“Papa pulang.”
Dua kata itu ngalahin vonis bebas dari Hakim.
Arsen masih meluk aku di lantai ruang sidang. Tangannya di perutku. Badannya gemeter.
Wartawan fotoin. Juri senyum. Lestari diseret keluar sambil teriak, “Ini belum selesai! Dia anak haram! Kalian semua bakal nyesel!”
Nggak ada yang denger.
Yang ada cuma suara Arsen, bisik di perutku: “Maaf ya, Nak. Papa telat.”
Aku narik dia berdiri. “Udah. Malu diliatin orang.”
Dia ngelap muka. Masih merah. “Biarin. Sekali-sekali iblis nangis.”
Febri nyamperin, “Tuan, Bu, kita harus ke kantor polisi dulu. Tanda tangan berkas.”
Arsen ngangguk. Tapi tangannya nggak lepas dari tanganku. Sekalipun.
Di mobil, dia duduk nyender. Matanya merem. Capek 3 hari di tahanan.
Aku selimutin jas ke badannya.
Dia buka mata. “Lo nggak takut?”
“Takut apa?”
“Nikah sama mantan napi. Bunting sama mantan pesakitan.”
Aku jewer kupingnya. “Mantan iblis. Sekarang calon bapak-bapak siaga.”
Dia ketawa. Pelan. Terus narik tanganku, cium punggung tanganku. Lama.
“Naura,” katanya. “Makasih udah pilih gue. Di depan semua orang.”
Aku diem. Soalnya... aku juga baru sadar.
Aku milih dia. Bukan kontrak. Bukan 1,2M.
Dia.
---
Sampai penthouse lantai 88, jam 9 malem.
Arsen langsung kunci pintu. 3 lapis. Trauma.
Terus dia nengok ke aku. “Lo laper? Mau makan apa? Apa aja gue beliin.”
“Indomie,” jawabku. Ngidam dadakan.
Dia kening berkerut. “Indomie? Bumil makan micin?”
“Biarin. Anak lo yang minta.”
Dia bengong. Terus senyum. “Oh. Jadi gitu caranya.”
Dia lepas jas, gulung lengan kemeja. “Tunggu.”
Dia ke dapur.
Aku ngikutin. Bersandar di meja island.
Arsen Adijaya. CEO Adijaya Group. Nilai 200 triliun. Sekarang... rebus air.
“Lo bisa?” tanyaku.
Dia nengok. Datar. “Gue ngerakit perusahaan dari nol. Masak Indomie doang masa nggak bisa.”
5 menit kemudian, panci gosong.
Aku ngakak. Nggak bisa berhenti.
Dia buang panci ke wastafel. Muka merah. “Diem lo.”
Aku samperin. Peluk dari belakang. Dagu di punggungnya. “Sini gue ajarin.”
Dia diem. Kaku.
Soalnya... ini pertama kali aku peluk duluan tanpa dia maksa.
Dia muter badan. Natap aku.
“Naura,” katanya. Serius.
“Hm?”
“Jangan gitu lagi.”
“Gitu apa?”
“Peluk gue dari belakang. Senyum ke gue. Masak buat gue.” Napasnya berat. “Gue takut kebiasaan. Terus lo ambil lagi.”
Aku jingkrak. Gigit bibirnya. Sekilas.
“Udah nggak bisa diambil,” bisikku. “Udah ada sertifikatnya.” Aku tarik tangannya ke perutku. “Di sini.”
Arsen merem. Kayak nahan gempa.
Pas buka mata, dia nyalain kompor lagi.
“Ajarin,” katanya. Pelan. “Semua. Masak. Jadi bapak. Jadi... suami beneran.”
---
Jam 1 pagi.
Aku kebangun. Mual.
Lari ke toilet. Muntah.
Arsen bangun juga. Panik. Gedor pintu. “Naura? Lo kenapa?!”
“Ngidam,” jawabku. Lemes. “Pengen...”
“Pengen apa? Sebut. Gunung gue beliin.”
Aku buka pintu. Muka pucet. “Rujak. Jam segini.”
Dia bengong. “Rujak?”
“Yang bumbunya banyak. Mangga muda. Bengkoang. Kedondong. Cabe 10.”
Jam 1 pagi. Jakarta hujan.
Arsen diem 3 detik. Terus ambil HP.
“Febri. Bangunin. Suruh chef nyari rujak. 15 menit. Kalau nggak ada, gue beli kebunnya.”
Dia tutup telpon. Nengok ke aku. “Tidur lagi. Nanti gue bangunin.”
Aku mau protes. Tapi mual lagi.
---
Jam 1:20, dia bangunin.
Di meja makan, ada rujak. Piring gede. Lengkap.
Di sampingnya, Arsen. Masih pake kaos, celana tidur, rambut acak. Tapi matanya awas. Kayak bodyguard.
Aku duduk. Nyendok. Pedes. Asem. Seger.
“Mas,” kataku. Kelepasan.
Dia keselek ludah. “Mas?”
Aku salting. “Ke... kepedesan.”
Dia senyum. Tipis. Tapi nyampe mata.
Dia geser kursi. Duduk deket. Ngambil tisu, ngelap bibirku.
“Pelan-pelan,” katanya. “Anak gue nggak suka pedes, nanti dia nge-judo di dalem.”
Aku ketawa. “Anak lo kuat. Gen iblis.”
“Gen ibunya,” koreksi dia. “Degil. Tukang ngelawan.”
Kami diem. Cuma suara ujan sama aku ngunyah.
“Arsen,” panggilku.
“Hm.”
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
“Buat nggak tidur. Buat rujak. Buat... pulang.”
Dia ngambil mangga di piringku. Gigit. “Harusnya gue yang makasih. Lo kasih gue rumah.”
Aku mau nangis. Lagi. Hormon.
Dia narik kursiku. Peluk dari samping.
“Besok kita ke dokter,” katanya. “USG. Gue mau denger jantungnya.”
Aku angguk. Di pelukannya.
---
Jam 9 pagi, Adijaya Tower heboh.
Arsen masuk lobby gandeng aku. Nggak ada bodyguard. Nggak ada jarak 1 meter.
Tangannya di pinggangku. Sengaja. Biar semua liat.
Resepsionis bengong. Karyawan bisik-bisik.
“Pagi, Pak Arsen,” sapa satu direksi. Matanya ke perutku. “Selamat ya, Pak. Bu.”
Arsen diem. Terus: “Mulai hari ini, lantai 89 gue beli.”
“Lantai 89?” Direksi kaget. “Di atas penthouse Bapak?”
“Buat nursery,” jawab Arsen. Datar. Kayak beli permen. “Sekalian ruang main, ruang belajar, kolam bola. Anak gue nggak boleh main di lantai yang sama sama iblis kayak gue dulu.”
Aku nyubit pinggangnya. Pelan. “Lebay.”
Dia nggak ngerasa. “Febri, urus. 2 minggu jadi. Budget unlimited.”
Febri nyatet. Keringetan. “Siap, Tuan.”
Kami ke OBGYN. RS Bunda.
Di ruang USG, gelap.
Dokter senyum. “Mari kita liat bayinya ya, Bu, Pak.”
Gel dingin di perutku.
Arsen genggam tanganku. Kenceng. Lebih kenceng dari pas sidang.
Layar nyala.
Bintik putih. Kedip-kedip. Cepet.
“Denger Pak,” kata Dokter. Gedein volume.
*Tuk-tuk-tuk-tuk-tuk...*
160x per menit.
Arsen beku.
Matanya nggak lepas dari layar.
“Itu... anak gue?” suaranya pelan. Kayak takut kenceng, bayinya kaget.
Dokter ketawa. “Iya, Pak. Sehat. Aktif. Ini tangannya, ini kakinya.”
Arsen nelen ludah. Jakunnya naik-turun.
Tangannya yang genggam tanganku gemeter.
Pas keluar, dia diem. Sepanjang jalan ke parkiran.
Aku pikir kenapa.
Sampe masuk mobil, dia kunci pintu. Terus... nangis.
Nggak ada suara. Cuma air mata. Jatoh ke setir.
Aku panik. “Arsen? Kenapa? Ada yang salah?”
Dia geleng. Hapus air mata kasar. “Nggak.”
“Terus?”
Dia nengok. Matanya merah. “Gue baru percaya, Naura.”
“Percaya apa?”
“Percaya... gue beneran bakal jadi papa.” Dia ketawa. Sengau. “Gue kira gue dikutuk. Nggak pantes punya keluarga. Nggak pantes denger itu.”
Dia nunjuk ke perutku.
“Tuk-tuk-tuk itu... itu suara rumah, Naura. Rumah yang nggak pernah gue punya.”
Aku nangis juga. Akhirnya.
Dia narik aku. Peluk di mobil. Lama.
“Gue janji,” bisiknya. “Lantai 89 bakal jadi rumah paling aman sedunia. Nggak ada pisau. Nggak ada Mama. Nggak ada masa lalu. Cuma kita. Bertiga.”
---
2 minggu kemudian. Lantai 89 jadi.
Aku ngidam es krim jam 3 pagi.
Arsen lagi meeting Amerika. Video call.
Aku WA: *Pengen es krim paddle pop pelangi.*
Dia baca. Di layar, dia bilang ke klien: “Meeting ditunda 30 menit.”
Terus dia berdiri. Masih pake kemeja, dasi.
“Gue ke minimarket,” katanya ke layar.
Kliennya bengong. “Mr. Adijaya, ini deal 5 triliun...”
“Anak gue lebih mahal,” jawab Arsen. Matiin laptop.
10 menit, dia balik. Bawa 1 box paddle pop.
Rambut acak. Dasi miring. Tapi senyum.
“Ini,” katanya. Nyorongin. “Kalau kurang, gue beli pabriknya.”
Aku ngakak. Nangis. Hormone.
Dia duduk di lantai. Sandaran sofa. Narik aku ke dadanya.
Aku makan es krim. Dia mainin rambutku.
“Mas,” panggilku. Lagi. Sengaja.
Dia diem. Terus: “Iya, Dek.”
Dek.
Aku nengok. Dia senyum. Malu-malu.
Iblis. Jadi Mas.
“Mas,” kataku. “Kalau anak kita nanya, ‘Papa Mama ketemu gimana?’ kita jawab apa?”
Dia mikir. Lama.
Terus: “Papa beli Mama 1,2M. Tapi Mama yang beli hati Papa. Lunas. Seumur hidup.”
Aku nonjok dadanya. “Cheesy.”
Dia nangkap tanganku. Cium. “Tapi bener.”
Di atas, lantai 89, tukang masih pasang ayunan.
Di bawah, Jakarta masih kejam.
Tapi di sini, di pelukannya, dengan es krim meleleh di tangan, dengan “tuk-tuk-tuk” di perutku...
Ini rumah.
Beneran rumah.
Dan kontrak 365 hari?
Udah hangus.
Diganti kontrak baru.
Tanpa pasal. Tanpa deadline.
Cuma ada dia, aku, dan calon bos kecil yang hobi rujak jam 1 pagi.
---
**END BAB 13**
Lanjut **Bab 14: Nama Untuk Iblis Kecil**? Di situ mereka ribut kasih nama anak, Arsen mau nama “Bara” Naura mau “Arsya”, terus Lestari kabur dari penjara & kirim boneka darah ke lantai 89.