Mansion Adijaya bukan rumah. Itu museum.
Marmer putih, lampu gantung segede mobil, lukisan yang kayaknya lebih tua dari nenekku. Dingin. Nggak ada tanda kehidupan. Kayak pemiliknya.
“Arah kiri, Nyonya. Kamar Anda sudah disiapkan.”
Kepala pelayan, Pak Darma, nunduk. Umurnya 50-an. Wajahnya datar, tapi matanya ngukur aku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Menilai.
Aku ngikutin dia nyusurin lorong. Sepatu hak-ku bunyi nyaring di lantai. Berasa kayak terdakwa jalan ke ruang sidang.
“Kamar saya?” Aku berhenti. “Bukannya saya tidur sama...” Aku nggak sanggup nyebut ‘suami’.
Pak Darma berhenti juga. “Tuan Arsen bilang, Anda bebas pilih. Tapi kamar utama ada di sayap timur. Beliau sudah menunggu.”
Jantungku jatuh. Menunggu.
Pasal 9 langsung muter di kepala. Pihak Pertama berhak menuntut haknya kapan pun, di mana pun.
Aku genggam map kontrak di dadaku. Benteng kertas tipis.
Sampai di depan pintu kayu jati segede gaban, Pak Darma ngebungkuk. “Saya permisi. Silakan masuk, Nyonya.”
Dia pergi. Ninggalin aku sendirian sama pintu itu.
Aku dorong pelan.
Di dalem, Arsen lagi buka kancing manset. Jasnya udah dilepas, nyangkut di kursi. Kemeja putihnya digulung sampai siku, nunjukin lengan yang berurat. Dia nggak noleh. Kayak udah tau aku bakal masuk.
“Kamu telat 15 menit,” katanya. Matanya masih di jam tangan. “Saya nggak suka nunggu.”
“Saya nggak suka diperintah.” Aku masuk, tutup pintu. Pelan, tapi bunyinya tetep final.
Baru sekarang dia natap aku. Dari atas ke bawah. Lama. Bukan tatapan m***m. Lebih kayak CEO ngevaluasi aset baru. Bikin tengkukku panas dingin.
“Di sini ada aturan,” katanya. Dia jalan nyamperin. Setiap langkahnya bikin ruanganku berasa makin sempit. “Satu: jangan pernah bohong sama saya. Dua: jangan keluar mansion tanpa izin saya atau Pak Darma. Tiga...”
Dia berhenti tepat di depanku. Dekat. Kelewat dekat. Aku bisa nyium bau parfumnya lagi. Kayu gaharu sama sesuatu yang... kelam.
“...jangan pernah nantang saya di kandang saya sendiri, Naura.”
Jari telunjuknya ngangkat daguku. Sentuhannya cuma sekilas, tapi cukup buat bikin napasku ketahan. Kasar. Dominan. Nggak minta izin.
Aku tepis tangannya. “Sentuh saya lagi, saya gigit.”
Alih-alih marah, dia malah nyengir. Miring. Bahaya.
“Galak.” Dia masukin tangan ke saku celana, ngeliatin aku kayak nemu mainan baru yang menarik. “Bagus. Istri boneka bikin bosen.”
Dia muter badan, jalan ke arah jendela gede yang ngadep ke taman belakang. “Lemari di sebelah sana. Semua isinya udah saya siapin. Ukuran kamu. Kamu tidur di kamar ini malam ini.”
“Kenapa?” Aku nyebrangin tangan di d**a. Jaga jarak. “Takut saya kabur?”
Dia noleh. Sorot matanya gelap. “Enggak. Takut orang lain masuk.” Dia nunjuk dagunya ke arah pintu. “SMS tadi udah dilacak tim saya. Pengirimnya ada di dalam mansion ini.”
Dingin langsung nyusup ke tulangku.
“Jadi saya disuruh tidur sekamar sama tersangka pembunuhan ayah saya?”
“Bukan.” Arsen jalan balik ke aku. Kali ini pelan. Ngukur. “Kamu disuruh tidur sekamar sama satu-satunya orang di rumah ini yang nggak bakal bunuh kamu, Naura.”
Dia berhenti. Jarak kami cuma sejengkal. Aku bisa ngeliat detail bekas luka di pelipisnya. Bisa ngitung bulu matanya kalau mau.
“Karena kalau kamu mati, kontrak batal. Dan saya rugi 1,2 miliar.”
Alasannya bisnis. Selalu bisnis. Tapi kenapa jantungku malah sakit dengernya?
“Ambil piyama kamu,” katanya. Nadanya lebih rendah. Perintah, tapi nggak bentakan. “Kamar mandi di sana. Saya nggak bakal sentuh kamu. Malam ini.”
Dua kata terakhir dia gantung. Janji? Ancaman? Aku nggak tau.
Aku jalan kaku ke lemari, ngambil piyama sutra pertama yang kepegang. Pas balik badan, Arsen udah duduk di sofa, buka laptop. Kayak aku nggak ada.
Tapi pas aku lewat mau ke kamar mandi, tangannya nyambar pergelangan tanganku. Nggak kenceng. Cuma nahan.
“Naura.”
Aku nahan napas.
“Cincinnya jangan dilepas. Di rumah ini pun.” Jempolnya ngusap pelan punggung tanganku. Tepat di atas cincin kawin. Sentuhannya singkat, tapi ninggalin panas yang ngejalar sampai siku. “Karena selama cincin itu nempel, artinya kamu masih di bawah perlindungan saya.”
Dia lepas tanganku. Balik lagi ke laptop.
Aku masuk kamar mandi. Kunci pintu. Sandar di daun pintu.
Baru sadar, tanganku gemeteran.
Bukan karena takut.
Tapi karena sentuhan 3 detik tadi lebih ngancurin pertahanan aku daripada semua ancaman Arsen malam ini.
Dan di luar, suami kontrakku lagi nunggu. Di ranjang yang sama.
365 hari. Baru hari pertama.
Gimana caranya aku bertahan?