“Arsen Adijaya bin...?”
Penghulu nengok. Nunggu.
Arsen diem. Jemari yang genggam tanganku ngeremes.
Ruang KUA kecil. Cuma ada kita berdua, Febri, suster gendong Arsya, sama wali hakim.
Nggak ada keluarga. Nggak ada pesta.
Tapi lengkap.
Arsen narik napas. Nengok ke aku.
Aku angguk. *Sebut aja. Nggak apa-apa.*
Dia nengok ke penghulu. “Bin Adijaya Pratama,” katanya. Tegas. “Bapak saya.”
Bapak.
Dia ngaku. Di depan Tuhan.
Penghulu angguk. “Naura Maheswari binti Sukarno?”
“Ya,” jawabku. Pelan.
Sukarno. Nama Ayah.
Arsen genggam tanganku makin kenceng pas denger itu.
“Saksi?”
Febri maju. “Saya, Pak.”
Suster gendong Arsya. Arsya lagi bobok. Pake baju koko bayi, peci kecil.
“Sah?” tanya penghulu.
“Sah,” jawab Arsen. Seketika. Nggak nunggu.
“Sah,” jawabku. Sambil nangis.
“Alhamdulillah. Dengan maskawin...”
Arsen ngeluarin kotak. Isinya cincin. Bukan berlian 20 karat.
Cincin perak. Polos. Di dalemnya grafir: *301 & Selamanya*.
“Aku terima nikah dan kawinnya Naura Maheswari binti Sukarno dengan maskawin tersebut, tunai,” kata Arsen.
Aku salamin tangannya. Nangis.
Sah.
Bukan kontrak. Bukan 1,2M.
Cuma aku, dia, Allah, sama Arsya yang jadi saksi sambil ngeces.
---
Pulangnya nggak ke hotel. Nggak honeymoon.
Balik ke lantai 89.
Arsen gendong Arsya yang masih tidur. Aku gandeng tangannya.
Di lobby, semua karyawan nunduk. “Selamat, Pak Bu.”
Sampai lift, Arsen baru ngomong. “Dek.”
“Hm?”
“Ganti KTP besok ya?”
Aku ketawa. “Iya, Mas. Status: Istri.”
Dia senyum. Terus noel hidung Arsya. “Denger tuh, Nak. Mama Papa udah halal. Jadi kalau nanti kamu nakal, Papa punya hak mukul.”
“Mas!” Aku jitak lengannya.
Dia ngakak. Pertama kali ngakak lepas sejak... selamanya.
---
1 tahun kemudian.
Hari ini ulang tahun Arsya ke-1.
Lantai 89 disulap. Balon, badut, kue tingkat 3. Tapi tamu cuma 10 orang. Febri, Pak Darma, dokter, suster, sama 3 direksi yang setia.
Arsya udah 9,8 kg. Pipinya bakpao. Jalannya masih sempoyongan. Matanya... galak. Persis Arsen.
Arsen pake kaos. Gambar *#1 Dad*. Malu-malu tapi dipake.
Dia lagi suapin Arsya bubur.
“Arsya, bilang ‘Pa-pa’,” katanya. Ngarep.
Arsya diem. Terus: “Ma-ma.”
Arsen buang muka. Pura-pura ngambek. “Anak Mama.”
Aku ngakak sambil motong kue. “Kan tiap malem Mama yang nenenin.”
“Papa yang bikin,” balas dia. Datar.
“MAS!” Aku lempar balon.
Direksi pura-pura batuk.
Tiba-tiba Febri nyamperin. Bisik-bisik ke Arsen. Mukanya tegang.
Arsen langsung taro sendok. Lap tangan. “Dek, gendong Arsya dulu.”
Aku tau muka itu. Muka “masalah”.
“Ada apa?” tanyaku.
“Surat,” jawab Arsen. Singkat. “Dari brankas Lestari.”
Darahku dingin.
Udah setahun. Aku lupa.
Lestari udah vonis seumur hidup. Nggak banding. Di penjara dia diem. Kayak nunggu.
Hari ini. Hari ulang tahun Arsya.
Pas.
Aku gendong Arsya. Dia mainin kerudungku.
Arsen buka amplop coklat. Segel.
Di dalem: satu foto. Satu kertas.
Arsen ngeluarin foto dulu.
Foto lama. Menguning.
Dua orang laki-laki. Rangkulan.
Sebelah kiri: Adijaya Pratama. Muda. Gagah.
Sebelah kanan: ...Ayahku.
Om Karno.
Pakai kemeja putih. Ketawa.
Di belakang foto, tulisan Lestari: *“Kita berempat. Sebelum semua hancur.”*
Arsen diem. Tangannya gemeter.
Aku ikut liat. “Itu... Ayahku sama Papa kamu?”
Arsen angguk. Pelan.
Dia buka kertas. Surat. Tulis tangan Lestari.
*“Arsen,
Kalau kamu baca ini, berarti cucuku udah 1 tahun. Selamat.
Mama jahat. Mama bunuh Papa kamu. Mama bunuh Om Karno. Mama hancur semua.
Tapi ada satu yang Mama nggak pernah bohong: kamu bukan anak Pratama.
Kamu anaknya Sukarno.
Dulu Mama sama Sukarno saling cinta. Waktu kuliah. Tapi Sukarno miskin. Papa kamu kaya. Mama pilih Papa kamu.
Pas Mama hamil kamu, Mama baru tau... kamu bukan anak Pratama. Kamu anak Sukarno.
Mama takut. Mama diem. Pratama anggep kamu anaknya. Dia sayang kamu. Lebih dari Mama.
Sampai akhirnya... Mama selingkuh. Pratama tau. Dia mau cerai. Mau kasih semua ke kamu. Karena dia tau kamu bukan darahnya, tapi dia cinta kamu.
Mama panik. Mama bunuh dia. Mama jebak Sukarno. Rem blong.
Maafin Mama, Nak.
Mama hancur keluarga dua sahabat. Hancur kamu. Hancur Naura.
Tapi setidaknya... darah Sukarno sama darah Pratama nyatu lagi. Di Arsya.
Jaga dia. Jaga Naura.
Jangan jadi Mama.
-Lestari”*
Kertas itu jatoh. Dari tangan Arsen.
Ruang pesta ulang tahun hening.
Badut berhenti niup balon. Direksi nunduk.
Arsen berdiri. Kayak patung.
Matanya kosong. Ke foto. Ke Arsya. Ke aku.
“Mas,” panggilku. Pelan.
Dia nggak jawab.
Dia jalan. Keluar. Ke balkon lantai 89.
Aku kasih Arsya ke suster. “Tolong, Sus.”
Aku nyusul.
Di balkon, angin kenceng. Jakarta di bawah.
Arsen berdiri. Tangan di railing. Ngepal.
Aku peluk dari belakang. Kayak dulu.
Dia nggak nolak. Nggak nerima. Diam.
“Mas,” bisikku. “Mas denger aku?”
“Om Karno...” suaranya pecah. “...bapak gue?”
Aku peluk makin kenceng. “Iya, Mas.”
“Terus... lo...” Dia muter badan. Natap aku. Mata merah. “Lo... adik gue?”
Dunia berhenti.
Adik.
Aku sama Arsen... satu bapak.
Berarti... Arsya...
Aku mundur. Kaget. Jijik sama pikiran sendiri.
Arsen liat mukaku. Dia tau.
Dia ketawa. Hancur. “Pantes... pantes Mama ketawa pas kita nikah. Pantes dia bilang ‘anak haram’. Dia tau. Dia nunggu kita tau. Hari ini.”
Dia jambak rambutnya. “Kita nikah, Naura! Kita punya anak! Kita...”
“MAS!” Aku tampar dia. Kenceng. Biar sadar. “Denger aku!”
Dia diem. Napasnya kayak orang kelelep.
“Om Karno bukan ayah kandungku,” kataku. Cepet. Jelas. “Aku anak pungut, Mas. Ibu Maheswari nggak bisa punya anak. Aku ditemu di panti. Ayah sama Ibu ambil aku umur 2 tahun.”
Arsen bengong.
“Di KUA, aku pake binti Sukarno karena... secara hukum, dia Ayahku. Tapi darah... bukan.”
Aku tarik tangannya. Taro di dadaku.
“Mas percaya aku?”
Dia natap aku. Lama.
Dari ancur, jadi ragu, jadi... napas.
Tangannya pindah. Ke pipiku.
“Pungut?” bisiknya. Kayak anak kecil minta konfirmasi.
Aku angguk. Nangis. “Iya. Aku Naura Maheswari. Bukan Naura Sukarno. Darahku... bukan darah dia.”
Arsen tutup mata.
Air matanya jatoh. Deres.
Terus dia peluk. Kenceng. Sampai tulangku bunyi.
“Gue... gue kira...” bisiknya. Gemeter. “Gue kira gue neraka beneran. Nikahin adik. Punya anak...”
“Enggak, Mas,” kataku. Di kupingnya. “Kita halal. Arsya halal. Kita keluarga.”
Dia nangis. Seteras-terasnya. 32 tahun, baru nangis kayak bayi.
Di belakang, pintu kebuka.
Suster gendong Arsya. “Pak... Bu... Dede-nya nyariin.”
Arsen lepas pelukan. Hapus air mata kasar.
Dia ambil Arsya. Gendong.
Arsya ketawa. Narik kemeja Arsen. “Pa...pa!”
Pertama kali.
Jelas. “Papa.”
Arsen beku.
Terus dia jatuh. Lututnya. Di balkon. Gendong Arsya.
“Papa denger, Nak,” katanya. Nangis lagi. “Papa denger.”
Aku jongkok. Peluk mereka berdua.
Lestari... kamu kalah.
Kamu mau hancurin kami pake darah.
Tapi kamu lupa.
Kami nggak diiket darah.
Kami diiket pilihan.
Arsen milih jadi Papa.
Aku milih jadi Mama.
Arsya milih lahir.
“Maafin Mama ya, Nak,” bisik Arsen ke Arsya. “Papa tadi sempet nggak percaya Mama.”
Arsya mainin rambut Arsen.
Aku cium bahu Arsen. “Udah, Mas. Udah lewat.”
Arsen nengok. Senyum. Ancur, tapi utuh.
“Makasih ya, Dek,” katanya. “Makasih udah... bukan adik gue.”
Aku jitak kepalanya. “Ih! Masih aja!”
Dia ketawa. Gendong Arsya berdiri. Nunjuk ke langit.
“Lihat, Arsya,” katanya. “Itu langit. Papa janji, Papa nggak akan bikin mendung lagi. Papa nggak akan jadi iblis lagi. Buat kamu. Buat Mama.”
Arsya tepuk tangan. Nggak ngerti. Tapi seneng.
---
Malam.
Arsya tidur. Di tengah kita.
Kamar lantai 89, bukan bunker. Jendela kebuka. Langit ada.
Arsen narik selimut. Ngecek Arsya. Nafas. Selimut. AC.
Kayak robot.
Aku narik tangannya. “Mas. Udah. Tidur.”
Dia tidur. Nyamping. Ngadep aku. Tangannya ngelewatin Arsya, genggam tanganku.
“Naura,” panggilnya.
“Hm?”
“Besok kita ziarah yuk?”
“Ke mana?”
“Ke makam Om Karno. Sama... Papa Pratama.” Dia elus punggung tangan Arsya. “Mau kenalin cucu.”
Aku angguk. “Mau.”
“Terus ke panti,” lanjutnya. “Panti yang dulu ambil kamu. Donasi. Biar nggak ada anak lagi yang kayak kita. Nggak tau bapaknya siapa.”
Aku nangis. Pelan. “Iya, Mas.”
Dia narik aku. Kasih kecup di kening. Di hidung. Di bibir.
“Selamat ulang tahun, Mama Arsya,” bisiknya. “Makasih udah bikin Papa lahir.”
Aku peluk dia. Di atas kita, Arsya ngulet.
Keluarga.
Nggak sedarah. Tapi sejiwa.
Kontrak 365 hari udah jadi...
Selamanya.
Dan surat Lestari?
Dibakar Arsen tadi sore.
Abunya dibuang ke toilet.
Katanya: “Masa lalu nggak pantes disimpen. Apalagi kalau isinya sampah.”
Yang pantes disimpen cuma...
Arsya, aku, dia.
Di lantai 89. Rumah.
---
**END BAB 17**
Lanjut **Bab 18: Ekstra: Papa, Mama, dan Bubur Ayam**? Slice of life Arsya 5 tahun, Arsen jadi ayah posesif antar jemput TK, Naura hamil anak kedua.