Dua bulan setelah Andreas keluar dari rumah sakit, hidup mereka memperoleh pola lebih stabil. Arini bekerja tiga hari seminggu, mengikuti konseling, dan bertemu Andreas sekali seminggu. Andreas menaati jadwal obat serta menyerahkan banyak tugas kantor.
Surat-surat lama baru dibaca sampai nomor dua puluh. Arini tidak lagi merasa harus mengejar angka seratus satu.
Pada sebuah pertemuan di Rumah Cinta, Andreas menunjukkan rancangan cabang perpustakaan baru. Tim arsitek menambahkan ruang komunitas berdasarkan masukan Arini, tetapi tidak menggunakan namanya tanpa izin.
'Aku ingin ruangnya bisa dipakai kelompok membaca warga,' kata Arini.
'Tim akan mengadakan forum dengan calon pengguna sebelum desain selesai.'
'Bagus.'
Andreas kemudian menyerahkan sebuah kontrak konsultan. Arini diminta memberi masukan program selama enam bulan dengan honor yang wajar.
'Aku tidak mau dibayar hanya karena pernah menggambar perpustakaan saat sekolah.'
'Pekerjaannya jelas: forum, evaluasi koleksi, dan pelatihan relawan. Kamu boleh menolak atau meminta perubahan.'
Arini membawa kontrak pulang dan memeriksanya bersama pendamping. Ia menerima setelah klausul menyatakan hubungan pribadinya dengan Andreas tidak memengaruhi penilaian atau pembayaran.
Keputusan itu membuat beberapa media kembali berspekulasi. Mereka menyebut Arini akhirnya menikmati kekayaan lelaki yang menunggunya.
Arini mengeluarkan pernyataan melalui program, bukan lewat Andreas. Ia menjelaskan dirinya bekerja berdasarkan kontrak, sementara riwayat pribadi tidak relevan terhadap hasil pekerjaan.
Andreas tidak menambahkan pembelaan kecuali diminta. Ia mulai mampu melihat Arini menghadapi dunia dengan suaranya sendiri.
Wiranto membaca berita dan menawarkan tim komunikasi. Arini menolak dengan ucapan terima kasih. Hubungan mereka kini cukup tenang untuk menerima penolakan tanpa pertengkaran.
Allea pun menyelesaikan masa evaluasi sebagai koordinator. Ratna memberikan penilaian baik dengan beberapa catatan mengenai kebiasaan mengambil terlalu banyak tugas.
'Delegasikan,' katanya. 'Menjadi pemimpin bukan berarti mengerjakan semuanya.'
Allea menunjuk dua relawan senior menangani sekolah baru. Ia belajar dari kesalahan Andreas bahwa niat memastikan kualitas dapat berubah menjadi pemusatan kendali.
Hubungannya dengan Vino tetap berjalan pelan. Mereka sepakat tidak menyembunyikan hubungan dari Ratna, tetapi juga tidak mengumumkannya kepada seluruh kantor.
Pada akhir pekan, Arini mengadakan makan sederhana. Andreas, Wiranto, Bima, Allea, dan Vino hadir. Suasana awal terasa seperti rapat orang-orang yang memiliki terlalu banyak sejarah.
Wiranto dan Andreas saling menyapa kaku. Arini menetapkan satu aturan sebelum makan.
'Tidak ada pembicaraan tentang siapa paling pantas menyesal.'
Bima tertawa. 'Berarti sebagian besar bahan obrolan mereka hilang.'
Makanan membuat suasana mencair. Andreas memuji program Allea tanpa mengambil kredit perusahaan. Wiranto bertanya kepada Vino tentang pekerjaannya tanpa gaya menginterogasi calon pasangan.
'Kami belum sejauh itu,' kata Allea.
'Aku hanya bertanya soal sistem data,' jawab Wiranto cepat.
Setelah makan, semua orang membantu membereskan. Andreas mencuci piring lebih baik daripada Wiranto karena telah berlatih selama masa pemulihan. Keduanya bahkan berdebat kecil tentang sabun tanpa membawa Arini sebagai pusat persaingan.
Ketika tamu lain pulang, Andreas tinggal di teras bersama Arini.
'Dulu aku membayangkan menemukanmu akan langsung menyelesaikan hidupku,' katanya.
'Ternyata?'
'Menemukanmu justru memulai banyak pekerjaan.'
'Menyesal?'
'Tidak. Aku hanya akhirnya mengerti cinta bukan hadiah bagi orang yang sabar menunggu.'
Arini memandang bunga melati yang mulai tumbuh. 'Lalu apa cinta menurutmu sekarang?'
'Datang ketika diundang, pergi ketika diminta, dan tetap menjalani hidup saat sedang menunggu.'
Arini tersenyum. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh wajah Andreas.
'Aku mencintaimu, Gilang. Bukan seperti dulu dan bukan karena surat-surat itu. Aku mencintai lelaki yang sedang berusaha hidup di hadapanku sekarang.'
Andreas menutup mata. Air mata mengalir tanpa dapat ditahan.
'Aku mencintaimu, Arini.'
Ia tidak langsung mencium. Andreas bertanya, dan Arini mengizinkan satu ciuman singkat. Setelahnya mereka tetap duduk di kursi masing-masing.
Tidak ada lamaran atau janji hidup bersama. Pengakuan cinta itu bukan garis akhir. Ia hanya jawaban jujur setelah puluhan tahun surat berjalan satu arah.
Malam tersebut, Andreas menulis surat baru dengan nomor satu, bukan seratus dua. Ia menamai rangkaian baru itu Surat untuk Arini yang Menjawab.
Namun sebelum menyimpannya, ia bertanya melalui pesan apakah Arini ingin menerima surat tersebut.
Arini membalas: Besok. Malam ini cukup kita simpan untuk diri sendiri.
Andreas menutup buku dan mematikan lampu. Untuk pertama kalinya, ia tidak membutuhkan tulisan agar sebuah momen terasa nyata.