5 tahun kemudian.
“Pa-paaa! Telat!”
Suara itu nyaring banget. Dari kamar lantai 89.
Arsen Adijaya, 37 tahun, CEO Adijaya Group, nilai perusahaan udah 500 triliun, sekarang... jongkok.
Pake kaos *#1 Dad* udah belel, celana training, rambut acak. Lagi berantem sama tali sepatu.
Sepatu anak.
Ukuran 28. Ada gambar T-Rex.
“Arsya Mahesa Adijaya, diem dulu,” omelnya. Tapi suaranya sayang. “Papa nggak bisa masang velcro kalau lo loncat-loncat.”
Arsya, 5 tahun, pipi bakpao, mata galak, rambut cepak, ngakak. “Papa lelet! Kayak siput!”
“Siapa ajarin ngomong siput?” Arsen nengok ke dapur.
Aku lagi aduk bubur ayam. Nggak nengok. “Nggak tau tuh, Mas. Mungkin gen iblis.”
Arsen nyengir. Akhirnya berhasil pasang sepatu. Dia gendong Arsya. “Udah. Berangkat.”
Aku nyamperin. Benerin kerah Arsya. Nyium pipinya. “Jangan berantem di sekolah ya, Nak.”
“Arsya nggak berantem, Ma,” jawabnya. Sombong. “Arsya negosiasi. Kayak Papa.”
Aku nengok ke Arsen. “Tuh kan. Gen iblis.”
Arsen ketawa. Cium keningku. Terus cium perutku.
Perut 6 bulan.
Anak kedua. Cewek. Udah USG. Namanya udah dipesen: Alesha Maheswari Adijaya.
“Jaga Mama ya,” bisik Arsen ke perutku. “Sama jaga Dede Alesha.”
Aku jitak kepalanya. “Udah ah. Nanti telat upacara.”
Arsen ngacung. “Siap, Bu Komandan!” Gendong Arsya, jalan ke lift.
Di lift, Arsya nengok. “Ma, nanti jemput ya?”
Aku angguk. “Iya. Mama yang jemput. Papa meeting.”
Arsya manyun. “Mau Papa jemput juga.”
Arsen nengok ke aku. Kode: *Tolong.*
Aku hela napas. “Ya udah. Papa Mama jemput. Tapi Arsya janji nggak jajan es krim sebelum makan.”
“Siap, Kapten!” Arsya saluting.
Pintu lift nutup.
Sepi.
Aku elus perut. “Dede, lihat tuh Kakak sama Papa. Sama-sama lebay.”
---
TK Mentari Bangsa.
Jam 07.30, parkiran penuh Alphard, Mercy, BMW.
Di tengahnya, ada Maybach. Plat B 1 ARS.
Semua orang minggir.
Pintu kebuka.
Arsen turun duluan. Jas? Nggak. Masih kaos *#1 Dad*.
Dia buka pintu belakang, gendong Arsya.
Ibu-ibu bisik-bisik.
“Itu kan Pak Arsen...”
“Iya, yang CEO...”
“Anaknya ganteng banget...”
“Galak sih katanya, nurun bapaknya...”
Arsya denger. Dia nengok ke Arsen. “Papa galak?”
Arsen jongkok. Sejajar. “Menurut Arsya?”
Arsya mikir. Terus geleng. “Papa nggak galak. Papa cuma suka ngomel kalau Arsya nggak makan sayur.”
Arsen ketawa. Tos. “Nah, pinter. Udah, masuk. Nanti pulang Papa beliin lego.”
“Yang T-Rex!”
“Siap, Bos.”
Arsya lari masuk gerbang. Nengok, dadah. “Papa ganteng!”
Arsen berdiri. Dadah. Senyum. Sampai Arsya ilang.
Baru mukanya datar lagi. Mode CEO on.
Dia jalan ke Maybach. Di jalan, satu bapak-bapak nyamperin.
“Pak Arsen,” katanya. Sopan. Agak takut. “Anak saya... Dio. Kemarin katanya didorong Arsya...”
Arsen berhenti. Nengok.
Bapak itu keringetan.
Arsen keluarin HP. Telpon.
“Febri, cek CCTV TK. Kemarin. Kelas B1. Jam main.”
30 detik.
Febri: “Tuan, di video, Dio duluan yang ambil mobil-mobilan Arsya. Arsya minta balik. Dio nggak kasih. Terus Dio dorong Arsya dulu. Baru Arsya dorong balik.”
Arsen tutup telpon. Senyum. Dingin. Tapi sopan.
“Oh,” katanya ke bapak itu. “Jadi anak Bapak yang mulai.”
Bapak itu pucet. “Sa-saya nggak tau, Pak. Dio bohong berarti...”
“Santai,” kata Arsen. Nepuk bahu bapak itu. “Anak-anak biasa berantem. Tapi...” Matanya tajam. “...ajaranin anak Bapak, kalau mau bohong, jangan sama Adijaya. Kami punya CCTV sampe ke selokan.”
Dia masuk Maybach.
Di dalem, dia chat aku: *Dek, anak kita preman. Tapi preman jujur. Papa bangga.*
Aku bales: *Bapaknya juga.*
---
Jam 10. Adijaya Tower.
Rapat direksi.
Arsen duduk di kursi paling ujung. Main HP.
Direksi keuangan lagi presentasi: “...jadi Q2 kita naik 17%, Pak. Tapi divisi properti...”
HP Arsen bunyi.
Nama: *Bu Panglima*
Dia langsung angkat. Nggak peduli rapat.
“Kenapa, Dek?” suaranya beda 180 derajat. Lembut.
Semua direksi diem.
Dari HP, suaraku: *“Mas, mual. Kayaknya Alesha laper. Mau bubur ayam. Tapi nggak mau yang abang-abang. Mau yang Mas bikin.”*
Arsen berdiri. “Rapat selesai.”
“Hah?” Direksi kaget. “Tapi Pak, ini masih—”
“Istri saya ngidam,” potong Arsen. Dia beresin map. “Anak saya laper. Perusahaan nggak bakal bangkrut kalau saya telat 2 jam.”
Dia jalan keluar.
Di pintu, dia nengok. “Oh iya. Properti yang rugi itu, jual. Rugi dikit nggak apa. Waktu saya sama anak istri lebih mahal.”
Pintu ketutup.
Direksi melongo.
---
Jam 11. Lantai 89.
Aku di sofa. Mual. Alesha aktif banget. Nendang-nendang.
Pintu kebuka. Arsen masuk. Masih pake kaos *#1 Dad*. Bawa kantong.
“Bubur ayam,” katanya. Napas ngos-ngosan. “Gue masak sendiri. Di pantry kantor. Satpam gue suruh beli ayam.”
Aku ngakak. “Mas, nggak segitunya juga...”
Dia nyendokin. Nyuapin. “Aaa.”
Aku makan. Enak. Padahal dia masih nggak bisa bedain garam sama gula.
“Mas nggak kerja?” tanyaku.
“Udah resign,” jawabnya. Santai.
Aku keselek. “Hah?!”
Dia ketawa. Ngusap punggungku. “Bercanda. Cuma delegasi. Febri gue jadiin CEO. Gaji naik 200%.”
“Terus Mas ngapain?”
Dia nunjuk perutku. “Jaga ini. Jaga Arsya. Jaga Mama-nya.”
Aku diem. Hati anget.
“Mas nyesel nggak?” tanyaku. “Dulu Mas iblis. Sekarang... bapak-bapak rumah tangga.”
Dia naro mangkok. Narik aku ke pelukannya.
Tangannya di perutku.
“Naura,” bisiknya. “Gue 32 tahun jadi iblis. Nggak bahagia. Gue 5 tahun jadi Papa-nya Arsya, suaminya Naura... gue baru tau, surga itu kayak apa.”
Aku nangis. Hormon.
Dia hapus air mataku. “Jadi nyesel? Nggak. Nyeselnya cuma satu.”
“Apa?”
“Kenapa nggak gue nikahin lo dari SD.”
Aku jitak dadanya. “Gombal.”
Dia nangkap tanganku. Cium. “Fakta.”
---
Jam 14.00. TK Mentari Bangsa.
Aku sama Arsen jemput.
Arsya lari dari gerbang. Di belakangnya, satu anak cewek. Rambut kuncir dua.
Arsya nengok ke kami. “Papa Mama! Kenalin! Ini Keisha! Pacar Arsya!”
Aku sama Arsen berhenti.
Pacar?
Arsen jongkok. Muka datar. Mode interogasi. “Pacar?”
Keisha maju. Berani. “Om, Tante. Keisha suka Arsya. Arsya ganteng. Pinter. Bagiin bekal.”
Arsen nengok ke aku. *Ini siapa ajarin?*
Aku angkat bahu. *Bukan aku.*
Arsya nyengir. “Papa, Keisha mau main ke rumah. Boleh?”
Arsen narik napas. Panjang.
Dia nengok ke Keisha. “Rumah Om ada CCTV 24. Ada bodyguard. Ada Papa. Kalau kamu nakalin Arsya, Papa...”
“Mas!” Aku nyubit.
Arsen dehem. “...Papa kasih es krim. Tapi habisin sayur dulu.”
Keisha angguk. “Siap, Om!”
Mereka lari. Naik Maybach.
Di mobil, Arsen bisik ke aku: “Dek.”
“Apa?”
“Kita harus punya rumah lagi. Yang jauh. Di gunung. Nggak ada sinyal. Nggak ada cewek.”
Aku ngakak. “Mas, Arsya baru 5 tahun.”
“Justru itu,” katanya. Panik. “5 tahun udah bawa pacar. Umur 17 gimana? Papa jantungan.”
Aku sandar ke bahunya. “Tenang, Mas. Kan ada Alesha. Biar Arsya yang jaga adiknya.”
Arsen diem. Terus senyum.
“Iya juga,” katanya. “Papa tinggal duduk. Suruh Kakak-nya yang galak.”
---
Malam.
Arsya udah tidur. Di kamarnya. Kamar T-Rex.
Aku sama Arsen di balkon lantai 89.
Langit Jakarta cerah. Jarang-jarang.
Arsen peluk aku dari belakang. Dagu di bahuku. Tangan di perutku.
Alesha nendang.
Arsen ketawa. “Nakal. Kayak Kakaknya.”
“Kayak Papanya,” koreksi aku.
Dia cium pipiku. “Dek.”
“Hm?”
“Besok kita ke panti ya? Yang dulu. Mau donasi. Sama... mau liat, barangkali ada Arsya-Arsya lain di sana.”
Aku nengok. Matanya serius.
“Mas mau adopsi?”
Dia angguk. “Kalau lo mau. Kalau Alesha udah lahir. Rumah kita gede. Hati kita... udah nggak kosong lagi. Bisa bagi.”
Aku nangis. Lagi.
Dari kontrak 365 hari, jadi Papa adopsi.
Dari iblis, jadi malaikat buat anak-anak yang nggak punya siapa-siapa.
Aku muter badan. Kalungin tangan ke lehernya.
“Mas Arsen Adijaya,” kataku.
“Hm?”
“Makasih ya. Makasih udah beli aku 1,2M.”
Dia kening berkerut. “Kok makasih?”
“Soalnya,” bisikku. “Kalau Mas nggak beli, aku nggak tau... ternyata aku harganya segini.”
Aku tunjuk ke kamar Arsya. Ke perutku. Ke dia.
“Tak terhingga.”
Arsen diem.
Terus dia nyium aku. Lama. Dalam. Cinta.
Di atas Jakarta, di lantai 89, di bawah bintang.
Kontrak udah nggak ada.
Yang ada cuma...
Papa, Mama, Arsya, Alesha, dan bubur ayam.
Selamanya.
---
**END BAB 18**
Mau **Bab 19: Epilog - 3650 Hari Kemudian**? Arsya 15 tahun, Alesha 10 tahun, Arsen ubanan tapi masih posesif, dan Naura nemu kontrak 365 hari lama di gudang terus dibacain ke anak-anak.