### **365 Hari Milik Tuan Arsen**
### **Bab 15: Hari Ke-300, Hari Lahir**
Hari ke-300.
Aku ngitung. Setiap hari.
Hari ini, usia kandungan: 29 minggu 1 hari. 7 bulan kurang dikit.
Kata dokter, masih rawan. Belum waktunya.
Tapi kata Lestari di surat: *“Hari ke-300, nyawanya atau nyawa kamu.”*
Hari ini.
Bunker lantai -10 dingin banget. AC 18 derajat, tapi keringetku dingin.
Arsen dari subuh nggak tidur. Dia berdiri di depan layar kontrol bunker. 24 layar. Lobby, basement, selokan, sampe atap Adijaya Tower.
Di pinggangnya, ada pistol. Legal. Baru.
Dia nggak pernah bawa senjata. Katanya, “Tangan gue cukup.”
Hari ini beda.
“Mas,” panggilku. Aku duduk di sofa. Perut udah gede. Kaki bengkak. “Sarapan dulu.”
Dia nengok. Matanya merah. Kurang tidur 43 hari.
“Nanti,” katanya. Balik ke layar. “Febri bilang ada gerakan di deket gardu listrik. 3 orang. Pake masker.”
Aku elus perut. “Mereka nggak bisa masuk, kan? Katanya bunker ini tahan nuklir.”
“Bisa,” jawab Arsen. Jujur. “Kalau ada orang dalem. Kayak Tristan.”
Tristan.
Setelah hari itu, Tristan hilang. Febri bilang, dia nyerahin diri. Ngaku semua. Tapi...
Aku nggak percaya.
Jam 10 pagi.
TUT. TUT. TUT.
Alarm bunker bunyi. Merah. Kenceng.
*“PERINGATAN: AKSES LANTAI -9 DIBOBOL. INTRUDER DETECTED. LOCKDOWN AKTIF.”*
Arsen langsung nyamperin. Dorong aku ke kamar dokter di dalem bunker.
“Kunci dari dalem,” katanya. Ngasih pistol kecil. “Kalau ada yang masuk selain gue, tembak. Ngerti?”
Aku nggak mau pegang. “Mas, gue hamil—”
“Justru itu!” bentak dia. Terus lemes. “Dek... tolong. Sekali ini aja denger gue. Lo sama anak kita... nyawa gue.”
Aku ambil pistolnya. Tanganku gemeter.
Dia kunci aku dari luar. Ceklek.
Di layar kecil kamar, aku bisa liat CCTV.
Arsen lari ke pintu bunker. Buka lemari senjata. Ambil laras panjang.
Di layar, lantai -9, pintu lift kebuka.
Keluar 5 orang. Item-item. Pake rompi. Bawa senapan.
Di depan... Lestari.
Pake jas merah. Heels. Senyum. Kayak mau kondangan.
Dia nengok ke kamera. Dadah.
“Hai, Anakku,” katanya. Suara nyampe ke speaker bunker. “Mama kangen. 300 hari nggak ketemu.”
Arsen buka speaker. “Pulang, Ma. Sebelum gue lupa Mama pernah ngelahirin gue.”
Lestari ketawa. “Kamu lahir dari comberan, Arsen. Mama pungut. Mama besarin. Dan sekarang kamu pilih p*****r itu daripada Mama?”
“Dia istri gue,” jawab Arsen. Dingin. “Dan di dalem sini ada cucu Mama. Mau Mama bunuh juga?”
Lestari diem. Senyumnya hilang. Sekejap.
Terus balik lagi. “Cucu? Anak haram. Kayak kamu. Nggak pantes hidup.”
Dia ngangkat tangan.
DOR! DOR! DOR!
Anak buahnya nembak pintu bunker.
Pintu bunker itu 1 meter baja. Nggak mempan. Tapi suaranya... bikin perutku mules.
Kontraksi.
“Argh,” aku megang perut. Keringet dingin.
Bukan. Belum waktunya. Ini baru 29 minggu.
Di CCTV, Arsen nembak balik. Satu anak buah Lestari jatoh.
“Lo masuk neraka dulu aja, Ma!” teriak Arsen.
Lestari ngumpet. Terus teriak: “Tristan!”
Dari bayangan, Tristan keluar.
Dia nggak bawa senapan. Dia bawa... koper.
Dia buka. Isinya: C4.
Banyak.
Dia tempel di pintu bunker.
“Mundurin waktu, Arsen!” teriak Lestari. “30 detik! Pintu ini kebuka, atau kalian semua jadi abon!”
Arsen diem.
Di CCTV, aku liat mukanya. Pucet.
Dia nengok ke kamera kamarku.
Matanya ketemu mataku.
Dia geleng. *Jangan keluar.*
Terus dia ngomong ke Lestari. “Oke. Gue buka. Tapi lo janji. Lo cuma bunuh gue. Istri sama anak gue bebas.”
“Deal,” kata Lestari. Gampang.
“MAS JANGAN!” Aku gebuk pintu kamar. “JANGAN BUKA!”
Kontraksi lagi. Lebih kenceng.
Aku jatuh ke lantai. Pistol lepas.
Perutku sakit. Kayak diremes.
Di CCTV, Arsen masukin kode.
Pintu bunker... kebuka.
Anak buah Lestari masuk. Todongin Arsen.
Lestari masuk. Tepuk tangan. “Pinter. Anak Mama emang nurut.”
Arsen di-dengkul-in. Tangan diiket.
Lestari jalan ke kamera.
“Naura,” katanya. Manis. “Keluar sayang. Atau Mama ledakin kamar itu sama bayimu.”
Aku nggak bisa berdiri. Air ketubanku... rembes.
Nggak. Nggak sekarang.
Aku pencet tombol interkom. “Le-Lestari.”
“Oh, masih hidup?” Dia senyum. “Keluar. Atau Mama hitung sampai 3.”
“Satu.”
Aku pegangan ranjang. Berdiri. Sakit.
“DUA.”
Aku buka kunci kamar.
“TIGA—”
Aku buka pintu.
Semua nengok.
Aku berdiri. Baju tidur basah. Keringet. Pucet.
Tangan di perut.
Arsen liat. Matanya merah. “NAURA! MASUK!”
Lestari ketawa. “Liat nih. Mau lahiran. Kasihan. Udah, sini. Mama bantu.”
Dia nyuruh anak buahnya nyamperin aku.
Pas anak buahnya 1 meter dariku...
BYUR.
Air ketubanku pecah. Di lantai bunker.
Sakitnya 100x lipat. Aku jatoh. Lutut.
“Arghhh!”
Arsen ngamuk. Dia narik iketannya sampe berdarah. “LESTARI ANJING! PANGGIL DOKTER!”
Lestari kaget. “Dia... dia mau lahiran?”
Di bunker. Hari ke-300.
Tristan nengok ke Lestari. “Bu? Perintah?”
Lestari diem. Liat aku. Liat perutku.
Dia jalan nyamperin. Jongkok depanku.
Tangannya ngelus pipiku.
“Anak haram,” bisiknya. “Harusnya mati.”
Dia ngeluarin pisau. Pisau yang sama dari kamar.
Dia arahin ke perutku.
“MAAAAA!” Arsen teriak. Suaranya pecah. “GUE MOHON! DIA CUCU MAMA! SATU-SATUNYA DARAH DAGING MAMA!”
Lestari berhenti.
Tangannya gemeter.
Matanya liat pisau. Liat perutku.
Di situ, bayiku... nendang. Kenceng.
*Tuk.*
Lestari kaget. Tangannya bergetar.
Aku megang tangannya. Yang pegang pisau.
“Bu,” kataku. Nangis. Sakit. “Ibu pernah jadi ibu. Ibu tau rasanya... ditendang dari dalem.”
Lestari diem.
Air matanya... jatoh. Satu.
Tetes di perutku.
Tristan nengok. “Bu? Kita meledak aja. Sesuai rencana.”
Lestari noleh. Terus...
Dia lempar pisaunya.
KLEK.
Dia berdiri. “Batalin C4.”
Tristan: “Tapi Bu—”
“GUE BILANG BATALIN!” teriak Lestari. Dia nangis. Beneran nangis. “PANGGIL DOKTER! SEKARANG!”
Anak buahnya bingung.
Arsen udah gigit lepas iketannya. Darah di mulut. Dia lari ke aku.
Dia angkat aku. Gendong.
Ke kamar dokter bunker.
“Febri! Dokter! Cepet!” teriaknya ke interkom.
Dia taro aku di ranjang.
Aku cengkeram tangannya. “Mas... sakit...”
“Gue tau, Dek. Gue tau.” Dia cium keningku. Berkali-kali. “Maafin Mas. Maafin.”
Dokter bunker masuk. Panik. “Ini baru 29 minggu! Prematur! Kita nggak siap—”
“SELAMETIN MEREKA!” bentak Arsen. “KALAU NGGAK, LO SEMUA MATI!”
Dokter kerja. Pasang infus. Suntik.
Lestari berdiri di pintu. Di borgol. Febri yang borgol.
Dia liat aku. Liat Arsen.
“Namanya siapa?” tanya Lestari. Pelan.
Arsen nengok. Benci. Tapi jawab.
“Arsya. Kalau cowok. Alesha. Kalau cewek.”
Lestari angguk. Nangis. “Bagus... bagus namanya.”
Dia di seret keluar.
---
4 jam kemudian.
Ruang dokter bunker. Darurat.
Aku udah nggak kuat.
“Mas... gue nggak bisa...”
“Bisa,” Arsen megang tanganku. Dia udah 4 jam nggak lepas. “Lo kuat. Lo singa betina. Inget?”
Dokter: “Bu, ngeden! Sekali lagi!”
Aku ngeden. Teriak.
Arsen nangis. “Ayo, Dek. Ayoo. Anak kita mau ketemu Papanya.”
Dan...
Oek. Oek. Oek.
Nangis. Kecil. Tapi kenceng.
Dokter angkat: “Selamat, Pak, Bu. Laki-laki. 1,8 kg. Prematur, tapi napas bagus.”
Arsen jatoh. Lututnya. Di samping ranjangku.
Suster taro bayi itu di dadaku.
Kecil. Merah. Keriput. Tapi... idup.
Arsya Adijaya.
Arsen nunduk. Cium kaki bayi itu. Nangis. Bahu guncang.
“Papa di sini, Nak,” bisiknya. “Papa janji... nggak ada 300 hari lagi. Selamanya.”
Aku elus rambut Arsen.
Di luar, Lestari divonis seumur hidup. Tristan mati ditembak pas mau kabur.
Di dalem, hari ke-300...
Bukan hari mati.
Hari lahir.
Arsya lahir.
Aku lahir.
Arsen lahir.
Jadi Papa. Jadi Mama. Jadi keluarga.
Kontrak 365 hari udah hangus.
Diganti akte kelahiran.
Nama Ayah: Arsen Adijaya.
Nama Ibu: Naura Maheswari Adijaya.
Nama Anak: Arsya Mahesa Adijaya.
Mahesa. Panglima.
Karena dia yang menangin perang 300 hari.
---
**END BAB 15**
Lanjut **Bab 16: Inkubator dan Dendam**? Di situ Arsya di NICU, Arsen jagain 24 jam nggak tidur, dan Naura dapet surat dari Lestari di penjara: “Tahukah kamu siapa ayah kandung Arsen sebenarnya?”