“Anda ditahan atas tuduhan percobaan pembunuhan.”
Kalimat itu muter di kepala kayak kaset rusak.
Arsen diborgol. Depan mukaku.
Dia nggak ngelawan. Nggak ngomong. Cuma senyum ke Lestari.
“Akhirnya, Ma. Mama menang.”
Lestari ketawa. Pelan. Menang. “Dari awal, Sayang. Kamu pikir kamu bisa ngelawan Mama? Kamu cuma anak kecil yang Mama pungut dari comberan.”
“MAMA!” Aku teriak. Nyoba maju.
Satu polisi nahan aku. “Ibu tenang. Ibu korban. Kami lindungi Ibu.”
Korban?
Aku nengok ke Arsen. Dia udah digiring. Lewat sampingku.
Dia berhenti. Sekejap.
Natap aku.
Nggak ada marah. Nggak ada benci. Cuma... lega?
“Jangan nangis,” bisiknya. Cuma aku yang denger. “65 hari lagi. Inget?”
Terus dia diseret. Masuk lift. Pintu nutup.
Lestari jalan nyamperin. Pake dress mahal, senyum puas.
“Sayang sekali ya, Naura,” katanya. Elus pipiku. Aku tepuk tangannya. “Baru juga jadi Nyonya Adijaya, udah janda. Tapi tenang. Mama punya solusi.”
Dia nyentik jari.
Dari belakang, muncul laki-laki. Umur 35-an. Jas rapi. Muka datar. Mata mati.
“Kenalin, Tristan. Kepercayaan Mama. Dia bisa bebasin Arsen... asal kamu mau nikah sama dia. Hari ini.”
Darahku dingin.
Ini jebakan. Dari awal.
CCTV di teddy bear. Rekaman yang dipotong. Pisau. Semua buat bikin Arsen keliatan nyekap aku.
“Gue nggak mau,” kataku.
Lestari senyum. “Oh ya? Yakin? Karena kalau kamu nolak, rekaman full bakal dikirim ke jaksa. Arsen divonis 20 tahun. Atau... hukuman mati.”
Dia sodorin HP. Video.
Isinya: Arsen nendang kursi. Arsen teriak “MAKANYA GUE YANG NGURUS!” sambil ngurung aku di tangga darurat.
Dipolishing. Dipotong. Kayak dia mau bunuh aku.
Aku gemeter.
“Trial-nya minggu depan,” Lestari lanjut. “Kamu punya waktu 7 hari buat mutusin. Nyawa Arsen, atau harga diri kamu.”
Dia pergi. Tristan tetap di situ. Kayak patung.
“Pintu penthouse nggak dikunci lagi,” kata Tristan. Suaranya datar. “Tapi ke mana pun Nyonya pergi, saya ikut. Demi keamanan.”
Penjara baru.
---
Malam pertama tanpa Arsen.
Penthouse 88 lantai berasa neraka beneran.
Sepi. Dingin. Nggak ada suara dehem dari ruang kontrol. Nggak ada bau woody.
Aku tidur di lantai. Di bekas dia peluk aku.
HP-ku dibalikin. “Biar gampang hubungi saya,” kata Tristan.
Bodoh.
Aku langsung telpon Febri. Pengacara Arsen.
“Bu Naura! Syukur! Saya dari tadi mau hubungi—”
“Bebasin Arsen,” potongku. “Berapa pun bayarnya.”
Febri diem. “Bu... buktinya kuat. CCTV, mic, kesaksian pelayan. Nyonya Besar main cantik. Kecuali...”
“Kecuali apa?”
“Kecuali korban cabut laporan. Dan kasih kesaksian bahwa itu cuma salah paham. Rumah tangga.”
Aku tutup mata.
Itu maunya Lestari. Biar aku tunduk.
“Kalo gue cabut, Arsen bebas?”
“87% iya, Bu. Jaksa nggak bisa lanjut tanpa korban.”
Aku nengok. Tristan berdiri di pojok. Ngawasin.
“Kasih gue sehari,” kataku. Tutup telpon.
---
Besok pagi, aku ke Polda.
Arsen di ruang tahanan. Pake baju oren. Tangan diborgol.
Tapi dia duduk tegak. Kayak masih CEO.
Aku duduk di depannya. Kaca pembatas.
Dia liat aku. Senyum. “Ngapain ke sini? Kan udah gue bilang jangan nangis.”
Bangsat. Masih sempet becanda.
“Lo g****k ya?” Aku nampar kaca. “Kenapa nggak ngelawan? Kenapa nggak bilang itu jebakan?”
“Ngapain?” Dia angkat bahu. “Mama udah rencanain ini 20 tahun. Gue capek. Biarin dia menang. Asal lo aman.”
“Aman dari mana?!” Aku teriak. Polisi nengok. “Dia suruh gue nikah sama Tristan! Kalo nggak, lo mati!”
Senyum Arsen hilang.
Dia nengok ke belakangku. Ke Tristan yang berdiri jaga.
Oh. Dia baru tau.
Rahang Arsen keras. Buku jarinya putih.
“Jangan mau,” katanya. Pelan. Tapi perintah. “Denger, Naura. Jangan mau. Gue busuk di penjara juga nggak apa-apa. Tapi lo jangan sama dia. Dia...”
“Dia apa?”
“Dia yang bunuh Om Karno.”
Dunia berhenti.
Tristan. Yang bunuh Ayah.
Aku nengok ke Tristan. Dia datar. Nggak bantah.
Arsen napas. “Mama yang nyuruh. Tristan yang eksekusi. Rem blong. Dia ahli. Makanya Mama percaya dia.”
Pantes. Pantes Lestari yakin aku bakal nurut.
“Cabut laporan lo,” lanjut Arsen. “Tapi jangan nikah sama dia. Kabur. Pergi ke luar negeri. Ganti nama. Gue udah siapin rekening di Swiss. Password-nya tanggal lahir lo.”
Dia udah rencanain. Kalau dia kalah.
Air mataku netes. Deres.
“Gue nggak mau bebas kalo lo mati,” bisikku.
“Lo harus,” katanya. “65 hari lagi, Naura. Lo janji.”
Dia berdiri. Dipanggil sipir.
Sebelum pergi, dia nempel tangan ke kaca.
Aku nempel balik.
“Gue nggak janji,” bisikku.
Dia senyum. Terakhir. “Makanya gue cinta lo.”
Terus dia diseret.
---
Sore, aku pulang.
Di penthouse, Lestari udah nunggu. Sama penghulu. Sama surat nikah.
“Waktunya habis, Sayang,” katanya. “Tanda tangan. Atau besok anak Mama dipindah ke Nusakambangan.”
Tristan berdiri di samping. Bawa kotak cincin.
Aku liat cincin itu. Liat Lestari. Liat foto kontrak 365 hari di meja.
Di situ ada Pasal 9.
*“Pihak Kedua wajib tinggal satu atap, satu kamar, dan melayani kebutuhan Pihak Pertama selama 365 hari berturut-turut. Tanpa kecuali.”*
Aku ambil pulpen.
Lestari senyum menang.
Aku senyum balik.
Terus... aku sobek surat nikah itu.
Lestari kaget. “Kamu—”
“Pasal 9, Nyonya Besar,” kataku. Aku angkat foto kontrak. “Saya masih terikat kontrak. 365 hari. Sama Arsen Adijaya.”
Aku nengok ke Tristan.
“Dan setau saya, poliandri itu ilegal.”
Aku jalan ke meja. Ambil HP. Telpon.
“Febri? Cabut laporan. Tapi gue punya syarat.”
“Apa, Bu?”
“Pindah trial-nya. Besok. Gue mau jadi saksi. Gue mau bilang...” Aku natap Lestari. “...kalau Arsen Adijaya adalah suami saya. Dan saya cinta dia. Jadi nggak mungkin dia bunuh saya.”
Lestari berdiri. “Kamu gila! Dia bakal mati!”
“Enggak,” kataku. “Kalau dia mati, saya mati. Kontraknya gitu. Seumur hidup.”
Aku tutup telpon.
Lestari napas ngos-ngosan. “Kamu... kamu sama kayak ibu kamu! Suka bela sampah!”
Aku maju. Sekali.
PLAK.
Aku nampar dia. Pertama kali. Puas.
“Itu,” kataku. “Untuk Ayah saya. Titip salam ke neraka.”
Bodyguard Lestari mau maju.
Tristan nahan.
Dia natap aku. Lama.
Terus... dia ngangguk. Sekali.
Kayak hormat.
Lestari diseret keluar sama Tristan.
Penthouse sepi lagi.
Aku jatuh ke lantai. Nangis. Kenceng.
Karena besok, aku harus selametin iblis yang aku cinta.
Dan caranya... cuma satu.
Ngaku di depan hakim, di depan dunia.
Kalau 365 hari ini... aku udah jadi miliknya.
Seutuhnya.
---
**END BAB 11**
Lanjut **Bab 12: Jaksa, Saksi, Istri**? Di situ Naura di sidang, Lestari bawa bukti baru: tes DNA palsu bilang Arsen bukan anak kandung, tapi Naura buka kartu AS: dia hamil anak Arsen.