Aku kebangun karena suara pintu dibanting.
“Arsen! Kamu gila ya?!”
Suara cewek. Melengking. Penuh amarah dan kepemilikan.
Refleks aku duduk. Jam di nakas nunjukin pukul 05.12 pagi. Sisi kanan ranjang udah kosong. Rapi. Nggak ada jejak Arsen pernah tidur di situ, kecuali bantalnya yang penyok dan sisa bau kayu gaharu di sprei.
Di luar kamar, ribut.
Aku nyambar cardigan rajut, pake seadanya, dan buka pintu.
Di koridor marmer, berdiri cewek yang kayak keluar dari majalah mode. Dress Dior merah, heels 12 cm, rambut diblow sempurna. Cantik. Tajam. Kayak pisau mahal.
Namanya Valerie Mahendra. Anak konglomerat. Tunangan politik Arsen yang gagal. Aku tau dari gossip kantor lamaku.
Dan sekarang, dia lagi nyakar-nyakar lengan Arsen yang masih pake kaos hitam semalam.
“Lo nikah sama dia?! Sama gembel itu?! Lo lupa janji lo ke bokap gue?!”
Arsen diem. Wajahnya datar. Tapi aku kenal tatapan itu. Tatapan sebelum dia ngancurin orang. Rahangnya kaku, urat di tangan yang nggak dipegang Valerie itu nongol.
Pak Darma dan dua bodyguard cuma nunduk di ujung koridor. Nggak ada yang berani napas kenceng.
“Valerie,” suara Arsen rendah. Terlalu tenang. “Keluar. Sekarang.”
“Enggak! Lo harus klarifikasi ke media! Batalin nikah sampah itu! Lo janji sama keluarga gue kalo lo butuh istri, lo pilih gue!”
“Gue nggak pernah janji apa-apa ke lo.” Arsen ngebas tangan Valerie dari lengannya. Kasar. “Dan jangan pernah sebut istri gue ‘gembel’ lagi. Sekali lagi, nama Mahendra hilang dari daftar rekanan Adijaya Group.”
Istri.
Kata itu nusuk kupingku. Bikin dadaku panas.
Valerie noleh. Baru sadar aku ada. Matanya langsung nyala. Dari rambut kucel, muka bantal, sampe cardigan kebesaran aku, dia nilai semuanya dalam 2 detik. Terus dia nyengir.
“Oh. Ini toh sampahnya.” Dia jalan nyamperin aku. Haknya bunyi “tak-tak-tak” kayak hitungan mundur. “Denger ya, babu. Lo cuma kontrak. 365 hari. Abis itu Arsen balik ke gue. Dia cuma butuh rahim gratis buat pewaris, biar saham keluarga nggak goyang. Lo pikir lo Cinderella?”
Aku mau jawab, tapi Arsen lebih cepet.
Dia jalan nyamperin kami. Nggak ngedorong Valerie. Dia malah berhenti di sampingku.
Terus tangannya ngelingkar di pinggangku.
Satu gerakan. Tegas. Nuntut. Narik aku rapat ke sisi badannya sampe bahuku nempel d**a dia.
Panas. Dadaku langsung sesak. Bau dia masuk ke paru-paru. Bukan cuma gaharu lagi. Ada bau sabun, bau pagi, bau... laki-laki.
“Dia Nyonya Adijaya,” kata Arsen. Matanya ngunci Valerie, tapi semua orang di koridor tau omongan itu buat siapa aja. “Mau kontrak, mau beneran, itu urusan gue sama dia. Siapa pun yang nggak hormat ke dia, gue anggap nggak hormat ke gue.”
Valerie pucet. Tangannya ngepal.
“Dan Valerie,” Arsen lanjut. Suaranya turun satu oktaf. Lebih dingin dari AC mansion. “Kalo bokap lo mau deal 2 triliun itu tetep jalan, ajarin anaknya cara nutup mulut. Atau gue yang ajarin. Dengan cara gue.”
Ancaman. Telanjang. Nggak pake basa-basi.
Muka Valerie dari merah jadi putih. Dia natap aku kayak mau nyobek-nyobek aku pake kuku palsunya. Terus dia muter badan, ngebut pergi sambil nyenggol bahu Pak Darma.
“Awasi dia,” bisik Arsen ke bodyguardnya.
Koridor sepi lagi.
Tapi tangan Arsen masih di pinggangku. Belum lepas.
Jempolnya, sengaja atau nggak, ngusap kecil di pinggir cardiganku. Sekali. Pelan. Tapi listriknya ngejalar dari pinggang sampe ke dengkul.
Aku kejetak. Sadar. Terus kutepis tangannya. Mundur dua langkah.
“Jangan sentuh saya kalo cuma buat pamer ke mantan.”
Alis Arsen naik sepersekian mili. “Lo pikir tadi pamer?”
“Terus apa? Kasihan? Saya nggak butuh bodyguard, Tuan Arsen. Saya butuh Ibu saya selamat. Itu aja. Sesuai kontrak.”
Aku sengaja nekan kata ‘kontrak’. Biar dia inget. Biar aku inget. Ini cuma transaksi.
Arsen diem. Dia natap aku lama. Ngebedah ekspresiku, nyari retak di topengku.
Terus dia ngeluarin HP dari saku. Ngetik cepet. Nyodorin layarnya ke aku.
Di layar ada live CCTV. Ruang ICU RS Medika.
Ibu.
Selang-selang nempel di badan Ibu. Di depannya, tim dokter pake baju ijo lagi sibuk. Lampu di atas pintu ruang operasi nyala merah: “OPERASI BERLANGSUNG”.
“Dimulai 20 menit lalu,” kata Arsen. “Dokter Herman yang mimpin. Ketua tim transplantasi hati se-Asia Pasifik. Gue yang jemput dia dari Singapura jam 2 pagi.”
Semua marahku, semua sombongku, rontok.
Lututku lemes. Aku limbung.
Sebelum jatuh, siku aku udah ditahan sama Arsen. Genggamannya kenceng. Stabil. Nggak posesif kayak di pinggang tadi. Ini... murni nahan biar aku nggak jatuh.
“Duduk.” Perintahnya pelan.
Dia nuntun aku ke kursi ukir di koridor. Terus dia ngelakuin hal paling nggak “Arsen Adijaya” sedunia.
Dia jongkok.
Di depanku.
Kaos hitamnya ketarik, nunjukin V-line yang samar. Matanya sejajar sama mataku.
“Naura.”
Pertama kali dia manggil namaku tanpa marga. Tanpa ‘Nyonya’. Cuma Naura.
“Dokter bilang peluangnya 87%. Ibu lo kuat. Sama kayak anaknya yang semaleman nggak tidur dan tetep masang muka galak ke gue.”
Aku mau ketawa. Tapi yang keluar malah air mata.
Pecah.
Aku nangis nggak bersuara. Bahu geter. Semua takut, capek, marah, bingung 48 jam terakhir tumpah di koridor dingin ini.
Arsen nggak ngomong. Nggak nyentuh. Nggak nyuruh aku diem.
Dia cuma jongkok di situ. Jadi tembok. Jadi jangkar. Nungguin badai di dadaku reda.
Dan di detik itu, aku benci dia.
Benci karena cuma butuh 2 hari buat dia ngancurin tembok yang kubangun 24 tahun. Benci karena di saat aku paling lemah, yang ada di depanku malah iblis yang kubenci.
Dari ujung koridor, Pak Darma ngeliatin kami. Mukanya datar. Tapi tangannya ngepal di saku.
HP-nya geter. Dia buka.
Satu chat masuk dari nomor tanpa nama:
*“Target udah nangis. Fase 1 berhasil. Fotoin. Kirim ke gue. Lanjut Fase 2: Pisahin mereka.”*
Pak Darma angkat HP-nya. Diam-diam ngarahin kamera ke aku sama Arsen.
Klik.
---
**END BAB 5**