10 tahun kemudian.
Lantai 89 udah beda.
Dulu cuma ada nursery, ayunan, sama box bayi.
Sekarang?
Ada pintu kamar “PANGKALAN ARSENAL” penuh poster robot. Itu kamarnya Arsya, 15 tahun. SMA kelas 1. Tinggi udah 178 cm. Nyalip Arsen 1 cm.
Ada pintu kamar “ISTANA ALE” warna lilac, penuh stiker unicorn. Itu kamarnya Alesha, 10 tahun. Kelas 4 SD. Cerewetnya udah ngalahin alarm.
Ada dapur yang selalu bau kayu manis. Ada taman dalem yang isinya lego berantakan. Ada bekas cakar di sofa. Bukan kucing. Arsya. Umur 3 tahun dulu.
Dan ada kami.
Aku, 35 tahun. Rambut udah nggak item semua. Ada putih satu dua. Kata Arsen, “Abu-abu. Kayak otak lo, tambah bijak.”
Arsen, 42 tahun. Uban di pelipis udah banyak. Tapi badannya masih kayak satpam. Gym tiap subuh. Katanya, “Biar kuat gendong cucu nanti.”
“PA!”
Teriakan itu dari kamar “PANGKALAN”.
Arsen yang lagi nyeduh teh langsung narik pedang. Eh, spatula.
Dia lari. Aku ikut.
Di kamar Arsya, ada Arsya. Panjang. Keringetan. Seragam basket.
“Pa, sepatu basket Arsya mana? Yang baru? Besok tanding!”
Arsen napas lega. Dikira tawuran. “Di gudang, Nak. Box biru. Papa ambilin?”
“Nggak usah, Pa. Arsya cari sendiri. Papa temenin Mama aja. Mama kan gendut.”
Aku lempar bantal. “Arsya Mahesa Adijaya!”
Arsya ketawa. Kabur. “Bercanda, Ma! Mama paling cantik!”
Pintu kebanting.
Arsen nengok ke aku. Senyum. “Tuh kan. Gen Papa. Jago nego.”
“Gen Papa yang tukang bikin anak orang jatuh cinta,” koreksiku.
Dia nyamperin. Peluk dari belakang. Dagu di bahuku. Kebiasaan 10 tahun nggak ilang.
“Naura,” bisiknya.
“Hm?”
“Gendutnya cantik.”
Aku jitak perutnya. “Mas!”
Dia ketawa. Cium pipiku. “Fakta. Habis lahiran Alesha, tambah...”
“Mas!”
“...subur.”
Aku ngakak.
---
Jam 16.00. Sekolah SD Mentari Bangsa.
Alesha keluar gerbang. Kuncir dua. Tas unicorn.
Di belakangnya, ada anak cowok. Bawa buku. Mukanya merah.
Alesha nengok ke kami yang nunggu di Maybach. Dadah.
Anak cowok itu ngikutin.
Arsen buka kaca mobil. Datar. “Dek.”
Alesha lari masuk. “Pa! Ma! Ini Nino! Dia minjemin Ale penghapus! Ale ilangin!”
Nino nunduk. “Om... Tante...”
Arsen natap. Lama. Dari atas sampe bawah.
Nino keringetan.
Aku nyubit paha Arsen.
Arsen dehem. “Oh. Nino. Makasih ya udah minjemin penghapus.”
Nino angguk cepet. “Sa-sama, Om.”
“Mau ikut pulang?” tawar Alesha. Polos.
“Mau!” Nino semangat.
“NG-GAK!” Arsen sama Arsya kompak.
Arsya baru sampe. Abis dari GOR. Tas basket. Dia denger.
“Ngapain bawa cowok ke rumah, Sha?” Arsya narik Alesha masuk. “Nggak boleh. Nanti Papa pusing.”
“Papa nggak pusing,” bela Arsen. “Papa cuma... protektif.”
Aku ketawa. “Satu rumah isinya satpam semua.”
Di mobil, Nino diapit Arsya sama Arsen.
Nino: keringet dingin.
Arsya: “Lu suka adik gue?”
Nino: “E-eh, nggak, Kak. Temen...”
Arsen: “Bagus. Temen aja. Sampai umur 30.”
Aku: “Mas...”
Sampai rumah, Nino pamit. Lari.
Alesha manyun. “Papa sama Kakak jahat. Ale jadi nggak punya temen.”
Arsen jongkok. Sejajar. “Sha, denger Papa.”
“Hm?”
“Temen boleh banyak. Tapi... cowok yang deketin Ale harus lewat Papa dulu. Tes.”
“Tes apa?”
“Tes ganti ban mobil. Tes masak indomie. Tes nggak nangis dipukul Papa.”
“MAS!” Aku sama Arsya teriak.
Arsen angkat bahu. “Papa sayang Ale.”
Alesha ketawa. Peluk Arsen. “Ale juga sayang Papa. Tapi Papa lebay.”
---
Malam.
Gudang lantai 88.
Aku lagi beres-beres. Barang Arsya bayi mau disumbangin.
Alesha ikut. “Ma, ini baju bayi Arsya?”
“Iya. Mau Mama kasih ke panti.”
Alesha bongkar box. “Wah! Ada foto!”
Dia angkat. Foto lama. Aku sama Arsen. Di KUA. Kaku. Mukaku jutek. Arsen mukanya datar.
Di belakang, ada Arsya. “Apaan tuh?”
Dia ambil. Terus liat box.
Ada map. *“Kontrak 365 Hari”*.
Tulisannya udah pudar.
Arsya buka. “Perjanjian Perkawinan Kontrak antara Arsen Adijaya Pihak Pertama dan Naura Maheswari Pihak Kedua...”
Hening.
Alesha nengok ke aku. “Ma? Papa beli Mama 1,2 M?”
Arsya nengok ke Arsen yang baru masuk gudang bawa teh.
“Pa,” kata Arsya. Pelan. “Ini beneran?”
Arsen liat map itu. Liat aku.
Dia taro teh. Jalan nyamperin. Duduk. Di lantai gudang.
“Iya,” katanya. Jujur. “Papa beli Mama.”
Alesha duduk. Pangku. “Terus? Mama dijual?”
Aku ikut duduk. “Mama... butuh uang. Buat Ibu.”
“Terus Papa jahat sama Mama?” tanya Arsya. Mukanya serius. 15 tahun, tapi matanya... Arsen banget.
Arsen tarik napas. “Paling jahat sedunia.”
Dia cerita. Semua. Dari awal. Om Karno. Lestari. Bunker. Hari ke-300.
Alesha nangis. “Papa jahat! Mama kasian!”
Arsya diem. Tangannya ngepal.
Aku pegang tangan Arsya. “Tapi, Nak...”
“Tapi apa, Ma?” Arsya nengok. Matanya merah. “Papa nyakitin Mama?”
Arsen nunduk. “Iya, Nak. Papa nggak pantas jadi Papa.”
Arsya berdiri.
Aku panik. “Arsya...”
Arsya jalan ke Arsen. Berdiri depannya.
Terus...
Dia peluk.
Kenceng.
Arsen kaget. Badannya kaku.
“Kalau Papa nggak beli Mama,” kata Arsya. Suaranya geter. “Arsya nggak ada. Alesha nggak ada. Mama... Mama mungkin sedih sampe sekarang.”
Arsen peluk balik. Gemeter.
“Papa emang jahat dulu,” lanjut Arsya. “Tapi Papa sekarang... Papa yang tiap hari anter Arsya. Papa yang bikin bubur kalau Arsya sakit. Papa yang ngajarin Arsya tinju biar nggak bully orang.”
Alesha ikut peluk. “Papa nggak jahat! Papa Papa-nya Ale! Papa masak enak!”
Aku ikut. Peluk mereka bertiga.
Di gudang. Di antara box, debu, sama kontrak lama.
Arsen nangis. Nggak suara. Cuma air mata. Jatuh ke rambut Arsya.
“Maafin Papa ya, Nak,” bisiknya. “Papa dulu bodoh.”
Arsya lepas pelukan. Hapus air mata Arsen. Jagoan.
“Udah, Pa,” katanya. Senyum. “Utang 1,2M lunas. Arsya sama Alesha yang bayar. Pake sayang. Seumur hidup. Bunganya cicil tiap hari.”
Arsen ketawa. Sengau. Narik Arsya, cium kepala. Cium Alesha. Cium aku.
“Keluarga rentenir,” katanya. “Nagihnya pake cinta.”
---
Tengah malam.
Kamar.
Arsya sama Alesha udah tidur.
Aku sama Arsen di balkon. Selimut satu.
Langit Jakarta... masih sama. Lampu-lampu.
Bedanya, dulu kita liat dari sangkar.
Sekarang, kita yang punya langitnya.
“Mas,” panggilku.
“Hm?”
“10 tahun lagi, Arsya kuliah. Alesha SMP. Kita... tua.”
Dia senyum. Uban di pelipisnya ketiup angin. “Tua bareng. Asal sama lo.”
“Terus 3650 hari lagi?”
Dia mikir. “Cucu. Arsya bawa mantu. Alesha bawa... Papa usir.”
Aku ketawa. “Mas!”
Dia peluk. Dagu di kepalaku.
“Naura,” bisiknya.
“Apa?”
“3650 hari lalu, gue beli lo.”
“Iya.”
“3650 hari ke depan, gue mau beli lagi.”
Aku nengok. “Beli apa? Uang Mas udah habis buat lego.”
Dia rogoh kantong. Keluarin kotak.
Cincin. Sama kayak dulu. Perak. Tapi sekarang ada 3.
Satu buat aku. Grafir baru: *3650 & Selamanya*.
Satu buat Arsya. Grafir: *Panglima Papa*.
Satu buat Alesha. Grafir: *Putri Papa*.
“Gue beli sisa umur lo,” katanya. “Sisa umur Arsya. Sisa umur Alesha. Semua. Borong.”
Aku nangis. Nggak ditahan.
“Mahal, Mas,” kataku.
Dia senyum. “Gue kaya. Bayarnya pake...”
Dia nengok ke kamar. Arsya ngigau: “Pa... jangan lupa lego...”
Alesha ngelindur: “Papa... Ale sayang...”
“...itu,” lanjut Arsen. “Cukup. Lebih dari cukup.”
Aku kalungin tangan ke lehernya. Cium. 35 tahun, tapi rasanya kayak 25 tahun. Pas di tangga darurat.
“Selamanya ya, Mas?” bisikku.
Dia peluk. Kenceng. Kayak hari ke-300.
“Selamanya, Dek,” jawabnya. “Sampai kontraknya...”
Dia nengok ke langit.
“...diperpanjang Tuhan.”
Di bawah, Jakarta tidur.
Di atas, lantai 89, keluarga Adijaya... baru mulai.
365 hari udah jadi 3650 hari.
Dan besok, lusa, tahun depan...
Angkanya nambah.
Cintanya juga.
---
**END BAB 19 - TAMAT**
Terima kasih udah ikut perjalanan Tuan Arsen & Naura dari kontrak 1,2M sampai jadi Papa Mama Panglima & Putri. Kalau mau versi spin-off Arsya remaja atau Alesha SD, tinggal bilang ya 💕