketawa lagi,” katanya.
“Hah?”
“Lo ketawa, Naura. Jangan pelit.”
Deg.
Lampu ijo. Dia balik nyetir. Tapi ujung bibirnya naik. Dikit.
---
RSUD rame. Aku jalan cepet ke ruang rawat. Arsen di belakang, jaga jarak 1 meter. Tapi matanya nyapu semua orang kayak scanner.
Di depan kamar 302, aku berhenti. Napas. Dorong pintu.
Ibu di ranjang. Selangnya udah lepas. Pucet, tapi senyum.
“Nduk...”
Aku lari. Peluk. Nangis. “Ibu... Ibu udah sehat...”
Ibu usap kepalaku. “Iya, Nduk. Katanya ada yang bayarin semua... siapa, Nduk?”
Aku nengok. Arsen berdiri di pintu. Nggak masuk. Canggung.
Ibu liat. Matanya berkaca-kaca. “Kamu... Arsen? Anaknya Pak Adijaya?”
Arsen ngangguk. Sopan. “Iya, Bu. Apa kabar?”
Ibu mau bangun, mau salim. Aku tahan.
“Eh, nggak usah, Bu. Dia...” Aku bingung. “Dia temen Naura, Bu.”
Temen.
Rahang Arsen keras. Tapi dia nggak bantah.
Ibu senyum. “Temen yang baik. Makasih ya, Nak. Ibu nggak bisa bales—”
“Bu,” potong Arsen. Dia akhirnya masuk. Tarik kursi, duduk di samping ranjang. “Ibu nggak usah bales apa-apa. Ibu udah jagain saya waktu kecil. Ini gantian saya.”
Ibu nangis. Genggam tangan Arsen.
Aku liat. d**a anget.
Pintu kebuka. Dokter masuk.
“Selamat siang, Bu Maheswari. Saya Dokter Arya. Dokter jaga hari ini.”
Dokternya muda. Umur 30-an. Tinggi. Putih. Senyumnya ramah.
“Ini anak saya, Naura,” kata Ibu. “Sama... temennya, Arsen.”
Dokter Arya salaman sama aku. “Oh, Mbak Naura. Saya yang tangani Ibu waktu masuk ICU. Untung cepet.”
Tangannya lama lepasnya. Senyumnya beda.
Arsen dehem. Keras.
Dokter Arya baru nengok. Salaman sama Arsen. Singkat. Dingin.
“Saya mau cek kondisi Ibu dulu ya,” kata Dokter Arya. “Mbak Naura, bisa minta waktu sebentar? Ada berkas yang harus dijelaskan di nurse station.”
Aku ngangguk. “Oh, oke.”
Aku pamit. Ikut Dokter Arya keluar.
Di lorong, dia ngajak ngomong.
“Ibu sering cerita tentang Mbak. Katanya jago bikin kue.”
Aku senyum. “Iya, dulu. Sekarang udah—”
“Pantes,” potongnya. “Manisnya sama kayak kuenya.”
Aku kaget. Ini dokter apa tukang gombal?
“Eh, berkasnya—”
“Nanti,” katanya. Dia makin deket. “Mbak Naura, saya boleh minta nomor? Siapa tau Ibu butuh konsultasi lanjutan. Biar gampang—”
“Nomor istri saya private.”
Suara dari belakang. Dingin. Kayak es batu.
Arsen.
Dia udah berdiri 2 meter di belakangku. Kapan datengnya nggak tau. Tangannya masuk saku. Tapi uratnya keluar.
Dokter Arya kaget. “Oh, maaf Pak. Saya cuma—”
“Cuma mau mati,” sambung Arsen. Dia jalan nyamperin. Berdiri di sampingku. “Dia istri saya. Naura Adijaya. Ada buku nikah. Mau liat?”
Muka Dokter Arya pucet. “Sa-saya nggak tau... maaf...”
“Kalau udah tau, pergi,” kata Arsen. Pelan. Tapi semua suster di nurse station diem.
Dokter Arya ngangguk, ngacir.
Aku mau marah. “Lo ngapain? Dia cuma—”
“Cuma mau ngajak lo selingkuh,” potong Arsen. Dia tarik tanganku. Kasar. “Balik.”
“Arsen, lepas! Sakit!”
Dia nggak lepas. Nyeret aku sampe tangga darurat. Sepi.
Di situ, dia dorong aku ke dinding. Nggak kenceng, tapi nggak bisa kabur.
Tangannya di kiri-kanan kepalaku. Ngurung. Napasnya berat. Matanya merah.
“Lo seneng?” tanyanya. Pelan. Bahaya.
“Seneng apa?”
“Digodain dokter. Dibilang manis. Dikasih nomor.” Tiap kata, dia makin deket. “Lo lupa lo udah nikah? Lo lupa kontrak Pasal 9?”
Aku panas. “Lo juga lupa! Katanya temen! Tadi di depan Ibu lo diem aja!”
“Karena kalo gue ngaku suami lo di depan Ibu lo, Ibu lo bakal serangan jantung!” bentak dia. “Lo mau?!”
Aku diem.
Dia juga diem. Napas kami berantem.
“Gue...” suaranya turun. Parau. “Gue nggak suka, Naura. Gue nggak suka ada laki lain liat lo. Senyum ke lo. Sentuh tangan lo.”
Jujur. Akhirnya.
“Tapi lo yang bilang nggak bakal jatuh cinta,” kataku. Nantang. Padahal suara geter.
“Terus kalo gue jatuh?” Dia nengok. Tantang balik. “Lo mau apa? Mau batalin kontrak? Mau pergi?”
Aku nggak jawab. Nggak bisa.
Karena aku juga takut. Takut jawab “iya”. Takut jawab “enggak”.
Arsen ketawa. Pahit. “Lihat kan? Lo juga sama. Munafik.”
Dia mau mundur. Mau pergi.
Tapi aku tarik kemejanya.
Dia kaget.
Aku juga kaget sama diriku sendiri.
“Gue nggak mau pergi,” bisikku. Cepet. Sebelum nyesel. “Tapi lo juga jangan main tarik-ulur. Kalo lo cemburu, bilang. Kalo lo takut, bilang. Jangan main kontrak mulu. Gue capek.”
Arsen diem. Natap aku. Lama.
Terus dia nunduk.
Dan nyium aku.
Bukan ciuman lembut. Ciuman marah. Ciuman takut. Ciuman “lo milik gue”.
Kasar. Basah. Putus asa.
Tangannya naik ke pinggangku. Narik. Nempel.
Aku kaget. Detik pertama mau dorong.
Detik kedua, tanganku naik. Ke lehernya. Balas.
Karena aku juga marah. Marah karena dia bikin aku candu.
Kami ciuman sampe napas habis. Sampe dunia berasa cuma tangga darurat ini.
Pas lepas, dahi kami nempel. Napas kami sama-sama ngos-ngosan.
“Nggak ada Pasal 9 lagi,” bisik Arsen. Serak. “Mulai sekarang, aturannya gue yang bikin.”
“Aturan apa?” bisikku.
“Lo cuma boleh senyum kayak tadi ke gue.” Dia elus pipiku. Jempolnya kasar. Tapi hati-hati. “Lo cuma boleh manis ke gue. Lo cuma boleh... milik gue.”
Possesif. Gila. Iblis.
Tapi aku ngangguk.
Karena sialnya, aku mau.
Dari bawah, suara HP Arsen bunyi. Telepon.
Dia angkat. Nggak lepasin pinggangku.
“Ngomong.”
“...Tuan. CCTV rumah. Ada yang masuk kamar Nyonya malem tadi. Bawa pisau. Kami baru liat rekaman.”
Darahku dingin.
Arsen langsung narik aku. Keluar dari tangga darurat. Lari.
“Kunci RS,” katanya ke telpon. “Nggak ada yang keluar masuk. Termasuk dokter tadi.”
Dia nengok ke aku. Matanya panik. Panik beneran.
“Lo denger?” katanya. “Ada yang mau bunuh lo. Di kamar kita. Semalem. Pas gue demam.”
Pas dia lemah. Pas aku lengah.
SMS Fase 3.
*“Buat dia percaya kamu. Terus hancurin dia dari dalem.”*
Mereka mulai.
---
**END BAB 8**
Lanjut **Bab 9: Darah di Sprei Putih**? Di situ Arsen nemu pisau + surat ancaman di bawah bantal Naura, dan dia ngurung Naura di penthouse.