Usia kandungan: 12 minggu 3 hari.
Perutku udah mulai buncit. Dikit. Tapi cukup buat Arsen panik tiap aku nunduk ambil remote.
“Jangan! Biar gue!” katanya.
Dia sekarang ngalahin bodyguard. Ikut ke dapur, ikut ke kamar mandi, ikut ke check up. Sekalinya aku ke toilet kelamaan, dia gedor: “Naura? Lo pingsan? Lo lahiran?!”
Gila.
Pagi ini, kami di lantai 89.
Nursery-nya udah 90% jadi. Cat warna sage green. Ada box bayi, ayunan kayu, rak buku, bahkan mini perpustakaan.
Di tembok, huruf kayu gede: **NURSERY**.
Tapi bawahnya masih kosong.
Arsen duduk di lantai, paha jadi bantalku. Di tangan, buku tebel. *1001 Nama Bayi Pembawa Hoki*.
“Kasih nama, Dek,” katanya. Nggak liat buku. Liat aku.
Aku lagi ngemil mangga muda. Bawaan wajib. “Kan belum tau cewek cowok.”
“Siapin dua.” Dia serius. “Gue nggak mau anak gue dipanggil ‘Dek’ doang 9 bulan.”
Aku ketawa. “Ya udah. Kalau cowok?”
Dia noel dagunya. Mikir. Gaya CEO. “Bara.”
“Bara?”
“Bara Adijaya. Biar panas. Biar nggak ada yang berani tindas. Kayak Papa-nya.”
Aku ngakak. “Ih, serem. Kayak nama anak mafia.”
“Emang. Bapaknya mantan iblis.” Dia nyengir. “Lo? Mau apa?”
Aku ngemut mangga. “Kalau cowok... Arsya.”
Dia diem.
“Arsya,” ulangku. “Dari Arsen sama Naura. Biar dia tau, dia dibikin dari cinta, bukan kontrak.”
Arsen naro buku. Pelan.
Tangannya naik, usap pipiku.
Jempolnya kasar. Tapi gemeter.
“Arsya,” dia coba ngomong. Kayak ngetes rasa. “Arsya Adijaya.”
Dia senyum. Terus ketawa. Pelan. Terus kenceng.
“Bagus,” katanya. “Jauh lebih bagus dari Bara. Bara mah nama preman pasar.”
Aku nonjok lengannya. “Ih! Tadi belain!”
Dia nangkap tanganku. Cium. “Kalau cewek?”
Aku mikir. “Alesha.”
Dia ngerut. “Artinya?”
“Selalu dilindungi Tuhan. Biar nggak kayak kita. Kecilnya aman.”
Arsen diem lama.
Terus dia rebahan. Narik kepalaku ke dadanya.
Jantungnya: *tuk-tuk-tuk*. Kenceng. Sama kayak di USG.
“Alesha Adijaya,” bisiknya ke plafon. “Oke. Deal. Kalau cewek, nama lo yang menang. Kalau cowok, nama gue.”
“Curang. Lo kan maunya cowok.”
“Enggak,” katanya. Cepet. “Gue maunya... yang keluar dari lo. Cewek cowok, gue sujud syukur.”
Aku diem. d**a anget.
Di luar, Jakarta panas.
Di sini, di lantai 89, AC 16 derajat, tapi hati 40 derajat.
---
Jam 3 sore.
Aku tidur siang. Ngidam bikin gampang capek.
Kebangun karena Arsen goyangin bahuku.
“Dek. Bangun. Ada paket.”
“Paket apa?” Mata masih merem.
“Buat... bayi.”
Aku langsung duduk.
Dia nuntun ke ruang tamu lantai 89.
Di situ, ada box gede. Bungkusnya pink. Pita emas. Mewah.
“Dari siapa?” tanyaku. Curiga.
“Nggak ada nama.” Arsen udah mode waspada. “Gue suruh Febri scan. Nggak ada bom, nggak ada racun. Aman.”
Aku deketin. Buka pita.
Di dalem... boneka.
Teddy bear. Gede. Seukuran bayi.
Persis kayak yang di kamar dulu. Yang isinya mic.
Darahku dingin.
Arsen juga sadar. Dia narik aku ke belakang dia.
Aku ambil bonekanya. Berat.
Di dadanya, ada kertas. Ditusuk jarum pentul.
Aku cabut.
Tulisannya dari guntingan majalah lagi.
*“ARSHYA ATAU ALESHA? *
*PILIH NAMA BATU NISAN. *
*HARI KE-300 TINGGAL 43 HARI. *
*- MAMA”*
Tangan Arsen ngeremes boneka itu.
KREK.
Dari mata boneka, keluar cairan merah. Kental. Bau besi.
Darah.
Aku mundur. Jatoh ke sofa. Mual.
Arsen banting boneka itu. “FEBRI!”
Febri lari masuk sama 6 bodyguard.
“Amankan lantai ini! Cek CCTV! Dari mana paket ini lolos?!” Arsen teriak. Urat lehernya keluar.
Febri pucet. “Tuan, CCTV lobby... blank 2 menit. Kayak di-hack.”
Lestari.
Dia kabur.
Aku cek HP. Bener. Breaking news.
*“Lestari Adijaya Kabur dari Tahanan Polda. Diduga Dibantu Orang Dalam.”*
43 hari lagi. Hari ke-300.
Dia nggak main-main.
Arsen jongkok depanku. Pegang tanganku. Dingin. Tapi tangannya panas.
“Dek,” katanya. Pelan. “Lo denger gue ya?”
Aku angguk. Gemeter.
“Mulai malam ini, kita nggak tidur di sini.”
“Terus di mana?”
“Bunker.”
Aku kaget. “Bunker?”
“Di bawah Adijaya Tower. Lantai -10. Tahan bom, tahan peluru, sinyal mati. Cuma gue yang bisa akses.” Matanya tajam. “Lo sama anak kita, nggak keluar sampe Lestari mati.”
Aku mau nolak. Pengap.
Tapi liat boneka darah itu, liat namaku dipotong-potong...
Aku angguk.
---
Lantai -10. Bunker.
Nggak kayak di film. Nggak gelap.
Isinya apartemen lengkap. 3 kamar, dapur, ruang dokter, bahkan taman sintetis.
Cuma... nggak ada jendela. Nggak ada langit.
Arsen masukin kode. 9 digit. Sidik jari. Retina. Suara.
*“Welcome, Mr. Adijaya. Mrs. Adijaya. Baby Adijaya.”*
Suara AI.
Arsen diem. Nengok ke aku.
Baby Adijaya.
Baru kali ini kedengeran nyata.
Dia narik aku. Peluk. Di tengah bunker.
“Maaf,” bisiknya. “Gue janji rumah. Malah penjara lagi.”
Aku peluk balik. “Ini rumah. Kalau ada lo.”
Dia lepas pelukan. Senyum. Tipis. “Masih mau nama Arsya?”
Aku angguk. “Atau Alesha.”
Dia kecup keningku. “Besok gue beli pabrik teddy bear. Biar gue bisa bakar semua yang ada di dunia.”
Aku ketawa. Di bunker.
---
Hari ke-43 sebelum hari ke-300.
Rutinitas baru.
Jam 6 pagi, Arsen video call meeting dari bunker.
Jam 9, dia masak. Menu bumil. Nggak gosong lagi. Dia les privat chef.
Jam 12, dia temenin aku yoga. Ikutan. Pake kaos, celana training. Ngeplank bareng. Ngos-ngosan.
Jam 3, dia bacain buku. Ke perutku.
Bukunya? *Laporan Keuangan Q3*.
“Dia harus pinter,” alasan Arsen. “Biar nggak dikibulin kayak Papanya dulu.”
Aku ngakak. “Dia baru 12 minggu, Mas.”
Mas.
Dia nengok. Senyum. “Ulangin.”
“Mas.”
Dia narik aku. Dudukin di pahanya. “Sekali lagi.”
“Mas, Mas, Mas.”
Dia cium bibirku. Nggak nafsu. Sayang. Kayak doa.
---
Jam 11 malem.
Aku kebangun. Laper. Lagi.
Ngidam bakso. Kuah pedes. Jam segini.
Aku nggak mau bangunin Arsen. Dia baru tidur jam 10. Lembur 3 hari.
Aku nyelinap ke dapur bunker.
Buka kulkas. Nggak ada bakso.
Aku WA Febri: *Ada tukang bakso yang bisa ke bunker?*
Dibales: *Bu... ini lantai -10...*
Aku sedih. Balik kamar.
Lampu nyala.
Arsen duduk di ranjang. Pake hoodie. Bawa mangkok.
Asepnya ngepul.
Bakso. Kuah pedes. Tetelan.
Aku bengong. “Dari mana?”
Dia nyengir. Ngantuk. “Gue masak. Dari jam 9. YouTube. Katakuri. Katanya bumil ngidam harus diturutin biar anaknya nggak ngileran.”
Aku duduk. Makan. Nangis.
“Kenapa?” Dia panik. “Keasinan? Pedes?”
Aku geleng. “Enak. Enak banget, Mas.”
Dia hela napas. Lega. Duduk di lantai, nyender ranjang. Nontonin aku makan.
“Mas,” panggilku. Mulut penuh.
“Hm.”
“Kalau... kalau nanti Lestari beneran dateng, terus...”
“Jangan,” potong dia. “Nggak ada ‘kalau’. Dia nggak bakal nyentuh lo. Nggak bakal nyentuh anak kita.”
“Tapi—”
Dia naik ke ranjang. Narik aku. Mangkuk bakso dipindah.
Dia peluk dari belakang. Dagu di bahuku. Tangan di perutku.
“Naura,” bisiknya. “Hari ke-300 itu hari dia mati. Bukan kita. Gue janji.”
“Janji iblis?”
“Janji Papa.”
Aku diem. Makan bakso. Di pelukan dia. Di bunker.
Di luar, Lestari mungkin ngitung hari.
Di sini, Arsen ngitung tendangan bayi.
“Dek,” bisiknya tiba-tiba.
“Apa?”
“Tadi... dia nendang.”
Aku kaget. Taro mangkok. Pegang perut.
Iya. Kecil banget. Kayak kupu-kupu. *Tuk.*
Kami diem. Ngerasain.
Arsen ketawa. Pelan. Terus air mata netes ke bahuku.
“Arsya,” bisiknya. “Papa denger. Tendang lagi, Jagoan.”
*Tuk.*
Aku ketawa. Nangis.
Di bunker lantai -10, tanpa jendela, tanpa langit.
Tapi lengkap.
Ada aku. Ada Mas. Ada Arsya atau Alesha.
Nama untuk iblis kecil... yang ternyata malaikat kita.
Dan 43 hari lagi, kita buktiin...
Nama itu lebih kuat dari darah.
---
**END BAB 14**
Lanjut **Bab 15: Hari Ke-300, Hari Lahir**? Di situ Lestari nyerang bunker, Naura mules mau lahiran, Arsen milih antara lawan Mamanya atau nolongin Naura melahirkan di dalam bunker.