Jam 8 pagi. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Ruang sidang penuh. Wartawan, dewan direksi Adijaya Group, keluarga korban... Lestari.
Di kursi pesakitan, Arsen. Baju tahanan oren. Tangan diborgol. Rambut acak. Tapi punggungnya tegak. Dagunya naik.
Kayak dia yang ngadilin kita semua.
Aku duduk di kursi saksi. Tanganku dingin. Di depanku, Hakim, Jaksa, dan 12 orang juri.
Di sampingku, Febri. Pengacara Arsen. Bisik-bisik, “Bu Naura, ingat rencananya. Jangan terpancing. Fokus cabut laporan.”
Aku angguk. Tapi tanganku ngepal di bawah meja. Di saku blazer, ada hasil USG. Dari tadi malem.
6 minggu 4 hari.
Aku baru tau kemarin. Telat 2 minggu. Kirain stres. Ternyata...
Aku hamil. Anak Arsen.
Anak yang dibikin di malam dia demam. Malam aku rawat dia. Malam dia bilang “makasih”.
“Tok.”
Hakim ketuk palu. “Sidang kasus pidana nomor 214/Pid.B/2026 atas nama terdakwa Arsen Adijaya dibuka. Agenda: pembacaan dakwaan.”
Jaksa berdiri. Gendut. Botak. Senyumnya licik.
“Yang Mulia, terdakwa didakwa Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dan Pasal 335 tentang perbuatan tidak menyenangkan. Ancaman 5 tahun penjara. Barang bukti: rekaman CCTV, rekaman audio, kesaksian korban.”
Korban.
Dia nunjuk aku.
Semua kamera ke aku.
Jaksa jalan ke depanku. “Nyonya Naura Adijaya, benar Anda istri terdakwa?”
“Benar,” jawabku. Tenang.
“Benar terdakwa menyekap Anda di penthouse lantai 88 selama 7 hari tanpa akses komunikasi?”
Aku nengok ke Arsen. Dia natap aku. Nggak ngasih kode. Cuma natap. Kayak bilang: *Pilih. Lo bebas sekarang.*
Aku tarik napas.
“Tidak benar.”
Ruang sidang ribut.
Jaksa kaget. “Maksud Anda?”
“Saya tidak disekap,” kataku. Kenceng. Biar jelas. “Saya tinggal di sana atas kemauan saya. Karena saya... takut.”
“Takut pada terdakwa?” Jaksa mancing.
“Takut pada orang yang mau bunuh saya,” jawabku. Aku nengok ke Lestari. Dia duduk di kursi penonton, senyum. “Di luar sidang ini.”
Hakim ketuk palu. “Tenang.”
Jaksa ganti strategi. Dia putar video.
Layar besar nyala.
Isinya: Arsen nendang kursi. Arsen teriak “MAKANYA GUE YANG NGURUS!” Arsen ngurung aku di tangga darurat.
Video dipotong. Nggak ada bagian dia peluk aku. Nggak ada bagian dia bilang “jangan nangis”.
Jaksa senyum. “Ini tanggal 14 Juni 2026. 3 hari lalu. Apa Anda mau bilang ini cuma ‘rumah tangga biasa’, Nyonya?”
Aku gigit bibir.
Arsen di kursi pesakitan ngepal. Dia mau berdiri. Mau ngaku.
Jangan. Kalau dia ngaku, selesai.
Aku berdiri duluan.
“Yang Mulia,” kataku ke Hakim. “Boleh saya bicara?”
Hakim angguk. “Silakan, Saksi.”
Aku nengok ke juri. Ke wartawan. Ke Lestari.
“Video itu bener,” kataku. “Tapi nggak lengkap.”
Aku rogoh saku. Keluarin HP.
“Ini video asli. Durasi lengkap. Dari CCTV saya pribadi.” Bohong. Aku dapet dari Pak Darma tadi subuh.
Febri colok ke laptop. Play.
Layar ganti.
Video mulai dari awal. Arsen teriak, iya. Tapi habis itu...
*“Gue nggak suka, Naura. Gue nggak suka ada laki lain liat lo. Senyum ke lo. Sentuh tangan lo.”*
*“Terus kalo gue jatuh? Lo mau apa? Mau batalin kontrak? Mau pergi?”*
*“Gue nggak mau pergi. Tapi lo juga jangan main tarik-ulur. Kalo lo cemburu, bilang.”*
Terus... ciuman.
Ruang sidang hening.
Ciuman panjang. Pelukan. Kening nempel kening.
*“Nggak ada Pasal 9 lagi. Mulai sekarang, aturannya gue yang bikin.”*
Video habis.
Muka Jaksa merah. Muka Lestari pucet.
Aku nengok ke Hakim. “Yang Mulia, itu bukan penyekapan. Itu... suami istri berantem. Terus baikan. Seperti yang lain.”
Beberapa juri senyum. Ibu-ibu.
Hakim dehem. “Jaksa, ada tanggapan?”
Jaksa panik. Dia noel ke Lestari. Lestari ngangguk.
Jaksa keluarin map baru. “Yang Mulia, kami punya bukti baru. Sangat krusial. Ini bisa jelasin motif terdakwa kenapa posesif.”
Dia kasih ke Hakim.
Hakim baca. Alisnya naik. “Ini tes DNA?”
“Benar,” kata Jaksa. “Tes DNA antara terdakwa dengan almarhum Tuan Adijaya Pratama. Hasilnya: 0% kecocokan. Terdakwa BUKAN anak kandung.”
Ruang sidang meledak.
“DIAM!” Hakim ketuk palu 5x.
Jaksa senyum menang. “Motifnya jelas, Yang Mulia. Terdakwa takut warisan jatuh ke Nyonya Lestari. Jadi dia nikahin Nyonya Naura, dapat ahli waris, terus... mungkin berencana membunuh Nyonya Naura biar harta tetap di dia.”
Aku berdiri. “ITU FITNAH!”
“Duduk, Saksi!” bentak Hakim.
Aku duduk. Tanganku gemeter.
Arsen dari tadi diem. Sekarang dia ketawa. Pelan. Terus kenceng.
Semua nengok.
“Akhirnya,” kata Arsen. Dia natap Lestari. “20 tahun Mama simpen kartu ini. Baru dikeluarin sekarang.”
“DIAM TERDAKWA!” Hakim ketuk palu.
Arsen berdiri. Borgolnya berisik. “Yang Mulia, saya mau ngaku.”
Febri kaget. “Tuan, jangan!”
“Udah,” potong Arsen. Dia natap aku. “Gue capek. Biarin gue masuk. Asal dia aman.”
Dia nengok ke Hakim. “Saya bukan anak kandung. Saya anak pungut. Mama saya bunuh Papa saya. Saya nikah kontrak buat lindungi istri saya. Dan iya, saya posesif. Karena saya cinta dia. Dah. Vonis.”
“ARSEN!” Aku teriak. Berdiri. “JANGAN!”
Hakim ketuk palu. “Sidang diskors 15 menit. Terdakwa, Penasihat Hukum, ke ruang mediasi.”
---
Ruang mediasi.
Cuma aku, Arsen, Febri.
Aku nampar Arsen. Sekali. Kenceng.
“Lo gila?! Lo mau mati?!”
Arsen megang pipi. Senyum. “Sakit.”
“Gue serius!” Aku nangis. “Lo nggak boleh ngaku!”
“Terus mau gimana?” Dia pegang bahuku. “Mama udah menang. DNA palsu atau asli, nggak penting. Dewan direksi udah di pihak dia. Gue masuk, lo bebas. Lo bisa—”
“Gue hamil.”
Plong.
Aku ngomong. Akhirnya.
Arsen diem. Bengong. Kayak nggak denger.
“Apa?”
Aku rogoh blazer. Keluarin kertas USG. Kasih ke dia.
Tangannya gemeter pas terima. Matanya scan kertas itu.
*GS: 6w4d. DJJ: 152x/menit. Kehamilan intrauterin tunggal, hidup.*
Arsen angkat kepala. Natap aku.
“Punya... gue?” Suaranya kecil. Kayak anak hilang.
Aku angguk. Nangis. “Punya lo, Tuan Iblis. Makanya lo nggak boleh mati.”
Kertas USG jatoh. Arsen narik aku. Peluk. Kenceng. Gemeter.
Borgolnya nyakitin punggungku. Tapi aku diem.
“Kenapa... kenapa nggak bilang dari awal?” bisiknya di kupingku.
“Baru tau kemarin,” bisikku balik. “Tadi malem mau bilang, tapi keburu lo ditangkep.”
Dia lepas pelukan. Pegang wajahku. Jempolnya hapus air mataku.
“Naura,” katanya. “Lo denger ya. Apapun yang terjadi di sidang nanti, lo keluar. Lo jaga anak kita. Janji?”
Aku mau ngangguk. Tapi...
Pintu kebuka.
Jaksa masuk. Sama Lestari.
Wajah Lestari senyum. Menang.
“Waktunya habis,” kata Jaksa. “Silakan masuk, Nyonya. Atau... kami lanjut tanpa kesaksian Anda. Dan suami Anda divonis 20 tahun.”
Ancamannya jelas.
Aku nengok ke Arsen. Dia geleng. *Jangan.*
Aku nengok ke perutku. Rata. Tapi ada nyawa.
Aku nengok ke Lestari.
Terus aku senyum.
“Yuk,” kataku.
---
Sidang lanjut.
Semua nunggu.
Hakim: “Saksi Naura Adijaya, apa Anda mau cabut laporan?”
Aku berdiri. Pegang podium saksi.
Di kantongku, USG. Di kepalaku, hari ke-300. Di depanku, Arsen.
Aku tarik napas.
“Saya cabut laporan,” kataku. Jelas.
Ruang sidang ribut.
Lestari senyum.
Tapi aku belum selesai.
“Karena,” lanjutku. Kenceng. “Arsen Adijaya nggak pernah nyakitin saya. Dia lindungi saya. Dari orang yang bunuh ayah saya. Dari orang yang mau bunuh saya 3 hari lalu.”
Aku nengok ke Lestari. Tunjuk.
“Dia. Nyonya Lestari Adijaya. Dia yang sabotase rem mobil ayah saya 2 tahun lalu. Dia yang kirim pembunuh ke kamar saya. Dan dia yang bikin tes DNA palsu!”
“PERINGATAN SAKSI!” Hakim ketuk palu.
“Saya punya bukti!” Aku keluarin HP. “Ini rekaman Pak Darma. Pengakuan. Dia disuruh Nyonya Lestari buat mata-mata. Dan ini...”
Aku keluarin kertas USG. Angkat tinggi-tinggi.
“Ini bukti saya hamil. 6 minggu. Anak Arsen Adijaya.”
Ruang sidang mati.
“Jadi motif Jaksa tadi gugur,” kataku. Nangis. Tapi senyum. “Karena Arsen nggak perlu bunuh saya buat warisan. Dia udah punya ahli waris. Di sini.” Tunjuk perut. “Anak dia. Cucu Papa Pratama.”
Aku nengok ke Arsen.
Dia nangis. Di kursi pesakitan. Iblis nangis.
Hakim dehem. “Jaksa, tanggapan?”
Jaksa pucet. Liat ke Lestari. Lestari udah berdiri. Mau kabur.
Polisi langsung cegat.
“Yang Mulia,” kataku terakhir. “Satu hal lagi. Kontrak kami memang 365 hari. Tapi hari ini hari ke-301.”
Aku nengok ke Arsen. Senyum.
“Dan saya perpanjang. Seumur hidup.”
Hakim ketuk palu.
“Karena saksi korban cabut laporan, dan ada bukti baru yang memberatkan pihak lain, sidang terdakwa Arsen Adijaya DITUNDA. Nyonya Lestari Adijaya, Anda kami tahan untuk pemeriksaan lebih lanjut.”
Ruang sidang chaos.
Borgol Arsen dibuka.
Dia lari ke aku.
Di depan Hakim, di depan juri, di depan wartawan.
Dia peluk aku. Kenceng. Jatuh ke lantai. Lututnya.
Tangannya di perutku.
“Hai, Nak,” bisiknya. Nangis. “Papa pulang.”
Dan aku tau...
365 hari udah lewat.
Tapi miliknya... baru mulai.
---
**END BAB 12**
Lanjut **Bab 13: Lantai 89, Rumah**? Di situ Arsen beli lantai 89 khusus buat nursery + Naura ngidam aneh dan Arsen masak tengah malem pake dasi.