Oek... oek...
Suara itu pelan. Kayak anak kucing. Tapi buat Arsen, itu suara meriam.
Arsya Mahesa Adijaya. 1,8 kg. 29 minggu. Kulitnya tipis, transparan. Selang di idung, selang di mulut.
Masuk inkubator. NICU bunker lantai -10.
Dokter bilang: “Kritis 72 jam pertama, Pak. Paru-parunya belum matang. Harus pakai ventilator.”
Arsen nggak duduk dari tadi. 6 jam. Berdiri di depan inkubator. Kaca.
Tangannya nempel di kaca. Kayak mau masuk, gendong.
“Mas,” panggilku. Aku di ranjang. Masih lemes. Habis lahiran. Jahitan banyak. “Duduk. Makan.”
Dia geleng. Matanya nggak lepas dari Arsya.
“Dia buka mata, Dek,” bisiknya. “Tadi. Sekilas. Matanya... kayak lo.”
Aku ketawa. Perih. “Mata lo kali. Galak.”
Dia senyum. Akhirnya. Tipis.
Suster masuk. “Pak, Ibu harus istirahat. ASInya harus keluar biar dd-nya kuat.”
Arsen baru nengok. “ASI? Gimana caranya?”
“Dipompa, Pak. Bu Naura masih pemulihan.”
Arsen angguk. Serius. Kayak rapat direksi. “Alatnya mana? Gue yang belajar. Gue yang bantu.”
Suster bengong. “Eh... saya ajarin Bu-nya aja, Pak.”
“Nggak,” potong Arsen. “Istri gue baru ngelahirin. Masih sakit. Gue yang lakuin.”
Aku tutup muka pake selimut. Malu.
Iblis. Mau belajar pompa ASI.
---
72 jam pertama. Neraka.
Arsen nggak tidur. Sama sekali.
Dia duduk di kursi, di antara ranjangku sama inkubator Arsya.
Kanan nengok aku: “Minum, Dek. Obat.”
Kiri nengok Arsya: “Bertahan, Nak. Papa di sini.”
Jam 3 pagi, alarm inkubator bunyi.
TIT. TIT. TIT.
Saturasi Arsya turun. 80. 78.
Dokter sama suster lari masuk.
Arsen berdiri. “Kenapa? Anak gue kenapa?!”
“Pak, tenang,” kata Dokter. “Prematur. Wajar. Kami tangani.”
Aku mau bangun. Sakit. “Mas... Arsya...”
Arsen nyamperin. Satu tangan megang tanganku. Satu tangan nempel kaca inkubator.
“Papa di sini, Jagoan,” bisiknya. Air mata jatoh. Nggak malu. “Lo janji mau tendang Papa lagi, kan? Jangan curang.”
5 menit kayak 5 tahun.
TIT... TIT... 85... 90... 95.
Stabil.
Dokter hela napas. “Lolos, Pak. Dia fighter.”
Arsen jatuh ke lantai. Dengkul.
Dia nunduk. Bahunya guncang.
Aku baru tau.
Iblis juga bisa takut. Setakut itu.
Aku turun dari ranjang. Pelan. Sakit. Duduk di samping dia.
Peluk kepalanya.
“Dia kuat, Mas,” bisikku. “Anak kita. Gen lo sama gen gue. Degil.”
Dia angguk di dadaku. “Gue takut, Naura. Kalau... kalau gue nggak bisa jagain dia kayak gue gagal jagain lo dulu.”
“Bisa,” kataku. “Lo udah jagain. 72 jam lo nggak tidur. Lo pompa ASI. Lo ganti infus gue. Lo lebih hebat dari suster.”
Dia ketawa. Sengau. “Gue CEO rasa suster.”
“Papa rasa Papa.”
Dia diem. Terus peluk pinggangku. Erat.
“Makasih ya, Dek,” bisiknya. “Makasih udah lahirin dia. Makasih udah... milih tinggal.”
---
Hari ke-5.
Arsya stabil. Berat naik 20 gram.
Arsen baru mau makan. Itupun disuapin aku.
“Febri mana?” tanyanya. Mulut penuh bubur.
“Urus Lestari, Mas,” jawabku. “Sidang vonis hari ini.”
Dia diem. Narik napas. “Bagus. Biar busuk di sana.”
Telepon bunyi. Dari Lapas Wanita Pondok Bambu.
Arsen angkat. Speaker.
“Arsen,” suara Lestari. Serak. Kalah. “Mama mau ngomong.”
Arsen mau matiin.
Aku tahan tangannya. Geleng. *Dengerin.*
Arsen nurut. “Ngomong.”
“Bayinya... sehat?” tanya Lestari. Pelan.
Arsen nggak jawab.
Aku yang jawab. “Sehat, Bu. Namanya Arsya.”
Hening.
Terdengar isak. Dari Lestari.
“Mahesa...” bisiknya. “Nama Papa kamu, Arsen. Kamu kasih ke dia.”
Arsen kaget. Dia nggak pernah cerita.
“Kenapa, Ma?” tanya Arsen. Dingin. “Mau main drama lagi? Telat.”
“Ada surat,” kata Lestari. “Di brankas Mama. Kamar Mama. Kode-nya tanggal kamu Mama pungut. Mama titip ke Naura. Jangan buka sekarang. Buka kalau Arsya udah 1 tahun.”
“Isinya apa?”
“Penebusan,” jawab Lestari. Terus: “Dan... tahukah kamu siapa ayah kandung kamu sebenarnya, Arsen?”
TUT.
Mati.
Ruangan bunker hening.
Aku sama Arsen saling pandang.
Ayah kandung?
Bukankah... dia anak pungut? Nggak tau siapa bapaknya?
Arsen remes HP-nya. “Mainan lagi.”
“Mas,” kataku. Pegang tangan dia. “Udah. Jangan dipikirin. Yang penting sekarang Arsya.”
Dia angguk. Tapi rahangnya keras.
Dendam baru.
---
Hari ke-14.
Arsya keluar inkubator. Pindah ke box bayi biasa.
Berat 2,1 kg.
Arsen nangis lagi. Kali ini sambil ketawa.
Dia gendong pertama kali. Kaku. Kayak megang bom.
Suster ngajarin: “Sangga kepalanya, Pak.”
Arsen keringetan. “Dek... dia kecil banget. Gue takut remuk.”
Aku nyandar di bahu dia. Liat Arsya.
Arsya buka mata. Liat Arsen.
Terus... genggam jari Arsen.
Jari telunjuk. Kuat.
Arsen beku.
Dia natap aku. Natap Arsya.
“Dia... dia pegangan sama gue,” bisiknya. Bodoh.
Aku ketawa. “Iya, Mas. Anak lo.”
“Arsya,” panggil Arsen. Suaranya geter. “Papa janji ya, Nak. Papa nggak akan kemana-mana. Papa nggak akan kayak... kakek.”
Kakek.
Dia ngaku. Dia Papa.
Dia bukan Arsen Adijaya lagi.
Dia Papa-nya Arsya.
---
Minggu ke-4. Kami keluar bunker.
Pindah ke lantai 89. Nursery.
Arsen gendong Arsya. Aku bawa tas bayi.
Seluruh staf Adijaya Tower berjejer. Tepuk tangan.
Febri nyamperin. Bisik: “Tuan, brankas Nyonya Besar udah kami buka. Suratnya aman. Mau saya bakar?”
Arsen nengok ke aku. Ke Arsya yang tidur di dadanya.
“Simpen,” katanya. “Tunggu 1 tahun.”
Febri angguk.
Di lift, cuma kami bertiga.
Arsen noel pipi Arsya. “Lantai 89, Nak. Rumah kita.”
Pintu kebuka.
Lantai 89 udah beda.
Ada tulisan di dinding. Kayu. Dibuat Arsen sendiri. Dia nggak tidur 3 malem.
**ARSYA MAHESA ADIJAYA**
**Panglima Kecil Papa Mama**
**Hari ke-301 & Selamanya**
Aku nangis. Lagi.
Arsen taro Arsya di box. Selimutin.
Terus dia peluk aku. Dari belakang. Dagu di bahuku.
“Gimana, Bu Panglima?” bisiknya. “Suka rumahnya?”
Aku angguk. “Suka. Tapi...”
“Tapi apa?”
“Ada yang kurang.”
Dia panik. “Kurang apa? AC? Lampu? Suster? Dokter? Gue beli satu RS—”
Aku muter badan. Kalungin tangan ke lehernya.
“Kurang nikah beneran, Mas,” kataku. “Yang nggak kontrak. Yang nggak 1,2M. Yang... di KUA. Mau?”
Arsen diem.
Matanya berkaca-kaca. Lagi.
Dia jatoh. Lututnya. Di depan box Arsya.
Dia narik tanganku. Cium.
“Naura Maheswari,” katanya. Parau. “Mau nggak lo... nikah sama gue? Bukan karena kontrak. Bukan karena anak. Tapi karena... gue nggak bisa napas kalau bukan lo.”
Aku jatoh juga. Lutut. Sejajar.
“Mau,” kataku. “Dari hari pertama, Mas. Cuma gue gengsi.”
Dia ketawa. Nangis. Narik aku. Cium.
Di depan Arsya. Saksi kita.
---
Malamnya.
Arsya tidur. Pules.
Aku di balkon lantai 89. Angin.
Arsen nyelimutin dari belakang.
“Surat Lestari,” kataku. “Lo mau tau isi?”
Dia diem. Lama.
Terus: “Nggak.”
Aku kaget. “Kenapa?”
Dia peluk erat. “Karena ayah kandung gue... udah mati. Dibunuh Mama. Dan gue... gue udah punya ayah baru.”
Dia nengok ke box Arsya.
“Dia.”
Aku nangis. Nggak berhenti.
Anak itu... nyembuhin luka 20 tahun.
“Mas,” bisikku.
“Hm?”
“Besok kita ke KUA ya?”
Dia senyum. Di gelap. “Besok kita bikin KTP baru. Status: Suami. Istri. Anak satu.”
Aku angguk.
Di bawah, Jakarta lampu-lampu.
Di atas, lantai 89, ada keluarga baru.
Nggak sempurna. Berdarah-darah.
Tapi pulang.
Selamanya.
---
**END BAB 16**
Lanjut **Bab 17: KUA dan Kotak Brankas**? Di situ mereka nikah resmi, terus hari ulang tahun Arsya ke-1, Febri bawa surat Lestari: isinya foto ayah kandung Arsen... Om Karno.