Penthouse lantai 88 berasa kuburan mewah.
Semua kaca, semua putih, semua dingin.
Jam 1 pagi. Aku kebangun. Nengok kanan.
Arsen nggak ada.
Aku panik. Duduk. Selimut ke pel lantai.
“Arsen?” panggilku. Pelan.
Nggak ada jawaban.
Aku lari keluar kamar. Ruang tamu kosong. Dapur gelap.
Di ujung, ada pintu besi. Ruang kontrol. Lampunya nyala.
Aku jalan nyamperin. Pintunya kebuka dikit.
Di dalem, Arsen.
Dia duduk di depan 12 layar CCTV. Mansion, kantor, RS, lobby tower. Semua nyala.
Di meja, 6 bodyguard berdiri nunduk. Keringetan. Lebam.
“Ulang,” suara Arsen datar. Tapi dinginnya sampe ke tulang. “Jam 02:00 - 02:30, siapa yang jaga pintu servis sayap barat?”
Satu bodyguard angkat kepala. “Sa-saya, Tuan. Tapi sumpah, saya nggak ninggalin pos. Tiba-tiba dikunci dari luar—”
BUGH.
Arsen nendang kursi. Kursinya mental ke tembok.
“Terus orang pake hoodie itu lewat mana? Terbang?!” bentak dia. “Dia bawa pisau sepanjang 30cm masuk kamar istri gue! Di depan muka kalian!”
Nggak ada yang jawab.
Aku mundur. Jantung deg-degan.
Ini Arsen yang aku kenal di berita. Iblis Adijaya.
Dia nengok. Liat aku di pintu.
Matanya yang tadinya merah marah, langsung... panik.
Dia berdiri. Jalan cepet ke aku. Dorong aku keluar, tutup pintu ruang kontrol.
“Ngapain bangun?” tanyanya. Pelan. Beda 180 derajat dari barusan.
“Lo... lo nggak di ranjang,” jawabku. Masih liat ke pintu. “Lo mukulin mereka?”
“Interogasi,” koreksi dia. Dia genggam bahuku. “Balik tidur. Ini urusan gue.”
“Urusan lo?” Aku lepas tangannya. “Yang mau dipenggal gue, Arsen! Yang ditaro pisau di bantal gue!”
“MAKANYA GUE YANG NGURUS!” bentaknya. Refleks.
Aku kaget. Dia juga kaget sama dirinya sendiri.
Dia narik napas. Usap muka.
“Sorry,” bisiknya. “Gue... gue nggak bisa tidur kalo inget videonya. Gue harus tau siapa. Harus sekarang.”
Aku liat tangannya. Merah. Kayaknya abis nonjok tembok.
Tanpa mikir, aku genggam tangan itu.
Dia diem. Nengok ke tanganku.
“Jangan sakitin diri sendiri,” kataku. “Kalau mau mukul, pukul aku aja.”
Dia ketawa. Pendek. Hampa. “Gila. Gue nggak akan pernah.”
“Terus kenapa lo kurung gue kayak barang? Kenapa HP gue disita? Kenapa gue nggak boleh ke balkon?” Aku mulai emosi. “Lo nggak percaya gue bisa jaga diri? Atau lo nggak percaya gue nggak bakal kabur?”
“Gue nggak percaya dunia,” jawab dia. Cepet. “Dunia isinya orang yang mau lo mati. Termasuk dokter tadi. Termasuk bodyguard gue. Termasuk... mungkin gue.”
Dia ngaku.
“Makanya lo di sini. Di 88 lantai dari neraka. Biar kalo neraka naik, gue punya waktu buat bunuh mereka dulu sebelum nyentuh lo.”
Aku mau nangis. Tapi juga mau nampol.
Aku balik badan. Balik ke kamar. Banting pintu.
---
Jam 7 pagi, dia udah rapi. Jas. Dasi. Mau ke kantor.
Dia taro nampan di nakas. Roti, s**u, buah.
“Makan,” katanya. “Gue ke kantor. Jam 6 sore pulang.”
“Terus gue ngapain?” tanyaku. Masih ngadep tembok.
“Lo istirahat. Baca buku. Tidur.”
“Gue bukan pasien RS, Arsen.”
Dia diem.
Terdengar langkahnya deket. Ranjang turun. Dia duduk di pinggir.
Tangannya nyentuh pundakku. Pelan.
“Naura,” panggilnya.
Aku nggak nengok.
“Gue tau ini gila. Gue tau lo benci gue.” Suaranya serak. “Tapi kasih gue 65 hari lagi. Sampai hari ke-300. Kalau lewat itu lo masih hidup, gue lepas lo. Gue ceraiin lo. Gue kasih semua harta gue. Lo bebas.”
Jantungku sakit.
Bebas. Kata yang dulu aku mau.
Sekarang kok rasanya kayak vonis mati.
“Nggak perlu,” kataku. Balik badan. Duduk. “Gue nggak mau harta lo. Gue cuma mau...”
“Mau apa?”
“Mau lo percaya gue,” jawabku. Natap mata dia. “Lo kurung gue, tapi lo pasang CCTV di kamar. Lo nyita HP gue, tapi lo nggak cerita apa yang sebenernya lo takutin. Lo bilang ‘milih gue’, tapi lo nggak pernah kasih gue pilihan.”
Arsen buka mulut. Mau bantah.
Tapi nggak jadi.
Dia nunduk. Ngalah.
“Iya,” bisiknya. “Gue takut.”
Pengakuan. Dari iblis.
“Gue takut lo ninggalin gue kayak semua orang. Gue takut lo mati kayak Om Karno. Gue takut... gue jatuh cinta, terus lo diambil.”
Dia ngangkat kepala. Matanya merah. Nggak ada air mata. Tapi lebih sakit dari nangis.
“Jadi iya, gue kurung lo. Karena kalo lo di luar, gue nggak bisa napas.”
Aku nggak bisa marah lagi.
Aku narik dasinya. Maksa dia deket.
Terus... aku cium keningnya.
Pelan. Lama.
Arsen kaku. Kayak kesetrum.
“Kalau gitu,” bisikku di keningnya. “Jangan kurung gue. Gembok gue ke lo. Biar kalo gue mati, lo ikut. Biar adil.”
Dia merem. Napasnya berat.
Tangannya naik, meluk pinggangku. Erat.
“Janji?” tanyanya. Kayak anak kecil.
Aku angguk. “Janji.”
Dia lepas pelan. Berdiri. Benerin dasi yang aku acak-acak.
“Jam 6 gue pulang,” katanya. Udah balik datar. Tapi kupingnya merah. “Jangan macem-macem.”
Dia pergi. Pintu kekunci. Ceklek.
---
Jam 11 siang. Bosen.
Aku keliling penthouse. Perpustakaan, gym, kolam renang dalem. Semua ada. Kecuali kebebasan.
Di kamar, aku buka lemari. Cari buku.
Di pojokan, ada teddy bear gede. Satu-satunya barang “nggak Arsen banget”.
Aku angkat. Berat.
Aku pencet perutnya.
Krek.
Dari mata teddy bear, lampu merah kedip.
CCTV.
Di dalem kamar. Di dalem ranjang.
Dia liat aku tidur. Ganti baju. Nangis. Semua.
Darahku naik ke kepala.
Janji? Gembok ke lo?
Bohong.
Dia masih nggak percaya.
Aku banting teddy bear itu ke kaca.
PRANG.
Kacanya retak. Teddy bear-nya pecah. Dari dalemnya, jatoh... mic kecil.
Dia denger juga.
Semua.
Aku ambil mic itu. Remes.
Pas jam 6 sore, pintu kebuka.
Arsen masuk. Senyum. Bawa bunga. Lily putih.
“Nih, buat—”
Aku lempar mic ke mukanya.
Dia kaget. Nangkep. Liat mic. Liat teddy bear pecah. Liat kaca retak.
Wajahnya pucet.
“Lo jelasin,” kataku. Tenang. Terlalu tenang. “Sekarang.”
Arsen taro bunga. Pelan.
“Naura, gue bisa jelasin—”
“Jelaskan kenapa lo liatin gue 24 jam? Jelaskan kenapa lo denger gue nangis? Jelaskan kenapa lo bilang ‘pilih gue’ tapi lo sendiri nggak milih buat percaya?!”
Aku teriak. Sekenceng-kencengnya. 88 lantai kayaknya denger.
Arsen maju. “Gue pasang itu sebelum kita deket! Waktu gue masih...”
“Masih ngira gue pembunuh?!” potongku. Air mata panas. “Bahkan setelah gue peluk lo? Setelah gue bilang janji?!”
Dia diem. Nggak bisa bantah.
Karena bener.
Dia nggak percaya.
Aku ketawa. Sakit.
“65 hari lagi ya?” kataku. Ambil koper kosong. “Nggak usah. Gue pergi sekarang.”
Aku jalan ke pintu.
“Naura.” Suaranya parau.
Aku nengok.
Dia berdiri di tengah ruangan. Bunga di lantai. Mic di tangan. Mukanya... hancur.
“Lo pergi... gue mati beneran.”
Ancaman? Janji?
Aku nggak peduli.
“Bagus,” kataku. “Biar impas. Lo udah ‘bunuh’ gue dari hari pertama.”
Ceklek.
Aku buka kunci pintu.
Dan di depan pintu...
Lestari.
Sama 10 polisi.
Seneng. Senyum menang.
“Arsen Adijaya,” kata polisi. “Anda ditahan atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Nyonya Naura Adijaya. Kami punya bukti rekaman CCTV Anda menyekap dan mengancam korban.”
Apa?
Aku nengok ke Arsen.
Dia natap Lestari. Terus natap aku.
Dan dia senyum.
Senyum pasrah.
“Akhirnya, Ma,” katanya. “Mama menang.”
---
**END BAB 10**
Lanjut **Bab 11: Sangkar Untuk Dua Orang**? Di situ Arsen dipenjara, Naura harus buktiin Arsen nggak bersalah, tapi syaratnya nikah sama anak buah Lestari.