Kamar mandi mansion Adijaya lebih gede dari kontrakan aku sama Ibu.
Wastafel marmer, bathtub yang bisa muat 3 orang, dan cermin segede dinding. Tapi yang aku liat di cermin cuma perempuan pucet dengan piyama sutra merah maroon. Tipis. Ngejatuhin bahu.
Ini bukan baju tidur. Ini kostum. Arsen sengaja taro ini di lemari biar aku... apa? Nyerah? Goda dia?
Aku ganti ke cardigan rajut yang kutemu di koper daruratku. Kebesaran, tapi setidaknya nutupin semua.
Pas aku keluar, Arsen udah di ranjang.
Dia duduk, punggungnya nyender ke headboard kayu ukir. Laptop di pangkuan, kacamata baca nangkring di hidungnya. Kemejanya udah lepas, tinggal kaos hitam polos yang nempel di badan. Lengan berurat itu keliatan jelas waktu dia ngetik. Ada bekas luka lama di lengan kiri, melingkar kayak bekas borgol.
Dia nggak noleh. Tapi dia ngomong.
“Lampu mau dimatiin atau diredupin?”
Nadanya bisnis. Kayak lagi nawarin aku mau teh atau kopi pas meeting. Padahal kita lagi bahas tidur. Sekamar. Sekasur.
“Nyala aja,” jawabku cepet. Kecepetan. Kedengeran takut.
Siku Arsen berhenti ngetik sedetik. Terus lanjut lagi. “Oke.”
Dia nutup laptop, naro di nakas. Terus dia rebahan. Di sisi kanan. Nyisain sisi kiri yang luasnya bisa buat parkir motor. Jelas banget: jangan deket-deket.
Aku jalan kaku ke sisi kiri ranjang. Kasurnya empuk banget sampe aku berasa tenggelam. Selimutnya dingin, wangi vanila dan... dia. Bau kayu gaharu yang sama kayak di kantornya tadi.
Hening.
Cuma suara AC mendesis pelan sama detak jantungku yang berisiknya minta ampun.
Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit.
Aku meremin mata, tapi otak nggak bisa diem. Tanda tangan kontrak. SMS ancaman. Ayah. Ibu yang sekarang lagi di meja operasi. Dan pria di sebelahku yang bisa beli nyawa orang dengan jentikan jari.
“Arsen.”
Namanya lolos gitu aja dari bibirku. Aku kaget sendiri.
Dia nggak jawab. Tapi aku tau dia denger. Napasnya berubah. Lebih pelan.
“Ayahmu.”
Dia yang mulai. Suaranya ngebelah sepi.
Aku noleh. Dia juga noleh.
Di temaram lampu tidur, jarak kami cuma setengah meter. Aku bisa liat bayangan bulu matanya. Bisa liat luka tipis di pelipisnya yang tadi kuliat di kantor. Bisa liat gimana rahangnya keras waktu nahan emosi.
“Pengirim SMS itu nyinggung ayahmu. Cerita,” katanya. Bukan minta. Nyuruh.
Tenggorokanku kering. “Ayahku meninggal karena kecelakaan. Dua tahun lalu. Di Puncak. Mobilnya kejebur ke jurang. Polisi bilang rem blong.”
“Dan kamu percaya?”
Pertanyaan itu nusuk. Karena enggak. Aku nggak pernah percaya. Ayahku montir. Dia yang ngajarin aku cara cek rem, cara dengerin mesin. Nggak mungkin dia nggak ngecek mobilnya sendiri sebelum ke Puncak.
“Dia punya utang,” lanjutku. Suaraku kecil. “Banyak. Ke rentenir. Ke bank. Ke... orang-orang yang nggak bisa ditagih polisi.”
Arsen diem. Matanya nyari sesuatu di wajahku. Bohong. Ragu. Takut.
Terus dia buang napas. Balik natap langit-langit. “Besok pagi timku kasih laporannya ke kamu. Lengkap. Siapa aja yang ayahmu utangin, siapa yang nagih terakhir, siapa yang untung kalo dia mati.”
Aku kaget. “Kenapa kamu bantu?”
“Karena,” dia muter badan, sekarang sepenuhnya membelakangi aku. Punggungnya ke arahku. “Kalau ayahmu dibunuh gara-gara kasus yang nyangkut ke aku, artinya musuhku udah masuk ke kandangku. Dan aku nggak suka tikus di rumahku, Naura.”
Lagi-lagi bisnis. Lagi-lagi kalkulasi.
Tapi mataku malah kejebak di punggungnya.
Kaos hitamnya ketarik pas dia gerak, nunjukin pinggangnya. Dan di sana... bekas luka. Banyak. Garis-garis tipis, ada yang udah putih, ada yang masih kemerahan. Sabetan. Pukulan. Bukan luka satu malam. Ini luka bertahun-tahun.
Siapa yang berani nyakitin Arsen Adijaya sampe kayak gini?
Tanganku gatel. Mau nyentuh. Mau nanya. Siapa yang lakuin ini ke kamu?
Gila. Aku gila. Ini pria yang ngancem aku pake nyawa Ibuku 3 jam lalu.
Aku narik selimut sampe dagu. Meremin mata kenceng-kenceng.
“Tidur,” kata Arsen dari punggungnya. “Operasi ibumu jam 4 pagi. Kamu harus kuat.”
Aku mau nyahut, tapi kata-katanya nyangkut. Karena... dia peduli? Atau ini cuma bagian dari “jaga aset”?
Entah jam berapa, aku kebangun karena kedinginan. AC mansion ini kayak kutub.
Aku ngigau narik selimut. Tapi selimutku nyangkut. Aku tarik lagi, lebih kenceng.
Tanganku malah nabrak sesuatu yang panas. Keras.
Bahu.
Bahu Arsen.
Dia kebangun juga. Dalam sepersekian detik, pergelangan tanganku udah dicekek tangannya. Kenceng. Refleks. Matanya kebuka, tajam, awas. Kayak tentara yang kebangun di medan perang.
Kami saling tatap. Napas kami adu cepat di jarak yang terlalu dekat.
Di mata dia ada sisa mimpi buruk. Ada kegelapan yang nggak dia kasih liat ke siapa-siapa.
“Lepas,” bisikku. Suaraku geter.
Dia nggak langsung lepas. Jempolnya malah ngusap sekali pergelangan tanganku. Pelan. Ngerasain nadiku yang lari kayak kuda.
“Dingin,” gumamnya. Suaranya serak, berat, beda banget sama Arsen yang siang tadi. Lebih manusia. Lebih... berbahaya.
Sebelum aku bisa protes, dia udah narik selimut tebal dari sisi dia, ngelempar setengahnya ke badanku. Gerakannya kasar tapi nggak nyakitin.
Terus dia balik badan lagi. Punggungnya lagi.
Seolah 5 detik yang barusan nggak pernah kejadian.
Tapi pergelangan tanganku panas. Bekas jari-jarinya masih kerasa. Dan di bawah selimut yang sama, aku bisa ngerasain panas badannya. Nggak nyentuh, tapi ada.
Aku meremin mata. Nggak bisa tidur lagi.
Karena baru sadar, musuh terbesar Naura Maheswari malam ini bukan orang yang kirim SMS.
Musuhnya adalah dirinya sendiri. Yang mulai ngerasa aman, cuma karena selimut dari pria yang dia harus benci.
Di luar kamar, di ujung koridor yang gelap, ada bayangan berdiri.
HP di tangannya nyala. Layarnya nunjukin CCTV kamar ini.
Dia nge-zoom ke tanganku yang tadi dipegang Arsen.
Terus dia senyum.
Ketik cepet: “Target udah mulai nyaman. Fase 1 berhasil.”
Pesan terkirim. Ke nomor tanpa nama.